Labirin Ingatan di Rumah Kamakura

Tethy Ezokanzo
Chapter #25

Aroma Hujan di Stasiun Kamakura

Kamakura kembali ke pelukannya yang paling tenang. Musim hujan Tsuyu yang panjang dan penuh darah itu akhirnya mencapai penghujungnya. Langit tidak lagi berwarna kelabu logam, kini, ia adalah hamparan biru pudar yang jernih, seperti kaca yang baru saja dicuci bersih oleh badai. Matahari pagi menyelinap di antara celah-celah daun pohon ek, memantulkan cahaya pada genangan air yang masih tersisa di jalanan setapak menuju pantai.

Emiko berdiri di peron Stasiun Kamakura. Suara genta kereta api yang mendekat terdengar seperti melodi lama yang memanggil memori-memori yang sempat terkubur. Di tempat inilah, bertahun-tahun yang lalu, ayahnya sering berdiri menunggunya pulang sekolah. Di tempat ini pula, dr. Ren Sato pernah berdiri sebagai bayang-bayang yang mengawasi setiap geraknya.

Namun pagi ini, aroma stasiun itu telah berubah. Tidak ada lagi bau kimia yang menusuk atau bau hampa yang menyiksa saraf. Yang tertinggal hanyalah aroma khas yang menjadi judul dari seluruh perjalanan hidupnya: Aroma Hujan di Stasiun Kamakura.

Ia menghirupnya dalam-dalam. Itu adalah campuran antara bau besi rel yang lembap, bau kayu tua dari bangunan stasiun yang dibangun sejak zaman Showa, dan aroma laut Shonan yang terbawa angin pagi. Baginya, aroma ini adalah aroma kebenaran. Pahit, namun nyata. Dingin, namun membangunkan jiwa.

"Emiko," sebuah suara lembut memanggilnya.

Michiru berdiri di sampingnya. Ibunya mengenakan gaun linen berwarna putih, senada dengan warna awan yang berarak pelan. Wajahnya tidak lagi kaku. Garis-garis usia di sekitar matanya justru membuatnya tampak lebih hidup, lebih manusiawi. Di tangannya, ia memegang sebuah buket kecil bunga Ajisai berwarna biru langit.

"Ibu ingat tempat ini?" tanya Emiko.

Lihat selengkapnya