
Paman Hiroshi menutup pintu gubuk kayu itu dengan rapat, membiarkan deru badai di luar menjadi musik latar bagi ketegangan yang menyesakkan di dalam. Cahaya remang dari lampu minyak di sudut ruangan menciptakan bayangan panjang yang menari di dinding, membuat wajah mereka bertiga tampak seperti lukisan tua yang penuh dengan guratan penderitaan.
Emiko duduk di lantai kayu yang kasar, memangku kepala Michiru yang masih terengah-engah setelah meminum ramuan herbal tadi. Kulit ibunya kini terasa sangat panas, seolah-olah es yang membeku selama lima belas tahun sedang mencair dengan cara yang menyakitkan.
"Paman," suara Emiko pecah di tengah kesunyian. "Buku ini... apa sebenarnya isinya hingga dr. Ren rela membunuh?"
Paman Hiroshi mendekat, ia meletakkan tongkat kayunya dan duduk bersila di depan Emiko. Ia menunjuk ke arah buku harian logam yang masih berada di pangkuan Emiko. "Buku itu bukan sekadar catatan harian, Emiko. Itu adalah log eksperimen Proyek Shiodome. Ayahmu, Makoto, adalah mandor yang mengawasi pembangunan laboratorium bawah tanah di bawah distrik Shiodome. Dia menemukan bahwa apa yang dibangun di sana bukan hanya fasilitas riset farmasi, melainkan penjara untuk eksperimen manusia."
Hiroshi menarik napas panjang, matanya menatap tajam ke arah buku itu. "Luminous Corp, perusahaan yang mengontrak agensimu sekarang, sedang mengembangkan zat yang disebut Oblivion-9. Tujuannya adalah menghapus trauma spesifik pada tentara atau korban perang. Namun, efek sampingnya adalah hilangnya kemampuan untuk merasakan emosi mendalam secara permanen. Ren Sato adalah kepala risetnya, dan dia butuh subjek dengan latar belakang trauma genetik untuk melihat apakah obat itu bisa 'menstabilkan' kegilaan."
"Dan dia memilih Ibu," desis Emiko, tangannya mengepal erat hingga kuku-kukunya memutih.
"Michiru adalah subjek yang sempurna," sahut Hiroshi pahit. "Keluarga Iwata memiliki sejarah ketidakstabilan emosional yang mereka sebut 'Kutukan Musim Hujan'. Bagi Ren, itu bukan kutukan, itu adalah anomali saraf yang berharga. Dia menggunakan kematian Makoto,yang dia atur sendiri,sebagai trauma awal untuk memulai dosis pertama pada Michiru. Dia meyakinkan Michiru bahwa kedinginan itu adalah pelindung, padahal itu adalah penjara kimiawi."
Emiko membuka buku harian logam itu lagi. Ia membalik halaman demi halaman yang berisi tabel rumit, rumus kimia, dan catatan observasi harian terhadap Michiru. Di tengah-tengah buku itu, terdapat sebuah mikrofilm yang tadi ia temukan.
"Apa isi mikrofilm ini, Paman?"
"Itu adalah rekaman saksi kunci," jawab Hiroshi. "Makoto sempat merekam percakapan rahasia antara petinggi Luminous Corp dengan beberapa pejabat pemerintahan tentang pendanaan proyek ilegal ini. Jika mikrofilm ini jatuh ke tangan media atau jaksa penuntut yang jujur, Shiodome akan runtuh dalam semalam. Ren Sato bukan hanya takut kehilangan lisensi kedokterannya, dia takut kehilangan nyawanya karena telah gagal mengamankan data ini."
Tiba-tiba, Michiru mulai bergerak. Matanya terbuka lebar, menatap langit-langit gubuk dengan pandangan yang mengerikan. "Gudang nomor 7..." bisiknya dengan suara serak.
Emiko dan Hiroshi serentak menunduk. "Apa, Bu? Gudang nomor 7?"
"Di galangan kapal..." Michiru meraih kerah baju Emiko, tenaganya mendadak kuat. "Makoto menyembunyikan sesuatu di sana... bukan di stasiun. Stasiun hanya pengalih perhatian. Dia bilang... 'Jika kunci loker ditemukan, cari apa yang ada di bawah lantai gudang nomor 7'."
Hiroshi tertegun. "Gudang nomor 7 di galangan kapal Kamakura yang lama? Tempat itu sudah ditutup dan disegel sejak kecelakaan Makoto."
"Itu tempatnya," Michiru terisak, air mata membanjiri pipinya yang panas. "Makoto tahu Ren akan mencari loker di stasiun. Dia sengaja meletakkan buku harian ini di sana sebagai umpan agar Ren tidak mencari tempat persembunyian yang sesungguhnya. Apa yang ada di dalam buku ini hanyalah setengah dari kebenaran. Setengah lainnya... bukti fisik dari eksperimen itu... ada di galangan."
Emiko berdiri, tatapannya kini dipenuhi api balas dendam. "Kita harus ke sana. Malam ini juga."
"Terlalu berbahaya, Emiko," cegah Hiroshi. "Anak buah Ren pasti sudah menyisir seluruh Kamakura. Mereka tahu kita tidak mungkin keluar dari kota ini lewat jalan utama."
"Justru karena itu, Paman. Saat mereka sibuk mencari kita di perbatasan atau di stasiun, kita masuk ke tempat yang paling mereka anggap 'bersih'. Galangan kapal tua itu adalah tempat yang paling tidak mereka curigai jika kita kembali ke sana."
Emiko menatap ibunya. Michiru tampak sangat rapuh, namun ada sebuah ketetapan hati yang baru di matanya. "Ibu ingin ikut. Aku ingin melihat tempat di mana Makoto menghabiskan saat-saat terakhirnya. Aku ingin mengakhiri kedinginan ini di tempat ia bermula."
Hiroshi menimbang sejenak, lalu ia mengangguk. "Baiklah. Tapi kita tidak bisa lewat jalan darat. Kita akan menggunakan perahu nelayan milik kawanku di teluk belakang. Kita akan mendekati galangan lewat laut. Aroma hujan akan menutupi suara mesin kita."
Mereka mulai bersiap. Emiko memasukkan buku harian logam dan mikrofilm itu ke dalam tas kedap air yang diberikan Hiroshi. Ia mengganti pakaiannya dengan baju hangat milik biarawan kuil agar tidak mencolok.
Sebelum keluar, Emiko berdiri di depan jendela, menatap ke arah Stasiun Kamakura yang jauh di bawah sana. Lampu-lampunya tampak redup ditelan badai.
"Ayah," bisiknya pelan. "Tolong bimbing kami pulang."
Mereka keluar dari gubuk, menembus rimbunnya hutan yang basah. Jalanan menurun menuju pantai sangat curam dan berbahaya. Berkali-kali Emiko harus menahan tubuh ibunya agar tidak tergelincir di atas tanah merah yang berlumpur.
Saat mereka mencapai teluk kecil yang tersembunyi di balik karang besar, sebuah perahu motor kayu kecil sudah menunggu. Seorang pria tua dengan topi nelayan menyambut mereka tanpa kata, hanya memberikan isyarat agar mereka segera naik.
Perahu itu membelah ombak yang ganas. Air laut yang asin membasahi wajah Emiko, namun ia tidak peduli. Pikirannya tertuju pada Gudang Nomor 7. Ia membayangkan ayahnya di sana, lima belas tahun yang lalu, berlari dalam ketakutan namun tetap memikirkan cara untuk melindungi mereka.
"Paman," tanya Emiko di tengah deru mesin perahu. "Bagaimana jika Ren Sato sudah ada di sana?"