
Lembah Nagano yang tadinya merupakan medan pertempuran, kini berubah menjadi kesunyian yang mencekam. Suara helikopter itu perlahan menjauh, mungkin karena bahan bakar mereka menipis atau kabut tebal di dasar lembah membuat navigasi udara menjadi bunuh diri. Namun, bagi Emiko dan Michiru, kesunyian ini bukanlah kawan. Ia adalah musuh baru yang membawa ancaman bernama hipotermia.
Hujan es telah berhenti, namun suhu udara tetap berada di bawah nol derajat. Pakaian mereka yang basah kuyup mulai terasa berat dan kaku, berubah menjadi lapisan es tipis yang menyiksa kulit. Aroma pinus yang tajam kini bercampur dengan bau lumpur sungai yang pekat.
***
Emiko memapah ibunya menyusuri pinggiran sungai. Setiap langkah terasa seperti menginjak ribuan jarum. Michiru tidak lagi meracau, ia hanya diam, namun giginya bergelatuk keras karena kedinginan. Tas berisi dokumen rahasia itu terasa seperti beban besi yang menyeret Emiko ke bawah.
"Sedikit lagi, Bu... kita harus menemukan tempat berteduh," bisik Emiko, meskipun ia sendiri tidak tahu ke mana arah tujuan mereka.
Di tengah remang fajar yang mulai menyapu permukaan sungai, Emiko melihat sebuah bayangan bangunan di atas tebing kecil. Bukan sebuah rumah modern, melainkan sebuah gerbang kayu tua,torii,yang sudah condong tertutup lumut. Di belakangnya, samar-samar terlihat atap bangunan kuil Shinto kuno yang nampak terbengkalai.
Dengan sisa kekuatan yang hampir habis, mereka mendaki anak tangga batu yang licin. Di puncak tangga, seorang pria berdiri mematung di tengah gerbang. Ia mengenakan jaket outdoor tebal berwarna merah menyala dan memegang sebuah kamera lensa panjang yang diarahkan ke arah hulu sungai,ke arah pondok yang terbakar.
Pria itu tersentak kaget saat melihat dua sosok wanita yang tampak seperti hantu muncul dari kegelapan hutan.
"Kalian..." Pria itu menurunkan kameranya. Wajahnya tampak muda, mungkin seusia Emiko, dengan sorot mata yang penuh rasa ingin tahu sekaligus kecemasan. "Kalian adalah orang-orang dari pondok itu? Orang yang baru saja membocorkan data Luminous Corp?"
Emiko tidak menjawab. Ia hanya menatap pria itu dengan waspada, sambil memegang linggis kecil yang masih terselip di pinggangnya. "Siapa kau? Orang suruhan dr. Ren?"
"Bukan! Demi Tuhan, bukan!" Pria itu mengangkat kedua tangannya. "Namaku Takeru Inose. Aku jurnalis lepas dari The Shiodome Gazette. Aku sudah mengikuti jejak Luminous Corp selama dua tahun. Aku mendengar siaran radio itu di dalam mobilku dan melacak sinyalnya sampai ke lembah ini. Aku melihat helikopter-helikopter itu... aku mengambil foto semuanya."
Takeru segera mendekat, ia melepaskan jaket merahnya yang hangat dan menyampirkannya ke bahu Michiru yang menggigil. "Kalian harus masuk ke dalam kuil. Di sana ada pendeta tua yang bisa membantu. Kalian akan mati kedinginan jika tetap di sini."
Emiko ragu sejenak, namun melihat kondisi ibunya yang mulai kehilangan kesadaran, ia tidak punya pilihan. Mereka mengikuti Takeru masuk ke dalam bangunan utama kuil. Di dalamnya, aroma dupa dan kayu tua menyambut mereka. Seorang pendeta Shinto tua dengan jubah putih yang tenang sedang menyalakan api di sebuah irori (perapian lantai tradisional).
"Masuklah, anak-anak manusia yang terluka," suara pendeta itu lembut. "Hutan Nagano telah membisikkan kedatangan kalian."
***
Satu jam kemudian, suasana mulai sedikit terkendali. Michiru telah diberikan pakaian kering dan selimut tebal. Ia tertidur di dekat api, sementara Emiko duduk di hadapan Takeru, menyesap teh jahe panas yang diberikan pendeta. Hangatnya teh itu terasa seperti kehidupan yang kembali mengalir ke nadinya.
Takeru sedang sibuk memeriksa kartu memori kameranya. Wajahnya tampak tegang. "Emiko-san, kau tahu apa yang baru saja kalian lakukan? Siaran radio itu... itu membuat gempa politik di Tokyo. Saham Luminous Corp anjlok drastis dalam satu jam terakhir. Tapi itu juga berarti mereka akan melakukan apa saja untuk menghapus bukti fisiknya."
Emiko meletakkan cangkir tehnya. "Aku punya bukti fisiknya di sini. Botol prototipe dan buku harian ayahku."
Mata Takeru melebar. "Kau memegang prototipe Oblivion-9? Itu adalah 'Cawan Suci' bagi mereka. Jika data siaran tadi adalah pelurunya, maka botol itu adalah senjatanya. Tanpa botol itu, mereka bisa mengklaim bahwa siaran tadi hanyalah hoax atau rekayasa AI."
"Paman Hiroshi... dia mengorbankan diri agar kami bisa membawa ini pergi," kata Emiko, suaranya tercekat oleh kesedihan.
"Hiroshi Akasaka?" Takeru terdiam sejenak. "Aku pernah mendengar namanya dalam catatan lama Makoto. Dia adalah bagian dari perlawanan internal di galangan kapal. Jangan khawatir, Emiko-san. Jika dia masih hidup, dia tahu cara bersembunyi di pegunungan ini. Dia lebih mengenal Nagano daripada para tentara bayaran itu."
Takeru kemudian membuka laptopnya yang terhubung dengan satelit kecil. "Dengar, aku bisa membantu menyebarkan bukti fisik ini melalui jaringan pers internasional. Kita tidak bisa mengandalkan media lokal, banyak dari mereka yang sahamnya dimiliki oleh anak perusahaan Luminous. Kita harus mengirimkan foto-foto dokumen ini ke Associated Press atau Reuters sekarang juga."
Emiko menatap dokumen-dokumen itu. Ia melihat nama-nama subjek eksperimen yang tertulis di sana. Selain ibunya, ada puluhan nama lain. Beberapa di antaranya adalah narapidana, gelandangan, dan orang-orang hilang yang selama ini tidak pernah dicari.
"Mereka menggunakan orang-orang yang dianggap 'sampah masyarakat' untuk menguji obat ini," desis Emiko. "Bukan untuk menyembuhkan, tapi untuk menciptakan tentara dan warga negara yang patuh sepenuhnya."
"Itulah sebabnya proyek ini disebut Shiodome Utopia," tambah Takeru. "Mereka ingin membangun kota di mana tidak ada protes, tidak ada amarah, dan tidak ada ingatan buruk. Sebuah dunia yang selalu bahagia secara paksa."
Aroma hujan yang kembali turun di luar kuil terasa berbeda. Hujan ini bukan lagi badai es yang mematikan, melainkan hujan fajar yang membawa harapan. Di kuil tanpa nama ini, di tengah hutan Nagano yang mistis, Emiko menyadari bahwa ia telah menemukan sekutu baru. Takeru bukan hanya seorang jurnalis, ia adalah jembatan bagi suara ayahnya untuk mencapai telinga dunia.
"Takeru-san," panggil Emiko pelan.
"Ya?"
"Berapa lama waktu yang kita punya sebelum mereka menemukan kuil ini?"
Takeru menatap layar laptopnya, lalu menatap ke arah gerbang kuil yang berkabut. "Luminous memiliki unit pelacak panas yang sangat canggih. Api di perapian ini adalah tanda bagi mereka. Aku memperkirakan kita punya waktu paling lama dua jam sebelum mereka menyisir bukit ini."
Emiko berdiri, ia menggenggam tangan ibunya yang masih tertidur. "Dua jam sudah cukup. Mari kita buat dunia tahu kebenaran yang sebenarnya."
Di bawah atap kuil tua itu, di tengah aroma kayu cendana dan hujan pagi, Emiko mulai membantu Takeru memotret halaman demi halaman buku harian logam ayahnya. Setiap jepretan kamera terasa seperti sebuah peluru yang ditembakkan kembali ke arah Shiodome.
Matahari fajar mulai mengintip dari balik pegunungan Alpen Jepang, menyinari kabut yang perlahan memudar. Aroma hujan di Nagano pagi ini adalah aroma perjuangan yang baru saja dimulai. Dan bagi Emiko Akasaka, kedinginan itu akhirnya benar-benar telah berakhir, digantikan oleh bara api keadilan yang tidak akan pernah bisa dipadamkan oleh obat kimia apa pun.
***