
Gedung Pengadilan Distrik Tokyo berdiri seperti monumen keadilan yang dingin di tengah jantung distrik Kasumigaseki. Di luar, hujan musim panas yang disebut Tsuyu turun dengan konsistensi yang menjemukan, membasahi trotoar beton yang kaku dan menyelimuti gedung-gedung kementerian dengan selimut kelabu yang tebal. Aroma hujan di pusat kekuasaan ini berbeda dengan di Nagano, di sini, bau tanah tertutup rapat oleh aroma aspal basah, bau kabel listrik yang lembap, dan aroma logam dari ribuan payung hitam yang berseliweran.
Emiko Akasaka berdiri di lobi utama yang berlangit-langit tinggi. Sepatu hak tingginya bergema di atas lantai marmer yang mengkilap, menciptakan bunyi klik-klik-klik yang terdengar seperti hitungan mundur. Ia mengenakan setelan jas hitam formal, recruit suit yang biasanya ia gunakan untuk presentasi iklan di Shiodome,namun hari ini, ia tidak sedang menjual ide. Ia sedang mempertaruhkan nyawa dan sejarah keluarganya.
***
Ruang Sidang nomor 102 adalah sebuah ruangan yang dirancang untuk membuat siapapun yang memasukinya merasa kecil. Dindingnya dilapisi kayu jati tua berwarna cokelat gelap, hampir mendekati hitam, yang memberikan kesan berat dan menekan. Tidak ada jendela di ruangan ini, cahaya hanya berasal dari lampu panel di langit-langit yang memancarkan pendar putih steril, membuat setiap helai debu yang menari di udara terlihat jelas.
Emiko duduk di barisan kursi penonton yang keras, terbuat dari kayu ek yang dipoles hingga licin. Di sampingnya, Paman Hiroshi duduk dengan bahu tegak, meski tangan kirinya masih dibebat kain penyangga. Takeru Inose berada di baris belakang, sibuk dengan buku catatan kecilnya, sesekali mengangguk pada beberapa rekan jurnalis asing yang berhasil menyelundup masuk.
Di depan sana, "Panggung Keadilan" Jepang tertata dengan simetri yang kaku. Kursi hakim berada di posisi paling tinggi, sebuah singgasana kayu yang menghadap langsung ke arah terdakwa dan saksi. Di bawahnya, meja panjang untuk para panitera dan stenografer yang siap mencatat setiap napas yang diambil dalam ruangan ini.
"Semua hadirin mohon berdiri," suara petugas pengadilan memecah kesunyian yang mencekam.
Tiga orang hakim masuk dengan jubah hitam mereka yang menyapu lantai. Hakim Ketua, seorang pria berusia enam puluhan dengan kacamata berbingkai perak bernama Hakim Yamato, duduk di tengah. Tatapannya datar, seolah-olah ia telah melihat seluruh spektrum dosa manusia selama kariernya.
"Sidang kasus nomor 774-B, Emiko Akasaka dan kawan-kawan melawan Luminous Corp, resmi dibuka," Hakim Yamato mengetuk palu kayunya. Suara tok itu menggema pelan namun tegas di dinding-dinding kayu jati.
Di sisi kanan ruangan, duduk tim pengacara Luminous Corp. Mereka berjumlah enam orang, semuanya mengenakan setelan jas seharga ribuan dolar dengan pin lencana advokat emas yang berkilat di kerah mereka. Di tengah-tengah mereka duduk Baron Kuroda, CEO Luminous Corp. Ia tidak tampak seperti penjahat, ia tampak seperti kakek yang terhormat dengan rambut putih yang disisir rapi dan senyum tipis yang meremehkan.
Di sisi kiri, Jaksa Penuntut Umum Kaito Ishida berdiri. Ia adalah pria muda yang berani, namun di ruangan ini, ia tampak seperti Daud yang menghadapi Goliat.
"Yang Mulia," suara Ishida bergema di ruang sidang. "Kami mengajukan bukti utama berupa botol prototipe Oblivion-9 dan buku harian logam milik almarhum Makoto Akasaka. Bukti-bukti ini menunjukkan adanya eksperimen manusia ilegal yang dilakukan secara sistematis selama lima belas tahun di bawah kedok riset medis."
Pengacara utama Luminous, seorang pria bernama Ohara yang dikenal sebagai 'Pembersih Skandal' nomor satu di Tokyo, berdiri perlahan. Ia tidak berteriak, suaranya tenang, mengalir seperti air yang mematikan.
"Keberatan, Yang Mulia. Sebelum kita membahas isi dari benda-benda tersebut, kita harus mempertanyakan legalitas perolehannya. Benda-benda ini diambil melalui tindakan kriminal: perusakan properti di Stasiun Kamakura, pencurian di galangan kapal, dan penggunaan kekerasan di sebuah kuil suci di Nagano. Di bawah hukum Jepang, bukti yang diperoleh dari pohon yang beracun tidak dapat disajikan di meja hijau."
Emiko menggenggam tangannya di bawah meja hingga kuku-kukunya memutih. Strategi klasik: menyerang prosedural untuk menutupi kejahatan substansial.
"Terlebih lagi," lanjut Ohara, ia menoleh ke arah barisan penonton, tepat ke arah Michiru yang duduk di antara petugas medis. "Saksi kunci yang diajukan jaksa adalah seorang wanita yang telah didiagnosis menderita skizofrenia akut selama lebih dari satu dekade. Bagaimana kita bisa memercayai narasi yang dibangun dari ingatan seseorang yang secara medis terbukti tidak stabil?"
Suasana ruangan menjadi sangat dingin. Emiko bisa merasakan tatapan orang-orang di ruangan itu mulai bergeser ke arah ibunya. Michiru duduk diam, matanya menatap lantai kayu. Aroma hujan yang merembes lewat sistem ventilasi gedung seolah membawa kembali memori kedinginan Kamakura ke dalam ruangan itu.
"Yang Mulia!" Ishida menyela. "Kondisi mental Michiru justru merupakan akibat dari kejahatan terdakwa, bukan bukti ketidaksahannya sebagai saksi. Kami meminta izin untuk menghadirkan Michiru di kursi saksi sekarang juga."
Hakim Yamato berdiskusi sejenak dengan dua hakim anggotanya. Suara bisikan mereka terdengar seperti desis ular di tengah keheningan. "Mosi diizinkan. Michiru, silakan menempati kursi saksi."
Emiko berdiri dan menuntun ibunya. Kursi saksi itu terletak di tengah ruangan, dikelilingi oleh barikade kayu kecil. Saat Michiru duduk di sana, lampu sorot dari langit-langit seolah mengunci sosoknya.
"Nyonya," Jaksa Ishida memulai dengan lembut. "Bisa Anda ceritakan apa yang Anda ingat tentang malam terakhir suami Anda, Makoto Akasaka?"
Michiru menarik napas panjang. Aroma kayu jati di ruangan itu terasa sangat asing baginya. Ia menatap ke arah Baron Kuroda, yang hanya membalasnya dengan tatapan kosong.
"Malam itu... hujan turun sangat deras di Kamakura," suara Michiru bergetar, namun tidak pecah. "Sama seperti hari ini. Saya mendengar suara pintu depan terbuka. Makoto pulang, tapi wajahnya sangat pucat. Dia membawa sebuah tas hitam. Dia bilang... 'Michiru, jika besok aku tidak bangun, jangan pernah biarkan Emiko meminum obat apapun dari dr. Ren'."
"Keberatan! Itu adalah kesaksian hearsay (kabar burung)!" tergah Ohara.
"Saya mencatat keberatan itu," sahut Hakim Yamato. "Lanjutkan, Nyonya."
"Setelah itu, saya melihat dr. Ren Sato masuk ke rumah kami. Mereka bertengkar di ruang tamu. Saya sedang mengintip dari balik pintu dapur. Ren memegang sebuah botol... botol biru yang sama dengan yang ada di meja jaksa sekarang. Dia memaksa Makoto menyerahkan mikrofilmnya. Tapi Makoto menolak. Dia bilang... 'Kalian tidak bisa mencuri ingatan seluruh bangsa demi uang'."
Michiru berhenti sejenak. Ia memejamkan mata, dan di dalam kegelapan di balik kelopak matanya, ia melihat kilatan pistol dan aroma mesiu yang bercampur dengan aroma hujan.
"Lalu... suara letusan itu. Makoto terjatuh. Ren melihat saya. Dia tidak membunuh saya... dia justru tersenyum. Dia menyuntikkan sesuatu ke leher saya. Dan setelah itu... kedinginan itu dimulai. Selama lima belas tahun, setiap kali saya mencoba mengingat wajah Makoto, otak saya seolah-olah ditusuk oleh ribuan jarum es. Itu bukan penyakit jiwa, Yang Mulia. Itu adalah penjara."
Ruang sidang terdiam. Bahkan para stenografer pun berhenti mengetik sesaat. Kata-kata Michiru memiliki berat yang luar biasa, seolah-olah setiap kata adalah potongan es yang mencair dan membanjiri lantai kayu jati tersebut.
Namun, Ohara tidak menyerah. Ia berjalan mendekati kursi saksi, berdiri sangat dekat dengan Michiru hingga ia bisa mencium aroma obat-obatan yang masih melekat pada pakaian wanita itu.
"Nyonya," Ohara merendahkan suaranya, masuk ke dalam zona nyaman Michiru. "Apakah Anda tahu bahwa menurut laporan kepolisian tahun 2011, Anda ditemukan pingsan di dapur dengan botol sake kosong di samping Anda? Apakah ingatan Anda tentang 'penjara es' ini bukan sekadar halusinasi akibat depresi pasca-trauma dan kecanduan alkohol yang Anda alami karena kematian suami Anda yang tidak sengaja?"
"Itu fitnah!" Emiko berteriak dari kursi penonton.