
Kereta Enoden bergoyang melintasi jalur sempit yang membelah pemukiman padat di Kamakura. Di luar jendela, lampu-lampu rumah penduduk tampak seperti titik-titik kuning yang pudar tertelan hujan yang kembali menderas. Di dalam gerbong yang hampir kosong itu, Emiko dan Michiru duduk berdampingan, namun kali ini bukan kesunyian yang dingin yang memisahkan mereka, melainkan ketegangan yang mencekam.
Emiko memeluk tasnya erat-erat. Di dalamnya, buku harian bersampul logam milik ayahnya terasa sangat berat. Ia bisa merasakan tatapan penumpang lain,seorang pria tua yang tertidur dan seorang pelajar yang asyik dengan ponselnya,namun ia merasa seolah-olah mata pria payung hitam di stasiun tadi masih mengawasinya dari setiap sudut bayangan.
"Ibu, tarik napas dalam-dalam. Ikuti aku," bisik Emiko, mencoba menstabilkan napas Michiru yang mulai pendek dan tersengal.
Michiru menatap tangannya yang gemetar di atas pangkuan. "Emiko, suara itu... suara laut itu kembali lagi. Tapi kali ini berbeda. Suaranya bukan memanggilku untuk pulang, tapi suara itu memperingatkanku untuk lari. Aku... aku melihat wajah Makoto di pantulan jendela, dia tampak sangat ketakutan."
Emiko menggenggam tangan ibunya, kali ini dengan kekuatan yang seolah ingin menyalurkan seluruh keberaniannya. "Itu bukan kegilaan, Bu. Itu insting. Apa yang dikatakan pria tadi tentang 'Proyek Shiodome'... Ibu harus mencoba mengingatnya. Sekecil apa pun."
Michiru memejamkan mata kuat-kuat. Kereta melambat saat memasuki Stasiun Hase. Pintu terbuka dengan desis yang membuat Emiko berjengit. Ia waspada, takut pria itu entah bagaimana sudah mendahului mereka. Tidak ada yang naik, hanya pria tua tadi yang turun dengan langkah gontai.
"Makoto... dia bekerja di galangan kapal bukan hanya untuk membangun kapal kargo," suara Michiru terdengar sangat tipis, hampir tenggelam oleh deru mesin kereta. "Beberapa bulan sebelum kecelakaan itu, dia sering pulang dengan aroma yang aneh. Bukan aroma laut atau solar, tapi aroma zat kimia yang sangat tajam... aroma yang sama dengan yang ada di klinik Ren Sato hari ini."
Emiko mengerutkan kening. Kantor agensinya di Shiodome berada di sebuah distrik yang dibangun di atas lahan reklamasi yang dulunya merupakan kawasan industri berat. "Agensiku sedang mengerjakan kampanye untuk perusahaan farmasi besar, Luminous Corp, yang memiliki pusat riset di Shiodome. Apakah itu hubungannya?"
"Aku tidak tahu nama perusahaannya," lanjut Michiru, matanya masih terpejam. "Tapi malam itu, saat Ren datang ke rumah, aku mendengar mereka berteriak. Ren bilang, 'Makoto, ini untuk kemanusiaan. Subjek-subjek ini adalah kunci untuk menyembuhkan penyakit mental yang diderita Michiru, diderita keluarganya.' Tapi Ayahmu berteriak balik, 'Ini bukan penyembuhan, Ren! Ini perbudakan pikiran! Kalian tidak menyembuhkan mereka, kalian mematikan jiwa mereka agar bisa dikendalikan!'"
Emiko merasa bulu kuduknya meremang. "Subjek 11..."
"Ayahmu membawa lari sesuatu dari lab itu. Sebuah data, atau obat, aku tidak tahu. Dia bilang itu adalah 'asuransi' kita. Aku pikir dia bicara tentang uang asuransi jiwa... ternyata dia bicara tentang buku itu, Emiko. Buku harian logam itu."
Kereta kembali bergerak. Emiko membuka tasnya sedikit, melirik buku harian logam itu. Ada sebuah kode angka yang mengunci gembok kecil di sampulnya. Tiga digit. Ia mencoba memasukkan tanggal lahirnya, lalu tanggal lahir ibunya, namun gembok itu tetap bergeming.
"Ibu, kita tidak bisa pulang ke rumah," kata Emiko tiba-tiba. "Jika pria itu tahu kita ada di stasiun, dia pasti sudah mengirim orang ke rumah kita di bukit."
"Lalu kita ke mana? Kita tidak punya siapa-siapa lagi, Emiko. Kamakura adalah penjara kita."
Emiko teringat pada kunci loker kedua yang ia temukan. Pondok di Nagano. Tapi itu terlalu jauh untuk dicapai malam ini. Mereka butuh tempat persembunyian sementara, tempat di mana aroma hujan tidak bisa menuntun musuh kepada mereka.
"Kita ke kuil," putus Emiko. "Kuil di dekat bukit belakang. Tempat itu punya banyak jalan tikus yang hanya diketahui penduduk lokal. Kita bisa bersembunyi di sana sampai pagi."
Saat kereta sampai di stasiun pemberhentian mereka, Emiko dan Michiru turun dengan terburu-buru. Hujan di luar kini telah menjadi badai kecil. Angin kencang mengombang-ambingkan payung mereka. Emiko memimpin jalan, masuk ke dalam gang-gang sempit Kamakura yang gelap, menjauhi jalan raya utama.
Mereka mendaki tangga batu yang licin menuju area hutan bambu. Suara bambu yang saling bergesekan karena angin terdengar seperti bisikan ribuan hantu. Michiru mulai tertinggal, napasnya makin berat.
"Sedikit lagi, Bu," dorong Emiko.
Namun, saat mereka sampai di sebuah tikungan di bawah pohon cedar raksasa, Emiko berhenti mendadak. Di bawah lampu jalan yang remang-remang, ia melihat sebuah mobil sedan hitam terparkir di ujung jalan buntu. Dua orang pria bertubuh tegap dengan jas hujan gelap berdiri di sampingnya, sedang memeriksa senter mereka.
Mereka telah mengepung jalur menuju rumah.
"Mereka sudah di sana," bisik Emiko, menarik Michiru ke balik bayangan tembok batu kuil tua.
"Emiko... kepalaku sakit sekali," Michiru memegangi pelipisnya. Cahaya kilat menyambar di langit, menerangi wajah Michiru yang tampak sangat menderita. "Suara itu... suara Makoto menyuruhku untuk memberikan buku itu pada mereka. Dia bilang, 'Berikan saja, Michiru, agar kalian selamat'."
"Itu bukan Ayah, Bu! Itu halusinasimu yang dipicu stres!" Emiko mengguncang bahu ibunya. "Dengarkan aku! Kita tidak akan menyerahkan apa pun. Ayah mati untuk melindungi ini, dan kita tidak akan membiarkan pengorbanannya sia-sia."
Emiko melihat sebuah pintu kecil di dinding kuil yang biasanya digunakan oleh para biarawan untuk membuang sampah. Pintu itu terkunci, namun kayunya sudah lapuk. Dengan seluruh kekuatannya, Emiko menendang pintu itu. Prak! Kayunya hancur.
Mereka masuk ke dalam area dalam kuil yang dipenuhi pepohonan rimbun. Di sini, kegelapan hampir mutlak. Emiko mematikan ponselnya agar cahayanya tidak terlihat. Mereka merayap di antara paviliun-paviliun kayu kuil yang sunyi.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar di atas kerikil di luar dinding.
"Mereka masuk lewat pintu belakang!" teriak salah satu pria di luar.
Emiko panik. Ia melihat sebuah bangunan kecil,sebuah kura (gudang penyimpanan kuno) yang terbuat dari batu dan plester tebal. Pintu besinya sedikit terbuka. Ia menarik Michiru masuk ke dalam dan menutup pintu berat itu dengan hati-hati.