
Matahari sudah mulai naik, tapi Kamakura masih diselimuti oleh kabut tipis yang disebut asagasumi. Aroma laut yang asin bercampur dengan wangi bunga Kinmokusei (osmanthus) yang mulai mekar, memberikan sensasi manis yang menenangkan di udara. Di beranda rumah kayu mereka, Michiru duduk diam. Namun, ada yang berbeda dari keheningannya kali ini.
Dulu, keheningan Michiru terasa seperti sebuah ruang hampa yang menyedot panas dari sekitarnya,dingin, kaku, dan tak terjangkau. Kini, ia duduk dengan mata yang benar-benar menatap dunia. Ia tidak lagi melihat bayangan yang tidak ada, ia sedang mengamati seekor burung pipit yang mematuk butiran beras di halaman.
Emiko keluar dari dapur, membawa sepiring buah kesemek yang sudah dikupas. Ia memperhatikan ibunya dari balik pintu shoji. Perubahan emosi Michiru adalah proses yang lambat dan kadang menyakitkan. Tanpa Oblivion-9, emosi Michiru meluap kembali seperti bendungan yang jebol. Ia tidak lagi "dingin", namun ia menjadi sangat rapuh. Kadang ia tertawa sendiri mengingat lelucon Makoto, namun semenit kemudian ia bisa terisak hebat karena menyadari bahwa suaminya benar-benar tidak akan pernah kembali.
"Ibu," panggil Emiko lembut. "Ini buahnya."
Michiru menoleh. Senyumnya tipis, namun kali ini mencapai matanya. "Terima kasih, Emiko. Aroma kesemek ini... aku ingat sekarang. Ayahmu sangat suka buah ini jika dimakan saat masih sedikit keras."
Emiko duduk di sampingnya. "Ibu merasa lebih baik hari ini?"
Michiru menghela napas, tangannya gemetar sedikit saat mengambil sepotong buah. "Rasanya seperti baru saja terbangun dari tidur yang sangat lama dan dingin, Emiko. Tapi saat terbangun, kepalaku dipenuhi oleh ribuan suara. Semua ingatan yang selama ini ditekan oleh dr. Ren... mereka kembali sekaligus. Rasanya menyesakkan."
Emiko menggenggam tangan ibunya. Tangan itu sudah tidak sedingin dulu. Ada aliran darah, ada kehangatan manusia yang nyata di sana. "Itu sebabnya kita harus pergi hari ini, Bu. Ke Tokyo. Bukan ke gedung Shiodome, tapi ke Rumah Sakit Universitas Todai."
Michiru menegang. "Psikiater lagi? Aku sudah muak dengan dokter, Emiko."
"Ini berbeda," Emiko meyakinkan. "Dr. Arisawa bukan bagian dari Luminous. Dia adalah ahli neuropsikiatri yang membantu para korban perang dan trauma berat. Jaksa Ishida merekomendasikannya. Ibu... kita butuh bantuan profesional untuk memilah-milah ingatan ini. Kita tidak bisa melakukan pembersihan jiwa ini sendirian."
***
Perjalanan ke Tokyo kali ini tidak terasa seperti pelarian. Mereka naik kereta api Enoden yang menyisir pinggir pantai. Michiru menempelkan wajahnya ke jendela, melihat ombak yang bergulung. Ia tidak lagi merasa takut pada laut. Ia justru merasa laut sedang berbisik padanya, meminta maaf atas kesepian yang selama ini ia rasakan.
Sesampainya di Tokyo, suasana kota masih bergejolak. Di depan stasiun, layar-layar besar masih menampilkan wajah Baron Kuroda dan dr. Ren Sato yang sedang menjalani pemeriksaan intensif. Namun, bagi Michiru, semua itu terasa jauh. Fokusnya kini adalah dunia di dalam kepalanya sendiri.
Klinik Dr. Arisawa terletak di sebuah gedung tua yang asri di distrik Bunkyo. Ruangannya tidak berbau alkohol medis yang tajam seperti lab dr. Ren, ia berbau buku-buku tua dan teh melati.
Dr. Arisawa adalah seorang wanita paruh baya dengan wajah yang ramah dan kacamata bulat. Ia tidak langsung menanyakan tentang eksperimen itu. Ia hanya meminta Michiru untuk menggambar apa yang ia rasakan saat ini di atas selembar kertas kosong.
Michiru mengambil krayon berwarna biru dan hitam. Ia mulai menggambar sebuah lingkaran besar yang gelap, namun di tengahnya, ia menambahkan titik kecil berwarna kuning cerah.
"Apa arti titik kuning itu, Nyonya?" tanya Dr. Arisawa lembut.
"Itu adalah Emiko," suara Michiru bergetar. "Selama lima belas tahun, aku berada di dalam lingkaran hitam itu. Rasanya dingin, sangat dingin hingga aku tidak bisa merasakan cinta. Tapi titik kuning ini... dia terus berkedip. Dia tidak membiarkanku sepenuhnya hilang."
Dr. Arisawa mengangguk, ia mencatat sesuatu di bukunya. "Apa yang Anda alami adalah Chemical Dissociation. Otak Anda dipaksa untuk memutus hubungan antara memori dan emosi agar Anda tidak merasa sakit. Masalahnya, ketika rasa sakit diputus, rasa cinta juga ikut terputus. Sekarang, setelah bahan kimia itu hilang, otak Anda sedang mencoba melakukan sinkronisasi ulang. Ini akan melelahkan."
"Apakah aku akan menjadi gila lagi?" tanya Michiru cemas.
"Anda tidak pernah gila, Nyonya," tegas Dr. Arisawa. "Anda diracuni. Sekarang, Anda sedang dalam masa pemulihan. Kita akan menggunakan terapi narasi. Anda harus menceritakan kembali kenangan Anda, yang baik maupun yang buruk, agar otak Anda tahu bahwa mereka adalah bagian dari sejarah Anda, bukan lagi ancaman."
Terapi itu berlangsung selama tiga jam. Emiko menunggu di ruang tunggu, hatinya berdebar. Ia melihat orang-orang lain di ruang tunggu itu,beberapa di antaranya ia kenal dari daftar subjek eksperimen yang ditemukan Takeru. Ada seorang pria paruh baya yang terus menangis tanpa henti, dan seorang wanita muda yang hanya menatap kosong ke tangannya.
Dampak Luminous Corp terhadap kesehatan mental Jepang sangatlah masif. Ribuan orang kini terbangun dalam kondisi "limbo" emosional. Emiko menyadari bahwa tugasnya belum berakhir. Ia tidak hanya harus memulihkan ibunya, tapi ia merasa bertanggung jawab untuk memastikan korban-korban lain mendapatkan bantuan yang sama.
***