
Emiko sedang merapikan kembali susunan album foto biru tua itu ke dalam tas kerja kulitnya ketika ujung jemarinya tidak sengaja menyentuh sesuatu yang terasa ganjil. Di bagian sudut terdalam kompartemen loker nomor 43, tersembunyi jauh di balik tumpukan tebal dokumen klaim asuransi jiwa, ada sebuah benda berukuran kecil yang dibungkus menggunakan selembar kain beludru berwarna hitam pekat.
"Ada apa, Emiko? Apa lagi yang kau temukan di dalam sana?" tanya Michiru, nada suaranya masih terdengar serak akibat sisa tangisnya tadi.
Emiko mengulurkan tangan untuk meraih benda itu. Terasa berat dan padat. Saat ia membuka lipatan kain beludru hitam pembungkusnya, sepasang mata mereka seketika tertuju pada sebuah objek berupa buku harian kecil bersampul lapisan logam tebal yang dilengkapi oleh sebuah gembok silinder kode angka di bagian pinggirnya. Namun, hal krusial yang seketika membuat detak jantung di dalam dada Emiko berdegup kencang bukanlah buku logam tersebut, melainkan selembar benda yang terselip kuat di balik sampulnya: sebuah kartu identitas pegawai galangan kapal resmi milik mendiang Makoto yang kondisinya tampak hangus terbakar di bagian tepian luar, namun... menampilkan sebuah lubang bulat kecil yang polanya tercetak sangat rapi tepat di bagian tengah kartu.
Lubang itu sama sekali bukan disebabkan oleh bekas jilatan api atau robekan kecelakaan kerja. Itu adalah sebuah lubang penetrasi peluru.
Emiko dan Michiru seketika saling berpandangan satu sama lain dalam ketidakpastian. Atmosfer udara di dalam lorong loker stasiun itu mendadak secara drastis berubah dari nuansa haru yang hangat menjadi sebuah kesunyian yang luar biasa mencekam dan dingin. Jika Makoto selama belasan tahun ini dilaporkan meninggal dunia murni akibat kecelakaan kerja jatuh dari ketinggian struktur galangan kapal, sesuai lembaran laporan resmi kepolisian yang selama ini mereka terima dan percayai, lalu mengapa bisa ada bekas tembakan peluru tajam yang bersarang tepat di kartu identitas pegawai yang selalu ia kantongi di area dada kirinya?
"Ibu... apakah... apakah mendiang Ayah semasa hidupnya diam-diam memiliki musuh berbahaya?" bisik Emiko dengan suara yang mendadak bergetar ketakutan.
Michiru menggelengkan kepalanya dengan gerakan cepat, raut wajahnya seketika kembali memucat pasi. "Tidak mungkin... Makoto sepanjang hidupnya dikenal sebagai pria baik yang dicintai oleh semua rekan kerjanya. Dia hanya bekerja sebagai seorang mandor lapangan di galangan kapal biasa. Dia tidak mungkin terlibat urusan..."
Kalimat penjelasan Michiru seketika terputus di udara. Di ujung lorong koridor loker yang sepi, suara ketukan langkah kaki dari sepasang sepatu pantofel kulit yang berat mendadak bergaung nyaring di atas permukaan lantai beton. Langkah kaki itu terdengar berjalan dengan ritme yang sangat mantap, berirama teratur, dan sengaja dibuat bersuara keras untuk meneror mental mereka.
Sesosok pria misterius dengan setelan jas hitam formal berpotongan panjang, sambil menggenggam sebilah payung hitam yang ujungnya masih meneteskan sisa air hujan, kini telah berdiri tegak memblokade jalan keluar lorong. Wajah pria itu tampak sepenuhnya tersembunyi di balik kepekatan bayangan topi fedora yang ia kenakan agak miring ke bawah, namun gurat senyuman tipisnya yang dingin terlihat jelas saat pendaran lampu neon di atas kepalanya kembali berkedip tidak stabil.
"Keluarga mendiang Akasaka memang diakui selalu memiliki bakat alami yang sangat pandai untuk menemukan kembali sesuatu yang seharusnya tetap tinggal hilang di dunia," suara pria asing itu terdengar berat, serak, dan memiliki aksen dialek Tokyo yang terasa sangat kaku sekaligus formal.