Labirin Ingatan di Rumah Kamakura

Tethy Ezokanzo
Chapter #26

Epilog: Di Mana Hujan Menemukan Rumah

Pondok kayu di pinggiran Nagano itu berdiri di atas lereng yang dikepung oleh barisan pohon tusam tebal. Di sini, udara musim panas terasa kering, tajam, dan bersih, sangat kontras dengan kelembapan abadi pesisir Kamakura yang selama lima belas tahun ini mengurung kewarasan Michiru. Tidak ada suara deburan ombak Yuigahama yang memanggil-manggil di tengah malam, tidak ada bau garam yang memicu halusinasi saraf. Hanya ada keheningan pegunungan yang sunyi.

Namun, ketenangan di Nagano ini bukanlah sebuah akhir dari pelarian. Tempat ini telah menjelma menjadi markas pertahanan mereka yang baru.

Emiko duduk di dekat jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah lembah. Di atas meja kayu di hadapannya, buku harian bersampul logam milik Makoto tergelat dalam kondisi terbuka. Gembok silindernya telah berhasil dipecahkan dua malam yang lalu setelah Emiko mencoba kombinasi angka dari tanggal pernikahan orang tuanya. Di samping buku itu, kartu identitas pegawai galangan kapal dengan lubang peluru yang rapi di bagian dada kiri seolah terus menuntut keadilan.

Jemari Emiko membalik halaman kertas yang penuh dengan baris rumus teknis, catatan logistik galangan kapal, dan sketsa arsitektur sebuah fasilitas bawah tanah yang diberi kode Subjek 11, bagian inti dari proyek rahasia yang dikelola oleh konsorsium raksasa di Shiodome.

"Kau belum tidur, Emiko?"

Suara itu datang dari arah belakang. Michiru melangkah masuk ke dalam ruang tengah sambil membawa dua cangkir teh hijau yang mengepulkan uap tipis. Langkah kakinya tidak lagi sekaku paku, gurat ketegangan ekstrem di wajah paruh bayanya perlahan mulai mengendur.

"Aku sedang memeriksa kembali catatan Ayah tentang Dr. Ren Sato," jawab Emiko tanpa mengalihkan pandangan dari lembaran kertas. "Ayah menulis bahwa Ren Sato pada mulanya adalah seorang ahli neuropsikiatri yang direkrut oleh konsorsium Shiodome untuk meneliti anomali genetik pada sistem saraf manusia. Proyek itu mencari subjek dengan kapasitas lonjakan emosi ekstrem... seperti yang dimiliki oleh garis darah Iwata."

Michiru meletakkan cangkir teh di atas meja, lalu mengambil tempat duduk di samping anaknya. Tangannya bergerak tanpa ragu, menyentuh pundak Emiko, sebuah sentuhan fisik yang kini tidak lagi ia takuti akan membakar isi kepalanya.

Lihat selengkapnya