Labirin Ingatan di Rumah Kamakura

Tethy Ezokanzo
Chapter #22

Operasi Pembersihan Shiodome

Tokyo di bawah guyuran hujan Tsuyu yang semakin lebat tampak seperti kota yang tenggelam dalam melankolia. Di distrik Shiodome, gedung pusat Luminous Corp menjulang tinggi seperti menara kaca yang membelah awan kelabu. Dari luar, gedung itu tampak tenang, namun di dalamnya, Emiko tahu para teknisi dan penghancur data sedang bekerja keras menghapus jejak kejahatan mereka sebelum jaksa penuntut umum mendapatkan surat izin penggeledahan resmi.

"Kita tidak punya waktu menunggu birokrasi, Emiko-san," Takeru berkata sambil memeriksa peralatan di dalam mobil van hitam yang terparkir dua blok dari gedung Luminous.

Aroma di dalam van itu adalah campuran dari bau kopi instan, keringat dingin, dan panas dari tumpukan perangkat keras komputer. Takeru, dengan luka di bahu yang masih diperban, tampak seperti prajurit digital yang sedang mempersiapkan serangan terakhirnya. Di sampingnya, Paman Hiroshi memeriksa fungsionalitas masker gas dan perangkat elektronik pengganggu sinyal.

"Jaksa Ishida butuh waktu enam jam untuk menembus proteksi politik dan mendapatkan izin masuk," Hiroshi menjelaskan sambil mengisi daya baterai pemotong laser portabel. "Dalam enam jam, Baron Kuroda bisa membakar seluruh server itu dan melarikan diri ke luar negeri. Kita harus masuk secara tidak resmi."

Emiko mengenakan jaket taktis hitam di atas kemeja kerjanya. Ia menatap botol biru Oblivion-9 yang kini tersimpan dalam wadah anti-guncangan. "Ren Sato memberikan kode itu padaku. Halaman terakhir buku harian Ayah bukan sekadar catatan, itu adalah kunci enkripsi fisik. Jika aku bisa menghubungkan buku harian itu langsung ke terminal pusat di lantai 44, kita bisa mengunci seluruh data sebelum mereka sempat menghapusnya."

"Lantai 44," Takeru bergumam sambil menatap denah digital gedung. "Lantai yang secara resmi tidak ada di dalam lift umum. Itu adalah lantai 'hantu' di mana semua eksperimen saraf dikendalikan. Selalu angka itu."

Aroma hujan yang merembes masuk saat Hiroshi membuka pintu van terasa sangat tajam. Hujan di Shiodome berbau ozon dan beton basah,bau masa depan yang dingin dan tanpa jiwa. Emiko menghirup napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debar jantungnya.

"Ibu di mana?" tanya Emiko.

"Michiru-san aman di markas kepolisian Nagano yang dijaga ketat oleh detektif kawan lamaku," jawab Hiroshi. "Dia ingin kau menyelesaikan ini, Emiko. Dia bilang, 'Hancurkan penjara itu agar tidak ada lagi anak yang kehilangan ibunya karena keheningan'."

***

Operasi dimulai tepat pukul 02.00 dini hari. Gedung Luminous Corp tampak seperti benteng cahaya di tengah kegelapan Tokyo. Mereka tidak menggunakan pintu depan. Hiroshi telah mengatur akses melalui terowongan pemeliharaan bawah tanah yang terhubung dengan stasiun kereta bawah tanah Shiodome yang sudah tutup.

Di bawah tanah, aroma udara berubah menjadi bau lembap, oli, dan besi tua. Emiko merayap mengikuti Hiroshi menembus lorong-lorong sempit yang dipenuhi kabel fiber optik setebal lengan manusia. Kabel-kabel inilah yang mengirimkan denyut Oblivion-9 ke seluruh kota, mengatur emosi jutaan orang tanpa mereka sadari.

"Takeru, kami sudah di titik akses lift layanan," bisik Emiko ke mikrofon kecil di kerahnya.

"Diterima. Aku sedang meretas sistem keamanan pintu lift. Tunggu... sekarang!"

Pintu lift baja itu terbuka dengan desisan pelan. Mereka masuk ke dalam kotak logam sempit itu. Lift tidak memiliki tombol untuk lantai 44. Hiroshi membuka panel kontrol di langit-langit lift dan menghubungkan perangkat yang dibuat Takeru.

"Memasuki mode manual," suara Takeru terdengar lewat penyuara telinga. "Hati-hati, begitu kalian melewati lantai 40, sensor termal akan mendeteksi kehadiran kalian. Kalian punya waktu tiga menit sebelum tim keamanan internal bergerak."

Lift mulai bergerak naik dengan kecepatan tinggi. Emiko merasakan tekanan di telinganya. Ia menggenggam buku harian logam ayahnya erat-erat. Logam dingin itu terasa hangat di telapak tangannya, seolah-olah semangat Makoto sedang memberinya kekuatan.

Ting.

Lift berhenti. Pintu terbuka, namun bukan di sebuah lobi yang mewah. Mereka disambut oleh lorong panjang yang dilapisi dinding putih bersih dengan lampu neon yang sangat terang, memberikan kesan steril yang menyakitkan mata. Aroma di lantai ini bukan lagi aroma hujan, ini adalah aroma bahan kimia murni, alkohol medis, dan sesuatu yang manis namun memualkan,aroma gas Oblivion-9 yang diproduksi dalam skala besar.

"Ini dia," bisik Hiroshi, mengeluarkan senapan biusnya.

Mereka bergerak cepat di sepanjang lorong. Di balik dinding kaca, Emiko melihat barisan tangki besar berisi cairan biru yang sama dengan yang disuntikkan dr. Ren ke ibunya. Di sana juga terdapat barisan monitor yang menampilkan grafik gelombang otak manusia secara real-time. Nama-nama subjek eksperimen berkedip di layar.

"Mereka masih memantau orang-orang itu," desis Emiko dengan kemarahan yang meluap. "Bahkan saat sidang berlangsung, mereka masih mengendalikan ingatan orang-orang ini."

Tiba-tiba, suara alarm melengking memenuhi lorong. Lampu merah mulai berputar.

"Terdeteksi! Penyusup di Sektor 44!" suara otomatis menggema.

"Emiko, lari ke ruang server pusat! Aku akan menahan mereka di sini!" teriak Hiroshi.

Dua petugas keamanan berpakaian taktis muncul dari ujung lorong. Hiroshi segera melepaskan tembakan bius dan terlibat dalam perkelahian jarak dekat. Emiko tidak menoleh. Ia berlari sekencang mungkin menuju pintu baja besar di ujung lorong yang bertuliskan CENTRAL ARCHIVE.

Pintu itu terkunci dengan pemindai retina. Emiko mengambil botol Oblivion-9 dan buku harian ayahnya. Di balik sampul logam buku harian itu, terdapat sebuah reflektor kecil yang dirancang Makoto. Ia mengarahkan cahaya lampu darurat melalui reflektor itu ke arah pemindai retina.

Makoto telah meretas sistem ini bertahun-tahun yang lalu menggunakan algoritma cahaya yang meniru pola retina Baron Kuroda.

Klik. Pintu terbuka.

Ruang server pusat itu sangat dingin, suhu dijaga tetap rendah untuk mendinginkan ribuan prosesor yang bekerja. Suara dengungan kipas pendingin terdengar seperti ribuan lebah yang marah. Di tengah ruangan, terdapat sebuah terminal utama yang dikelilingi oleh tabung-tabung kaca berisi mikrochip saraf.

Lihat selengkapnya