Laevateinn Flame

Muhammad Riduwan
Chapter #3

BAB 3 - LIVE OR DEAD

Kondisi yang dialami oleh rombongan Mahesa sangat genting, tepat di depan mereka ada bungker namun dihalangi oleh Phantom Cerberus, sedangkan di sekitar mereka cuman ada gedung-gedung biasa yang tidak anti terhadap serangan monster. Jika mereka lari secara gegabah mereka akan langsung tertangkap oleh monster itu, karena monsternya tepat dihadapan mereka, dan jika hanya mengharapkan bantuan dari prajurit ASSAULT, mereka pasti akan mati lebih dahulu. Dibawah tekanan hidup atau mati mereka harus melakukan sesuatu untuk bertahan hidup.

Mahesa yang tidak ingin mati konyol disini mencari cara untuk selamat dari monster itu. Hari semakin gelap, dan sekarang sudah pukul 18.30, Mahesa terus melihat kesekitarnya untuk mencari sesuat yang berguna untuk meloloskan diri dari monster itu. Saat dia menoleh kearah kanan bawahnya, dia melihat ada sebuah Flare Gun dengan tiga buah peluru suar cadangan yang tidak jauh dari mereka. Mahesa memutar badanya kebelakang dengan pelan, kemudian memberikan adiknya yang kepada Dimas.

“Dimas tolong jaga adikku sebentar saja,” pinta Mahesa kepada temannya.

“Buat apa, apa kau ada rencana ?” tanya Dimas sambil menggendong Alisyah. “Ya, aku punya rencana yang bagus” jawab Mahesa sembari bergerak dengan perlahan ke arah Flare Gun itu.

             Mahesa bergerak dengan sangat perlahan sambil tetap waspada pada gerakan monster itu. Monster itu terus menatap tajam kearah mereka sambil menggerang. Mahesa meraih pistol itu, setelah dapat dia membuka larasnya dan mengisinya dengan amunisi. Mahesa mulai membidik makhluk itu dan sebelum dia menembak dia berkata kepada teman-temannya,

“Guys dengarkan aku, saat aku memberikan aba-aba untuk lari, larilah sambil mengikuti aku ketempat yang aman.”ucapnya sambil membidik.

Mendengar perkataan Mahesa, Rika bertanya dengan lirih “L-lari, lari kemana ?”.

“Tidak tau, yang jelas tidak disini, bungkernya udah gak mungkin dijangkau, kita pasti mati kalau nekat lari kebelakang monster itu” Jawab Mahesa dengan nada yang rendah.

             Tanpa ada basa-basi Mahesa mengangkat pistol itu dan membidik tepat kearah wajah Cerberus itu. Pelatuk ditarik dengan hati-hati.

DOOOR…

Peluru melesat dan menghantam wajah monster, seketika pelurunya bersinar dengan  terang. Terangnya cahaya peluru itu membutakan mata monster. Melihat perhatian Makhluk itu buyar karena suarnya, Mahesa meneluarkan aba-aba “Lari ke jalan disana.” sambil berlari dengan cepat. Rika dan Dimas berlari dengan cepat mengikuti Mahesa kearah jalan sempit itu. Jalan itu ternyata mengarah area pembangunan gedung-gedung tua yang sedang diremajakan.

             Sembari berlari Mahesa kembali mengisi pistol itu. Nafas mereka terengah-engah karena terus berlari dan berlari tanpa henti. Saat mereka berlari. Dimas bertanya kepada Mahesa, “Bro… Huff…Huff…apa rencanamu, puf…hah… kenapa kita malah pergi ke sini?”

Mahesa pun menjawab “Huff… huff… A-area ini pasti memiliki bahan material atau bahan kimia y-yang berbau menyengat, K-kalau kita bisa mendapatkannya kita bisa menyembunyikan bau badan kita, makhluk itu pasti kesulitan mencari kita.” ucap nya dengan nafas nya yang terasa berat.

             Beberapa saat kemudian mereka sampai ke area peremajaan kota. Terlihat ada banyak konstruksi bangunan bertingkat yang setengah jadi dan peralatan berat. Mereka terhenti sejenak karena besarnya bangunan-banguna dan alat-alat berat yang terpakir di sekitarnya. Tapi saat mereka berjalan perlahan mereka melihat ada sejumlah tong bahan kimia mudah terbakar, terpal yang sangat lebar dan juga beberapa balok kayu yang cukup banyak.

             Saat mereka berjalan melewati tong-tong itu, Rika tidak sadar jika ada lunbang didepanya.

“Rika BERHENTI…” ucap Mahesa sambil berlari kearah Rika.

Rika yang mendengar pangilan Mahesa menoleh kearahnya yang sedang berlari “Huuuh.. ada ap- huaaah” teriak Rika karena terperosok kedalam lubang.

Tepat sebelum Rika terjatuh ke dalam lubang itu, Mahesa berhasil menangkap Rika dan menariknya keluar.

“Huf… hampir saja, Rika hati-hati saat berjalan, coba kamu lihat apa yang ada di dalam lubang itu!” ucap Mahesa.

Mahesa mengeluarkan HP nya dan menyalakan flash light, Rika terkejut melihat apa yang ada didalam lubang besar itu. “Iiiih… Apa itu kenapa ada banyak batang baja disana ?!” tanya Rika.

Mahesa memberikan penjelasan, “Ini adalah struktur pondasi bangunan yang belum selesai, batang baja itu adalah tulangan pondasi yang dimasukkan kedalam beton, jika kamu jatuh kedalam lubang itu kamu bisa tertancap dan langsung mati”.

Dimas menghampiri mereka yang sedang terduduk didekat lubang besar itu, saat melihat kedalam lubang itu dia mendapatkan ide yang cukup bagus.

“Mahesa aku punya ide yang bagus nih!” ucap Dimas dengan tersenyum.

“Huh… apa itu?” tanya Mahesa.

Dimas menjelaskan idenya dengan singkat “Begini dari pada kita menyamarkan bau kita kenapa kita jatuhkan saja monsternya kedalam lubang ini sambil kita bakar dia”, mendengar ucapan Dimas, Mahesa dan Rika memandangi lubang, lalu ke pistol dan kemudian drum bahan kimia yang tadi mereka lihat, seketika mereka full senyum dengan idenya Dimas barusan.

Setelah menyembunyikan Alisyah ke sebuah banguan, mereka kerja keras membuat jebakan untuk monster itu. Mereka menggulingkan drum-drum itu, karena merka gak bisa membuka tutup drumnya mereka mendorng drum itu kedalam lubang dan membiarkan drum itu bocor terkena tulangan baja. Setelahnya mereka mengambil beberapa balok kayu dan menyusunnya diatas lubang dengan posisi menyilang, setelahnya mereka menutup lubang itu dengan terpal hitam. Setelah selesai mereka Menyusun rencana untuk memancing monster itu ke jebakan.

“Jadi bagai mana kita memancing makhluk itu jatuh kedalam lubang ini ?” tanya Rika.

“jadi begini saja, satu diantara kita menjadi umpan, dia akan berlari memancing monster mendekati lubang, saat monster memijak terpal itu, monster akan terjatuh kedalam lubang karena kayunya patah dengan berat badannya, barulah kita tembak cairan kimia nya dengan flare gun untuk membakarnya” ucap Mahesa dengan ditel.

“Gitu doang, terus siapa yang jadi umpannya ?” tanya Dimas sambil memandangi kedua nya.

Rika dan Mahesa melirik kearah Dimas,  merasa ada yang aneh dia pun bertanya “ Huh kenapa kalian melirik ku ?!” Tanya Dimas yang heran.

“Ooh ayolah masa aku sih!” protes Dimas saat dia tau dirinya yang dimaksud.

Mahesa pun bertanya kepada Dimas, “Mas emag kamu bisa menembak ?, kamu aja RIP Aim banget, itu pun kalah pas nantang aku main di arcade games pas minggu kemari.” ucapnya sambil mengangkat bahunya.

Tidak terima dengan perkataan barusan, Dimas pun bertanya kepada Rika “Rika kenapa gak kamu saja ?”

“Hello elu tega ya sama cewek super imut ini ??!” ucap Rika sambil meletakkan telunjuknya ke depa bibirnya.

“Huuuuh… suek maksimal,” Dimas pasrah dengan keadaannya.

             Saat mereka masih berdiskusi, dari jauh mereka mendengar suara yang keras. RRRROOOOOOAAAARRR!

Mereka tahu kalau Cerberus hampir sampai. Dengan persiapan yang mereka buat, mereka menguatkan mental mereka. Hidup atau mati, hanya itu pilihan yang mereka punya. Apa pun caranya mereka harus bisa pulang dengan selamat.

             Mereka mulai mengambil posisi mereka masing-masing. Rika menjaga Alisyah disebalik gedung yang jauh dari lubang jebakan. Mahesa naik ke lantai dua dari gedung yang dekat dengan lubang dan bersiap untuk menembak. Sedangkan Dimas mengambil posisi di belakang lubang, sedikit jauh dari lubang itu agar tidak terjatuh.

             Semua orang sudah mengambil posisi mereka. Kini yang perlu mereka lakukan adalah menunggu dengan tenang. Dari jauh mereka bisa mendengar langkah kaki yang berat, bau amis yang pekat tercium. Suara geraman yang mengetarkan mental mulai terdengar.

Gerrrrrrr…

Rasa merinding yang menyeruak di sekujur tubuh mereka. Dari kejahuan Monster yang mereka tunggu pun tiba. Berjalan dengan perlahan Cerberus mendekati mereka dengan aura yang mengintimidasi. Sesaat mereka merasa menyesal dengan keputusan yang mereka ambil, namu kini tidak ada kata mundur. Dimas yang paling tertekan pun mulai memancing monster itu.

“HEI 4NJ*NG g!L4, ADA DAGING SEGAR SEDANG MENARI DISINI, KALAU GAK MAU AKU LARI AJA NIH” sorak Dimas memancing monster itu.

             Cerberus yang terprovokasi dengan tindakan Dimas, mulai mengambil ancang-ancang dan berlari dengan sangat cepat kearah buruannya. Dimas pun mengambil ancang-ancang untuk berlari, monster itu semakin mendekat, semakin dekat, semakin dekan dan semakin dekat, tinggal sedikit lagi dan Dimas melompat sekuat tenaga, menjahui lubang itu.

             BRUUUK… GROOOOAAAR!!!

Monsternya terperosok kedalam lubang. Tubuhnya tertancap dengan tulangan besi baja itu dan terlumuri dengan cairan kima mudah terbaka. Melihat kesempatan sudah tiba, Mahesa langsung menembak tepat kearah genangan cairan itu.

Dalam konstruksi, sering sekali ada bagian yang tidak rapi ketika dicetak atau di tempelkan seperti silicon atau sisa-sisa cat yang berceceran. Maka dari itu, mereka selalu menyediakan tiner untuk membersihkan zat sisah tersebut. Bahan itu selalu disimpan dalam kemasan tertutup agar tidak menguap ataupun tumpah. Dalam proyek peremajaan kota ini, mereka menyimpan dalam jumlah banyak dalam tong, dan itu tong yang sama dengan tong yang sudah dijatuhkan Mahesa dan kawan-kawannya.

DOOOR… BOOOMMM…SWOOOORRR…

Seketika terjadi ledakan besar dan api berkobar hingga keluar dari lubang itu.

GROOOR….GROOO….GROOOOOOOORRRR…. 

Monster itu meraung kesakitan karena tubuhnya dilalap si hjago merah.

Lihat selengkapnya