Apa pendapatmu jika dunia fantasi menjadi kenyataan? Mungkin terdengar konyol, akan tetapi ini adalah keadaan yang terjadi di duniaku. Dulu sekali saat perang dunia telah usai, semua manusia di hadapkan dengan bencana alam yang super besar, bencana yang mengubah setengah gambar peta dunia untuk selamanya. Gempa dahsyat yang membelah tanah dan merobohkan gedung dan hunian hewan, tsunami dan banjir bandang di beberpa titik di bumi, dan kebakaran hutan akibat sambaran petir dimana-mana. Menimbulkan ketakutan dan luka yang dalam bagi mereka yang selamat. Kesenjangan lingkungan dan krisis diberbagai bidang sudah menjadi pukulan yang berat bagi umat manusia. Pristiwa besar tersebut diingat dengan sebutan Impact Day.
Mungkin kalian akan bertanya-tanya kenapa disebut Impact Day? Jawabannya adalah apa yang terjadi setelanya, ada sebuah anomali yang seharusnya tidak pernah ada dunia ini, sebuah gerbang batu besar yang terbuka di tengah-tengah kota. Gerbang yang jumlahnya ada ratusan terbuka di berbagai belahan di bumi, yang menghubungkan dunia manusia dengan dunia lain yang dikenal dengan nama Vatalla. Semenjak saat itu kehidupan kedua dunia itu berubah.
Delapan puluh tahun berlalu, dunia yang dulunya luluh lantak akibat bencana itu telah pulih sekitar 80%, dan kini dunia mengalami kemajuan pesat dimana kearifan dari dua dunia bergabung dan membentuk peradaban yang unik, kini teknologi dan sihir bergabung menjadi satu dan membantu kehidupan orang-orang menjadi lebih baik. Perubahan besar dunia akibat Impact Day juga merubah kalender dunia serta cara hidup manusia.
Saat ini sudah bulan September, ini adalah masa-masa persiapan untuk ujian akhir sekolah. Mahesa Baru saja bangun dari tidurnya saat seseorang mengetuk pintu kamarnya.
“Hoammm… ia sebentar bu.” Jawab Mahesa sambil merengangkan badannya.
“Mahesa bangun, ini sudah setengah tujuh…” Ucap ibunya dari sebalik pintu.
Mendengar perkataan ibunya, ia sepontan melihat jam dari hpnya yang baru selesai di charges.
“Hemmm… setengah tujuh, HUUUUH… A…Aku kesiangan !!, kenapa tidak ada yang membangunkanku ?!” lantang Mahesa.
Terdesak oleh waktu Mahesa bergegas mandi, Sholat Subuh dan berkemas untuk pergi berangkat sekolah. Begitu dirinya siap, dia pun dipanggil oleh ibunya untuk sarapan terlebih dahulu.
“Mahesa… Sini sarapan dulu nanti kelaparan… makan di samping adik mu tuh.” pangil ibunya sembil meletakkan lauk sarapan di atas meja makan.
Mahesa mendekati meja makan. Dia mulai mengambil nasi dan lauk pauk yang ada, sedangkan ibunya menyiapkan bekal mereka.
Mahesa Satria, dia adalah Murit SMA kelas 3 pada Jurusan IPS, sedangkan adiknya bernama Alisyah Satria, dia merupakan siswi kelas dua SMP pada tahun ini, dan ibu mereka bernama Nabila Satria, ibu mereka merupakan ibu rumah tangga dan membuka Café dirumah mereka sebagai sumber penghasilan. Saat ini mereka tinggal di Kota Pekanbaru.
Kehidupan mereka sebenarnya cukup sulit semenjak kepergian dari ayah mereka, namun mereka bisa bertahan berkat usaha ibu mereka yang membuak cafe. Bahkan mereka cukup bahagia karena mereka masih memiliki satu sama lain.
Mahesa yang sedang makan ditanya oleh adiknya, “abang, tadi malam bergadang ya?”.
Mahesa menjawab dengan tenang “Ia, abang baru selesai menyiapkan laporan kerja kelompok tadi malam”.
“kerjakan tugas atau main game hihihi.” Ucap Alishya dengan nada menyindir.
“Ih ini anak sembarangan aja, emang kamu gak lihat teman-teman abang hari minggu kemarin datang kerumah?” ucap Mahesa dengan geram.
“Masa iya, kyaknya enggak deh hihi!” ledek adiknya.
Saat mereka masih mengobrol saat makan, ibu mereka mengatakan sesuatu kepada mereka.
“anak-anak habiskan dulu makanan kalian, lihat tuh udah jam berepa ?” ucap ibu mereka sambil menunjuk jam di dinding.
Seketika mereka menoleh kebelakang, baru mereka sadar waktu untuk pergi kesekolah tinggal 20 menit lagi. Karena waktunya semakin mepet mereka makan dengan tergesa-gesa, sampai tersedak. Lalu mengambil tas dan bekal mereka dan pamit pergi sekolah.
“Ibu kami berangkat sekolah dulu ya” ucap keduanya.
"Hati-hati di jalan yaaaa!" ucap buk Nabila sambil melambaikan tangannya.
Sekolah mereka tidak begitu jauh karena cuman butuh waktu 15 menit ke sekolah Aisyah dan 5 menit lagi untuk sampai ke sekolanya Mahesa. Ditambah mereka juga menaiki sepeda ke sekolah, seharusnya bisa sampai dengan cepat, cuman karena mereka hanya punya satu sepeda Mahesa harus mengantarkan adiknya dulu baru berangkat ke sekolah.
Waktu lonceng berbunyi tingal satu menit lagi, Mahesa langsung memacu sepedanya untuk bisa langsung masuk kedalam gerbang sekolah. Ketika gerbang sekolah hampir tertutup Mahesa berhasil masuk dengan tepat waktu sebelum pagar ditutup.
“Huh.. hampir aja telat” ucap nya sambil menyapu keringatnya.
Saat dia mendengar bell sekolah berbunyi, Mahesa segera menuntun sepedanya ke pakiran karena sebentar lagi akan mulai upacara bendera. Mahesa yang baru saja datang dan mendapatkan barisan paling belakang, namun dia bersukur karena bersebelahan dengan sohibnya yakni Dimas. Mahesa sebenarnya tidak terlalu suka dengan kegiatan upacara bendera karena lama, bikin pegal dan bosan, tapi karena disampingnya ada Dimas mereka bisa mengobrol dengan berbisik agar tidak bosan.
“Dimas, hari ini kelas mana ya yang dapat jatah upacara bendera ?” bisik Mahesa.
“Oh, itu kelas 3A yang dapat giliran” jawab Dimas.
“Hemm, biar kutebak Pasti Pemimpin Upacaranya sih Jhony kan ?” ucap Mahesa dengan pedenya.
“Hehe, kamu yakin dia orangnya ?” jawab Dimas dengan melempar pertanyaan.