Laevateinn Flame

Muhammad Riduwan
Chapter #2

BAB 2-OUT OF CONTROL

       Selama perjalanan menuju tempat evakuasi, Mahesa tak berhenti merasa gelisa, namun dia tidak terlalu over tingking karena ada banyak personel ASSAULT yang mereka lihat ketika mendekati lokasi tujuan, dia berharap kondisi bisa lebih terkendali. Area penjemputan penuh sesak dengan orang tua yang berusaha menjemput anak-anak mereka dari balik garis polisi. Walau sudah jam 15.40, tetapi bus yang ditunggu belum juga muncul.

“Aduh kok lama bangat ya busnya, ini dah mau jam lima sore loh,” ucap Mahesa dengan gelisa.

“Sabar bro, kan jalan LL ini memang agak sempit, mungkin aja putar baliknya susah bangat, makanya lama.” Ucap Dimas dengan logis untuk menenangkan temanya itu.

Ketika jam sudah menujukkan pukul lima sore barulah bus pengangkut berdatangan. Para orang tua yang khawatir mulai tidak sabar utuk membawa anak-anak mereka pulang dengan melewati garis polisi. Jumlah bus yang datang ada lima buah, dan semua bus itu langsung di kerumuni oleh para orang tua, para petugas menjadi kewalahan menghadapi dorongan dan desakan warga. Mahesa yang sudah gelisa langsung maju kedepan.

“Mahesa tunggu jangan gegabah…” ucap Rika yang hedak menggapai Mahesa.

“Percuma ka, kita juga harus masuk cari adik nya” ucap Dimas.

Rika menganggukan kepalanya dan mulai masuk kedalam kerumunan bersama Dimas mengikuti Mahesa. Saat mereka Bertemu kembali dengan Mahesa keduanya menarik dirinya keluar.

“tunggu dulu, kalian kok narik aku keluar sih “ ucap Mahesa yang tampak cemas dan sedikit geram.

“Tunggu dulu bro, lihat bus itu hapir gak ada orang sama sekali sebaiknya kita berpencar dan cari di bus yang lain” ucap Dimas menawarkan idenya nya yang lebih baik.

Seolah menyetujui idenya, Mahesa tanpa pikir panjang langsung menerobos kerumanan pada bus yang lain. Diams dan Rika ikut berpencar untuk mencari adiknya.

             Setelah kesana dan kemari mereka tidak menemukan adiknya Mahesa, Mahesa jadi makin resah karena itu. Ia pun menanyakan kepada petugas yang sedang berjaga.

“Permisih pak saya mau bertanya, apa sudah semua murit SMP di evakuasikan ?” ucap Mahesa yang khawatir.

 “Adik saya belum ketemu pak !” lanjut Mahesa dengan memelas.

Petugas itu pun maju dan menjelaskan keadaan yang sebenarnya, “Tenag dek ini baru rombongan pertama, rombongan kedua sebentar lagi akan datang.” ucap petugas itu yang sedang berjaga.

             Meski sudah dijelaskan untuk tidak kawatir, namun jam sudaj menunjukkan jam 17.15, jelaslah ini sudah semakin genting karena waktunya semakin mepet. Meski demikian para petugas mengumumkan kalau rombongan kedua sudah mulai mendekat, Mahesa yang yang sempat khawatir pun mulai bernapas legah.

             Saat Mahesa hendak berkumpul lagi dengan teman-temannya, dia tidak sengaja menabrak seseorang dengan jaket hitam dengan penutup kepala.

“ Ups… maaf pak saya gak sengaja” ucap Mahesa minta maaf.

             Meski Mahesa mengucapkan kata demikian orang tersebut tidak menoleh apalagi membalas perkataanya. Tapi Mahesa tidak mempermasalahkan itu dan dia mulai berjalan Kembali. Namun saat dia memasukkan tangannya kedalam saku jaketnya, dia merasakan sesuatu di sakunya. Saat dia mengambil benda tersebut ternya ada sebuah amplop. Mahesa terheran karena tidak ingat dia pernah membawa amplop itu.

             Karena pernasaran dengan isi amplop itu, dia membukanya. Isi amplop itu ada sebuah surat dan sebuah liontin dengan batu marun di atasnya. Mahesa merasa keheranan dengan apa yang ia dapatkan. Meski dia penasaran dengan liontin itu, tapi dia lebih penasaran dengan isi surat nya. Mahesa membuka suratnya dan membacanya dengan baik di dalam hatinya. Hai nak, kamu tidak perlu tahu siapa aku, tetapi kamu harus waspada dengan keadaan sekarang, retakan itu akan terbuka lebih awal, segera pergi dari sana dan pakailah liontin itu sebagai jimat perlindungan, semoga kamu bisa Kembali dengan selamat, sekian isi suratnya

Sehabis membaca surat itu Mahesa tidak percaya dengan apa yang dibacanya itu, baginya ini terkesan membual. Dari pada memikirkan sesuatu yang tidak jelas dia pun menyimpan suratnya ke saku jaketnya. Belum sempat Mahesa menyimpannya tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundaknya.

Mahesa tersentaka dan menoleh kebelakang. “HAAAH! siapa itu?!”

“loh Rika toh, bikin kaget saja” ucap Mahesa sambil mengelus dadanya.

             Rika mengeritkan dahinya dan berkata “Sa kamu lagi ngapain, terus itu surat apa?” tanya Rika.

“Aaah… bukan apa-apa kok, i…ini cuman daftar belajaan minggu kemarin kok, aku lupa buang kertas nya” Mahesa ngeles sambil meremas kertas itu dan menyimpannya kedalam saku jaketnya.

 Tak lama Dimas datang dan mulai berbincang dengan kedua temannya.

             Pada markas pusat ASSAULT, tim pengawas sedang sibuk memantau keadaan sekitar dengan menggunaka dron pengawas, mereka memantau perkembangan kondisi retakan sekaligus menyusuri jalan-jalan kecil ,gang dan bangunan sekitar unutk meastikan tidak ada orang yang tertinggal di area retakan. Sementara itu tiga unit sensor pendeteksi energi atma dan juga sebuah sensor pendeteksi miamas terus mencatat perkembangan retakan. Orang-orang di markas pusat terus melaporkan perkembangan kondisi TKP.

Saat semua petugas sedang sibuk bekerja, datanglah seseorang berpangkat jendral menuju kursi ketua pengawas dan mendudukinya, dia adalah Jendral Agus. Semua orang berdiri dan mengucapkan selamat datang kepada Jendral Agus.

“ Selamat Sore Jendral.” Ucap para petugas dengan penuh hormat.

“Selamat sore semua nya, silahkan laporkan kondisi terbaru saat ini” ucap Jendral Agus dengan penuh wibawa.

“Lapor pak, kondisi retakan sudah mencapai 50% dari batas terpecahnya ruang dimensi, Miamas sudah mencapai radius 250 meter, area masih dapat ditangani dengan baik.” Lapor pengawas 1.

 “Lapor pak, proses evakuasi sudah mencapai 70%, sebahagian besar adalah anak-anak SMP dan guru dari sekolah yang tidak jauh dari lokasi retakan.” lapor pengawas 2.

“Bagus terus pantau retakan itu, dan percepat evakuasi, keselamatan warga Harus nomor 1!” Perintah Jendaral Agus dengan tegas.

             Disaat semua para pengawas sedang melaporkan hasil pemantauan, ada salah satu dron yang hilang kontak dengan markas pusat, salah satu pengawas yang menyadari hal itu, melaporkan nya kepada Jendral.

“Pak lapor, dron nomor 16 hilang kontak.”ucap petugas itu.

“apa… kirim dron lain untuk melihat kondisi dron itu,” perintah Jendral Agus.

Dua buah dron dikirim ke lokasi dron hilang itu. Saat mereka melihat kondisi dron nomor 16, dron tersebut seperti terbelah menjadi dua dan terbakar karena batrenya meledak.

“Hemm… apa ada seseorang yang merusak dron itu.”pikir jendral itu sambil menyentuh jangutnya.

“priksa area sekitar, cari penyebab kerusakan dron itu !” perintah dari Jendral.

Saat mereka mengirim dron lain utuk menyisir area itu, dua dron sebelumnya secara tiba-tiba juga ikut mendadak hilang kontak dengan markas.

“Pak dron nomor 18 dan 21 mendadak hilang kontak juga pak” lapor petugas tersebut.

“Cepat kirim beberapa prajurit ke area itu, dan konvirmasikan penyebabnya,” perintah Jendral.

             Sesuai dengan arahan, pihak markas memberikan perintah kepada prajurit terdekat dengan area tersebut. “ kepada para prajurit di sektor 15, diperintahkan untuk mengecek kondisi dron 16, 18 dan 21 dan juga mencari penyebab dron tersebut rusak, serta kalian di perintahkan meyambungkan kamera pengawas pada rompi kalian untuk memberikan visual pada markas.” ucap operator dari markas.

Setelah menerima printah dari markas pusat, squad terdekat pada saat itu mengirim tiga orang anggotnya ke tempat yang dimaksut unutk menyelidiki area tersebut. Ketiga prajurit itu memasang kamera pengawas mereka dan menyusuri sebuah jalan, tak lama mereka menemukan semua dron rusak itu, mereka mulai memeriksa kondisi ketiga unit itu.

“Lapor kepada markas pusat kami menemukan ketiga dron yang hilang, satu dron seperti ditebas sesuatu dan dua lagi seperti terkena tembakkan.” lapor prajurit di TKP.

“apa kedua dron tersebut terdapat serpihan peluru?” tanya pihak operator.

“Tidak, kami tidak menemukan adanya pecahan peluru didalam dron yang rusak,” lapor prajurit di TKP.

“Hem… apa tidak ada seseorang disana ?” tanya Jendral.

Saat Jendral bertanya demikian, orang yang dimaksud muncul dihadapan mereka, dia berdiri di ujung jalan kecil tepat dimana mereka berada.

“Pak kami melihat seseorang yang mencurigakan berdiri di ujung jalan sambil memegang sebilah pedang pendek!” lapor prajurit tersebut sambil menodongkan senapan mesinnya ke arah pelaku.

 “Diam di tempat, jatuhkan senjata mu dan angkat tangan di atas kepala.” perintah prajurit yang hendak menangkap pelaku.

Namun belum sempat pelaku ditangkap, pelakunya tiba-tiba saja menghilang dari pandangan mereka. Beberapa detik kemudian pelaku mucul di belakang mereka, saat mereka baru menyadari keberadaan pelaku dan hendak membalikan tubuh mereka, seketika mereka semua tumbang. Monitor yang menampilkan tanda vital ketiga prajurit itu menjadi nihil kehidupan, semua orang langsung tau jika ketiganya telah tewas ditempat.

             Melihat bawahannya dibantai oleh orang tidak dikenal Jendral Agus langsung bertindak, “Naikkan level 1 menjadi level 2, tangkap pelaku pembunuhan itu!!” perintah Jendral dengan nada marah.

“siap pak,” ucap para petugas.

Para petugas pengawas langsung memberikan transmisi berisi berita penangkapan terhadap pelaku, sebahagian prajurit mulai bergerak menagkap pelaku, sedangkan yang tersisah fokus mempercepat evakuasi. Melihat perubahan pada formasi prajurit di area evakuasi, Mahesa, Diams dan Rika menyadari ada yang gak beres di TKP. Mahesa yang perna saran dengan apa yang terjadi pun bertanya pada petugas yang ada di depannya.

“Pak ada apa ya, kok ada banyak perajurit yang pergi meninggalkan posisi disini.” Ucapnya dengan penasaran.

“Barusan dilaporkan ada kejadian pembunuhan oleh orang gak dikenal, maknya sebahagian orang di kirim untuk menagkap pelaku, adek sebaiknya sedikit menjauh ya dari garis polisi.” penjelasan dari petugas.

Mahesa yang peka menyadari ada yang janggal, “guys kesinih deh, kalian dengar gak apa yang di katakana petugas barusan” bisik Mahesa kepada teman-temannya.

“Ya kami dengar kok, emang kenapa,” tanya Rika.

“Menurutku ada yang aneh, kalau benar cuman pembunuhan biasa mereka tidak perlu sampai berramai-ramai untuk menagkap pelakunya kan?” ucap Dimas.

“Betul itu, menurut ku ada kemungkinan mereka berhadapan dengan orang yang gak biasa,” ucap Mahesa kepada kedua temannya.

“Guys, berteori boleh aja tapi sebaiknya kita fokus saja menjemput Alisyah, bentar lagi rombongan kedua hampir tiba,” ucap Rika.

             Mereka yang tadi teralihkan berita pembunuhan mulai fokus dengan tujuan utama mereka berada di sini. Saat pintu bus mulai dibuka Mahesa dan kedau temannya mulai berpencar dan mencari Alisyah. Lima menit kemudian mereka berkumpul hanya untuk menghela nafas mereka karena Alisyah tidak ada di rombongan itu. Mahesa mulai panik karena waktunya sudah menunjukkan jam 17.30 kalau mereka tidak bisa menemukan Alisyah maka mereka gak akan semapat mengungsi ke dalam bungker terdekat.

Lihat selengkapnya