Labirin Ingatan di Rumah Kamakura

Tethy Ezokanzo
Chapter #19

Pertahanan di Lembah Beku

Suara helikopter itu bukan lagi sekadar dengung di kejauhan, ia adalah raungan predator yang merobek keheningan malam di Nagano. Cahaya lampu sorot (searchlight) dari langit menyapu hutan pinus, mengubah pepohonan yang gelap menjadi bayangan-bayangan panjang yang menakutkan, seperti barisan raksasa yang sedang mengepung pondok kayu itu.

Hujan pegunungan telah berubah menjadi badai es (sleet). Butiran es kecil menghantam atap kayu dengan bunyi berisik yang menyerupai tembakan senapan mesin. Suhu udara anjlok drastis, mendekati titik beku,sebuah anomali cuaca yang sering terjadi di dataran tinggi Nagano bahkan di ambang musim panas. Aroma ozon dari kilat yang menyambar di puncak gunung bercampur dengan bau bensin dari mesin helikopter yang kian mendekat.

***

"Matikan semua lampu di atas!" perintah Paman Hiroshi. Suaranya tenang namun memiliki otoritas yang tak terbantahkan.

Emiko segera berlari ke lantai atas, mematikan lampu minyak dan mencabut sekring listrik cadangan. Pondok itu seketika tenggelam dalam kegelapan, kecuali pendar hijau dari indikator pemancar radio di ruang bawah tanah yang masih berdenyut seperti detak jantung.

Di luar, badai es semakin menggila. Kabut tebal khas pegunungan merayap turun dari puncak, menyelimuti lembah. Ini adalah keuntungan sekaligus kutukan bagi mereka. Kabut itu akan menyulitkan penglihatan tim taktis Luminous Corp, namun juga akan mengisolasi Emiko dan keluarganya di dalam kotak kayu yang rapuh ini.

Emiko mengintip dari celah jendela yang diperkuat dengan papan kayu. Di bawah sinar lampu sorot helikopter yang menembus kabut, ia melihat bayangan-bayangan hitam mulai turun menggunakan tali fast-rope. Mereka mengenakan seragam taktis lengkap dengan helm night vision yang bersinar hijau pucat dalam gelap.

"Mereka bukan polisi," bisik Emiko, suaranya bergetar karena dingin dan adrenalin. "Mereka tentara bayaran."

"Unit Liquidator," Hiroshi muncul di sampingnya, memegang senapan laras panjang yang ia ambil dari peti rahasia. "Luminous tidak akan membiarkan saksi hidup setelah siaran ini dimulai. Emiko, dengarkan aku. Di bawah lantai ruang bawah tanah, ada terowongan pelarian yang menuju ke arah sungai di bawah lembah. Jika pintu pondok ini jebol, kau bawa ibumu lewat sana."

"Lalu Paman?"

Hiroshi tersenyum tipis, sebuah senyum yang terlihat sangat mirip dengan senyum Makoto saat ia sedang bertekad bulat. "Seseorang harus tetap di sini untuk memastikan pemancar itu terus menyiarkan data hingga siklus terakhir. Jika pemancar itu mati sebelum data terenkripsi selesai dikirim, semua pengorbanan kita akan sia-sia."

Michiru naik dari ruang bawah tanah. Wajahnya yang pucat kini tampak lebih segar, seolah-olah udara dingin Nagano memberikan kekuatan baru baginya. Ia memegang sebuah botol kaca berisi cairan biru bening,prototipe Oblivion-9 yang tersisa.

"Aku tidak akan lari lagi, Hiroshi," kata Michiru dengan suara yang tidak goyah sedikit pun. "Selama lima belas tahun aku hidup sebagai tawanan dalam kepalaku sendiri. Malam ini, aku akan menghadapi penculikku."

"Ibu, ini bukan waktunya untuk menjadi pahlawan," Emiko memegang tangan ibunya. Tangan Michiru terasa hangat,kontras dengan udara beku di sekitar mereka.

"Bukan pahlawan, Emiko. Hanya seorang ibu yang ingin memberikan masa depan bagi anaknya tanpa bau obat-obatan kimia di napasnya."

DOR!

Tembakan pertama menghantam dinding kayu pondok, menghancurkan vas bunga tua di dekat jendela. Suara tembakan itu diredam oleh badai es, namun dampaknya nyata. Proyektil peluru itu bukan peluru biasa, itu adalah peluru pelacak panas yang dirancang untuk mencari tanda kehidupan di balik dinding.

"Tiarap!" teriak Hiroshi.

Mereka merayap di atas lantai kayu yang berderit. Emiko bisa merasakan getaran tanah saat tim taktis mulai mendarat di halaman depan. Aroma hujan yang bercampur dengan bau mesiu kini memenuhi ruangan.

"Emiko, ambil busurmu!" Hiroshi memberikan perintah. "Gunakan anak panah dengan ujung sensor magnetik yang aku berikan. Tembakkan ke arah helikopter jika mereka terlalu rendah. Ganggu sistem navigasi mereka!"

Emiko merangkak menuju balkon kecil di sisi timur yang terlindung oleh rimbunnya pohon pinus. Saat ia membuka pintu balkon, badai es langsung menyapu wajahnya, membuat kulitnya terasa seperti disayat sembilu. Di bawah, di tengah kabut yang bergerak cepat, ia melihat tiga siluet bergerak menuju pintu depan.

Ia menarik tali busurnya. Tangannya yang biasanya gemetar karena ketakutan kini stabil. Ia membayangkan semua hari-hari dingin di Kamakura, semua tatapan kosong ibunya, dan semua kebohongan dr. Ren Sato. Ia melepaskan anak panah itu.

Zing!

Anak panah itu melesat, bukan ke arah tentara, melainkan ke arah tangki bahan bakar cadangan yang dibawa salah satu tentara bayaran di punggungnya. Sensor magnetik di ujung panah memicu percikan listrik statis yang besar.

BOOOM!

Ledakan kecil namun terang benderang menerangi hutan. Cahaya api itu sesaat membutakan kacamata night vision para pengepung.

"Satu jatuh!" teriak Emiko.

Lihat selengkapnya