Labirin Ingatan di Rumah Kamakura

Tethy Ezokanzo
Chapter #18

Fajar di Pegunungan Nagano

Lampu-lampu biru dan merah dari mobil patroli kepolisian Prefektur Kanagawa masih berkedip-kedip, memantul di genangan air asin di pelataran galangan kapal tua itu. Namun, bagi Emiko, kebisingan sirine dan perintah tegas para petugas terasa sangat jauh. Di bawah naungan selimut darurat yang diberikan petugas medis, ia duduk bersandar pada pintu mobil paman Hiroshi, menatap ibunya yang sedang diperiksa di dalam ambulans.

Kamakura menjelang fajar tampak seperti kota yang baru saja memuntahkan rahasia paling kelamnya. Kabut mulai naik dari permukaan laut, menelan sisa-sisa reruntuhan Gudang Nomor 7.

***

"Kita tidak bisa berlama-lama di sini, Emiko," suara Paman Hiroshi memecah lamunan. Ia baru saja selesai berbicara dengan seorang detektif senior yang tampaknya adalah kawan lamanya. "Penangkapan Ren Sato dan Shimada hanyalah permulaan. Luminous Corp memiliki pengaruh yang merambah hingga ke departemen kehakiman. Mereka akan mencoba menenggelamkan kasus ini sebelum berita pagi tersiar."

Emiko menoleh, wajahnya masih pucat namun tatapannya tajam. "Lalu apa yang harus kita lakukan? Kita sudah memberikan bukti itu pada polisi."

Hiroshi menggeleng perlahan. "Kita hanya memberikan sebagian. Kotak baja yang ditemukan ibumu... dokumen aslinya masih ada padaku. Yang dibawa polisi adalah salinan digital yang telah aku enkripsi. Kita butuh tempat yang aman untuk mempelajari isinya tanpa gangguan sinyal pelacak atau mata-mata korporat."

Michiru melangkah keluar dari ambulans. Meskipun tampak lelah, ada ketenangan yang belum pernah terlihat sebelumnya di wajahnya. Efek dari obat penetral dr. Ren memang menyakitkan, tapi ia kini memiliki kendali penuh atas ingatannya.

"Pondok di Nagano," kata Michiru pelan. "Makoto membeli tempat itu bukan tanpa alasan. Itu adalah daerah yang terisolasi, jauh dari jangkauan sinyal telekomunikasi modern karena lembah-lembahnya yang dalam. Dia menyebutnya 'Zona Buta'."

Emiko berdiri, merapatkan jaketnya. "Kalau begitu, kita berangkat sekarang."

Mereka meninggalkan Kamakura saat fajar menyingsing. Dari kaca belakang mobil SUV milik Hiroshi, Emiko menatap gerbang masuk Stasiun Kamakura untuk terakhir kalinya. Aroma hujan yang selama ini ia benci kini terasa seperti kenangan pahit yang mulai memudar, digantikan oleh aroma bensin dan aspal basah saat mereka memacu kendaraan menuju arah utara.

Perjalanan menuju Prefektur Nagano memakan waktu hampir enam jam. Pemandangan berubah drastis, dari garis pantai yang landai menjadi pegunungan Alpen Jepang yang menjulang angkuh dengan puncak-puncak yang masih tertutup sisa salju musim dingin, meskipun musim hujan telah tiba. Udara di sini lebih tipis dan jauh lebih dingin, namun itu adalah kedinginan yang jujur,kedinginan alam yang tidak menyimpan konspirasi kimiawi.

"Kita hampir sampai," ujar Hiroshi saat mobil mulai menanjak di jalan setapak yang sempit dan berliku, dikelilingi oleh hutan pinus yang lebat.

Pondok peninggalan Makoto terletak di ujung lembah tersembunyi. Bangunannya sederhana, terbuat dari kayu cedar hitam dengan atap miring yang kokoh. Tidak ada tetangga dalam radius dua kilometer. Hanya ada suara angin yang bersiul di sela-sela ranting pohon dan gemericik air sungai pegunungan yang jernih.

Saat Emiko menginjakkan kaki di teras pondok, ia menghirup napas dalam-dalam. Bau di sini bukan bau laut. Ini adalah bau pinus, tanah merah yang lembap, dan api unggun yang sudah lama padam.

"Ibu, apakah Ibu pernah ke sini?" tanya Emiko sambil membantu Michiru membawa barang masuk.

Michiru menyentuh pilar kayu di depan pintu. "Hanya sekali, sesaat sebelum kau lahir. Makoto bilang, jika suatu hari dunia menjadi terlalu bising, dia ingin kita bersembunyi di sini. Aku tidak pernah tahu kalau 'bising' yang dia maksud adalah konspirasi pembunuhan."

Di dalam pondok, debu tipis menyelimuti perabotan, namun semuanya masih terawat dengan baik. Hiroshi segera menyalakan perapian, sementara Emiko meletakkan tas kedap air berisi buku harian logam dan dokumen dari kotak baja di atas meja kayu besar.

"Sekarang, mari kita lihat apa yang sebenarnya ingin Makoto sampaikan," kata Hiroshi.

Mereka membuka kotak baja itu. Di dalamnya, selain botol prototipe Oblivion-9 , terdapat sebuah peta digital yang dicetak di atas kertas transparan khusus. Peta itu menunjukkan titik-titik koordinat di seluruh Jepang, termasuk satu titik besar di Shiodome dan beberapa titik kecil di pedesaan.

"Ini bukan sekadar lokasi laboratorium," gumam Emiko, jarinya menelusuri garis-garis pada peta. "Ini adalah jalur distribusi. Luminous Corp tidak hanya mencoba menghapus trauma... mereka mencoba menciptakan 'masyarakat tanpa konflik'. Jika emosi bisa ditekan secara massal melalui suplai air atau obat-obatan rutin, maka tidak akan ada lagi protes, tidak ada revolusi, tidak ada kemarahan."

"Dan tidak ada cinta," sahut Michiru pahit. "Hanya ada kepatuhan yang dingin."

Emiko kemudian mengambil sebuah surat kecil yang terselip di balik sampul buku harian logam. Surat itu ditulis dengan tinta yang hampir pudar, namun gaya tulisannya sangat tegas.

'Untuk putriku, Emiko. Jika kau membaca ini di pondok Nagano, artinya aku sudah gagal menjagamu secara fisik. Namun, aku meninggalkan satu senjata terakhir untukmu. Di bawah lantai pondok ini, di gudang bawah tanah, ada sebuah pemancar radio analog yang kuat. Mikrofilm yang kau bawa memiliki kode enkripsi yang bisa disiarkan secara nasional jika dihubungkan dengan pemancar ini. Luminous Corp tidak bisa menghentikan gelombang radio analog secepat mereka menghentikan internet.'

Emiko menatap ayahnya melalui kata-kata itu. Makoto bukan hanya seorang mandor, dia adalah seorang pejuang yang telah menyiapkan rencana cadangan untuk skenario terburuk.

"Kita harus menyiarkan data ini," kata Emiko. "Bukan hanya untuk membersihkan nama Ayah, tapi untuk menghentikan apa yang mereka lakukan pada ribuan orang lain yang mungkin bernasib seperti Ibu."

"Tapi begitu kita menyiarkannya, posisi kita akan terlacak," Hiroshi memperingatkan. "Mereka akan mengirim unit paramiliter korporat. Kita akan terkurung di lembah ini."

Lihat selengkapnya