Labirin Ingatan di Rumah Kamakura

Tethy Ezokanzo
Chapter #24

Ekspedisi di Penjara Hitam Chiba

Malam di lepas pantai Chiba tidak mengenal kelembutan. Samudra Pasifik menghantam dinding-dinding beton pemecah ombak dengan kemarahan yang purba, mengirimkan percikan air asin yang perih ke udara. Langit di atas sana tampak seperti tinta hitam yang tumpah, tanpa bintang, tanpa rembulan,hanya awan badai yang menggantung rendah, siap memuntahkan hujan yang lebih dingin dari sebelumnya.

Di atas kapal nelayan tua yang mesinnya telah dimodifikasi agar bersuara halus, Emiko berdiri di dekat haluan. Ia mengenakan pakaian selam hitam ketat dengan jaket penahan angin yang basah kuyup. Di pinggangnya, tersampul kartu memori pemberian pembelot Luminous, sebuah kunci menuju rahasia terakhir ayahnya.

***

"Tiga mil laut lagi," suara Paman Hiroshi terdengar melalui sistem komunikasi internal di telinga Emiko. Hiroshi berada di ruang kemudi, matanya terpaku pada radar militer yang ia pinjam dari koneksi lamanya. "Fasilitas itu disebut Kuro-Iwa (Batu Hitam). Secara resmi, itu adalah stasiun penelitian pasang surut air laut. Namun di bawah permukaan, ada struktur delapan lantai yang menembus dasar laut."

Takeru Inose duduk di dek tengah, dikelilingi oleh peralatan pemancar satelit yang ditutupi terpal plastik. Wajahnya yang pucat tersinari oleh pendar biru layar laptop. "Emiko, aku sudah berhasil meretas feed satelit cuaca untuk menutupi pergerakan kapal kita. Tapi begitu kalian masuk ke zona sensor sonar mereka, aku tidak bisa menjamin apa-apa. Luminous di sini tidak dipimpin oleh birokrat atau ilmuwan seperti Ren Sato. Tempat ini dikelola oleh unit militer swasta mereka yang paling elit."

Emiko menoleh ke arah pintu kabin. Di sana, Michiru berdiri. Ia tidak lagi tampak seperti pasien yang rapuh. Ia mengenakan perlengkapan taktis yang sama dengan Emiko. Rambutnya diikat kencang, dan matanya memancarkan ketajaman yang selama lima belas tahun ini tertidur.

"Ibu benar-benar ingin ikut?" tanya Emiko untuk kesekian kalinya.

"Makoto ada di sana, Emiko," jawab Michiru, suaranya tenang namun memiliki bobot yang tak tergoyahkan. "Bukan dalam bentuk fisik, aku tahu. Tapi jika ada bagian dari kesadarannya yang dipenjara di dalam mesin-mesin dingin itu, akulah yang paling tahu bagaimana cara memanggilnya pulang. Ingatanku adalah kunci yang tidak dimiliki oleh komputer manapun."

Aroma laut di sini sangat berbeda dengan Kamakura. Di sini, bau garam bercampur dengan bau karat besi tua dan bahan bakar diesel yang tajam. Saat kapal mereka mendekati titik koordinat, sebuah bayangan raksasa muncul dari balik kabut laut.

Itu bukan sebuah gedung, itu adalah sebuah rig minyak tua yang tampaknya sudah ditinggalkan, namun lampu-lampu merah berkedip di puncaknya seperti mata monster yang sedang terjaga.

"Kita masuk lewat pipa pembuangan air pendingin di sisi selatan," instruksi Hiroshi. "Emiko, Michiru, kalian punya waktu empat puluh menit sebelum patroli laut mereka melakukan rotasi. Begitu kalian sampai di pusat data, masukkan kartu memori itu. Aku akan menunggu di sini dengan mesin menyala."

Mereka terjun ke dalam air yang membekukan. Dinginnya air samudra terasa seperti ribuan jarum yang menusuk kulit, namun adrenalin membuat Emiko terus bergerak. Mereka berenang menembus kegelapan, hanya dipandu oleh cahaya kecil di pergelangan tangan.

Pipa pembuangan itu besar dan licin oleh lumut laut. Mereka merangkak masuk, melawan arus air yang keluar. Aroma di dalam pipa itu memuakkan,bau bahan kimia pembersih dan amonia. Setelah beberapa menit yang melelahkan, mereka mencapai sebuah katup udara yang menuju ke lantai dasar fasilitas Kuro-Iwa.

Emiko membuka katup itu dengan hati-hati. Mereka keluar di sebuah ruangan mesin yang bising. Suara deru turbin raksasa menciptakan getaran yang terasa hingga ke tulang. Tidak ada jendela di sini, hanya dinding baja tebal yang dicat abu-abu kusam.

"Lantai B8," bisik Emiko, melihat tanda di dinding. "Pusat data ada di Lantai B4. Kita harus melewati tangga darurat."

Mereka bergerak seperti bayangan. Michiru menunjukkan insting yang luar biasa, setiap kali ada langkah kaki penjaga yang mendekat, ia mampu merasakan getaran lantai lebih cepat daripada Emiko. Seolah-olah indra sarafnya yang pernah rusak kini menjadi lebih peka terhadap bahaya.

Saat mereka mencapai Lantai B4, suasana berubah total. Lorong-lorong di sini dilapisi oleh kaca anti-peluru dan sensor laser yang nyaris tak terlihat. Aroma udara di sini terasa sangat murni, terlalu murni hingga terasa tidak alami,udara yang disaring berkali-kali untuk melindungi integritas server.

"Itu ruangannya," Michiru menunjuk ke sebuah pintu baja bundar yang menyerupai pintu brankas bank. "Aku bisa merasakannya, Emiko. Ada frekuensi yang sangat kukenal di balik pintu itu. Frekuensi yang dulu sering menyiksa kepalaku, tapi sekarang... ia terasa seperti panggilan."

Emiko mengeluarkan kartu memori itu. "Takeru, kami sudah di depan pintu utama. Matikan sistem pengunci magnetiknya."

"Sedang mencoba... sedikit lagi... dan... terbuka!"

Pintu itu berdesis dan berputar pelan. Mereka masuk ke dalam sebuah ruangan yang melingkar. Di tengah ruangan, terdapat sebuah tabung silinder raksasa yang berisi cairan biogel berwarna perak kebiruan. Di dalam cairan itu, ribuan serat optik terhubung ke sebuah modul pusat yang berdenyut dengan cahaya keemasan.

Itulah "Penyimpanan Hitam". Di sanalah profil genetik dan 'pola jiwa' Makoto Akasaka disimpan sebagai data dasar untuk pengembangan Oblivion-9 generasi terbaru.

Lihat selengkapnya