Labirin Ingatan di Rumah Kamakura

Tethy Ezokanzo
Chapter #14

Loker No 42

Area loker penyimpanan barang di Stasiun Kamakura terletak di sebuah lorong sempit dan melengkung yang tersembunyi tepat di dekat akses Pintu Keluar Barat. Sudut ini relatif sepi dan terisolasi dibandingkan dengan area pintu keluar utama timur yang selalu disesaki oleh riuh rendah turis yang hendak menuju ke arah kuil-kuil besar. Cahaya lampu neon batangan di langit-langit lorong itu berkedip-kedip tidak stabil, mengeluarkan suara dengung getaran listrik yang konstan dan mengganggu batin, menambah tebal atmosfer ketegangan yang merayap di antara mereka. Barisan kabinet loker besi berwarna abu-abu kusam berdiri berjajar kaku layaknya deretan nisan logam; beberapa di antaranya tampak sudah berkarat pekat di bagian bawah akibat paparan kelembapan udara pesisir Kamakura yang terkenal abadi dan korosif.

Emiko mengeluarkan sebilah kunci besi tua yang ia temukan dari dalam saku mantelnya. Permukaan logam kuno itu terasa luar biasa dingin saat bersentuhan dengan kulit telapak tangannya. Sepasang matanya bergerak teliti, menatap deretan angka yang terukir kaku pada permukaan pintu-pintu besi di hadapannya. Angka 40, 41...

Lalu, pandangannya terkunci di sana. Sebuah kotak logam dengan nomor 42.

Loker itu berada tepat di baris bagian tengah, posisinya tegak lurus di depan dada Emiko. Lapisan cat abu-abunya sudah sedikit terkelupas di beberapa bagian, dan ada sebuah stiker kecil bergambar maskot kereta trem Enoden yang warnanya sudah memudar drastis tertempel di sudut kanan bawah, sebuah stiker mainan lama yang seketika membangkitkan memori Emiko bahwa ia pernah memiliki benda serupa saat masih kanak-kanak dahulu.

"Ayah... Ayah ternyata sengaja memilih tempat ini," bisik Emiko lirih. "Sebuah titik yang paling biasa dan kasat mata, di tengah-tengah jalur perlintasan ribuan manusia yang berlalu-lalang setiap harinya."

Michiru berdiri diam sejenak di belakang bahu anaknya, suara tarikan napas parah-bayanya terdengar berat dan lelah. "Mendiang ayahmu selalu bilang kepadaku dulu, bahwa tempat penyimpanan rahasia terbaik di dunia adalah tempat yang sengaja dibiarkan terbuka di depan publik. Dia ingin kita menemukan kotak ini di saat kita sedang berada di titik hidup yang paling sibuk, paling lelah... atau di saat kita sedang berada di puncak keputusasaan yang paling dalam."

Emiko mengarahkan ujung kunci, memasukkannya ke dalam lubang silinder loker. Suara klik yang nyaring saat mekanisme besi itu berputar terasa bergaung sangat keras membelah kesunyian lorong stasiun. Ia menarik pintu besi yang terasa berat itu hingga terbuka, menimbulkan suara derit panjang yang memilukan di udara.

Di dalam ruang loker yang sempit dan berdebu itu, ternyata sama sekali tidak ada tumpukan lembaran uang yen atau dokumen obligasi berharga. Yang ada hanyalah sebuah kotak musik kayu sederhana yang permukaannya sudah kusam, serta sebuah buku album foto berukuran besar dengan sampul balutan kain biru tua. Di atas permukaan album tersebut, tergeletak sebuah perangkat pemutar kaset mini (walkman) model lawas berwarna perak dengan sebutir kaset pita yang sudah terpasang rapi di dalam kompartemennya.

Emiko mengulurkan tangan untuk mengambil buku album foto biru tua itu terlebih dahulu. Namun, baru saja lembaran halaman pertamanya dibuka, air mata Michiru langsung tumpah membanjiri pipinya tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.

Buku itu rupanya berisi dokumentasi rahasia yang dikumpulkan oleh Makoto semasa hidupnya. Selama tahun-tahun pernikahan mereka yang kaku, Makoto ternyata secara sembunyi-sembunyi selalu mengambil potret foto Michiru di saat wanita itu sedang berada dalam kondisi tidak waspada atau tidak mengenakan topeng porselennya. Ada foto Michiru yang tampak sedang tertidur pulas di atas kursi kayu sambil memeluk buku cerita bergambar milik Emiko. Ada pula foto candid Michiru yang sedang memperlihatkan senyuman tipis yang sangat tulus saat melihat kuncup bunga Ajisai mulai mekar di taman samping rumah mereka. Dan yang paling menyayat belahan hati Emiko, adalah sebuah foto yang menampilkan Michiru sedang memandangi tubuh Emiko kecil dari balik celah pintu dari kejauhan; sebuah tatapan yang dipenuhi oleh pancaran rasa rindu dan kasih sayang seorang ibu yang luar biasa dalam, sebuah sorot mata yang tidak pernah sekalipun Michiru tunjukkan secara langsung di depan anaknya.

Di setiap bagian bawah lembaran foto cetak tersebut, Makoto menuliskan sebaris catatan kaki kecil menggunakan pena tinta hitam:

Lihat selengkapnya