Lahir Dari Luka

Camèlie
Chapter #2

Bab 2 - Topeng Peringkat Satu

Bagi Lana, senyum itu ada hitungannya.

Satu—tarik sudut bibir kiri.

Dua—tarik sudut bibir kanan.

Tiga—biarkan mata menyipit sedikit, cukup untuk terlihat tulus.

Begitu mobil sedan hitamnya berhenti di area drop-off SMA Pelita Bangsa, Lana melakukan hitungan itu dalam hati. Satu. Dua. Tiga. Topeng terpasang.

Pak Ujang membukakan pintu. Begitu kaki Lana yang berbalut loafers kulit mengilap menyentuh aspal, dunia seolah menggelar karpet merah. Ia berjalan menyusuri koridor dengan punggung tegak. Tas branded di bahunya berayun seirama langkah kakinya, memancarkan aura mahalnya tanpa perlu bicara.

"Pagi, Lana!"

"Lan, skincare lo apa sih? Kok bisa glowing banget kayak nggak punya pori-pori."

"Gila, itu tas keluaran baru kan? Bagus banget cocok sama lo!"

"Muka lo nampang lagi dong di mading depan. Fix sih, genius is your middle name!"

Lana membalas sapaan mereka dengan anggukan sopan yang terukur. Di mata teman-temannya, Lana adalah definisi kesempurnaan: Ikon sekolah, Juara Umum, Putri Sempurna.

Mereka tidak tahu, di balik seragam yang licin itu, punggung Lana basah oleh keringat dingin. Setiap pujian terasa seperti batu tambahan yang diletakkan di pundaknya. Lana terus melangkah, berusaha tidak goyah oleh beban tak kasat mata itu, melewati sosok yang berdiri menepi di pinggir koridor.

Sosok itu adalah Dewi Fortuna.

Dewi masuk gerbang di detik yang sama. Ia memakai seragam yang sama. Tapi saat Lana disapa kiri-kanan, Dewi harus memiringkan tubuhnya, menyingkir ke tepi koridor agar tidak tertabrak siswa-siswa yang berebut ingin berjalan di samping Lana.

Dewi memeluk buku paket tebal perpustakaan di dadanya. Ia menatap punggung Lana di depannya. Punggung yang tegak, rambut yang wangi sampo mahal, dan langkah kaki yang ringan.

Enak ya jadi Lana, batin Dewi. Langkahnya ringan banget. Kayak nggak napak di bumi.

Dewi menunduk, melihat sepatu kanvasnya sendiri. Bagian jempolnya sudah mulai tipis. Semalam ia begadang sampai jam dua pagi untuk menghafal Biologi, lalu bangun jam empat subuh untuk membantu ibunya menyikat tumpukan cucian tetangga. Sedangkan Lana? Lana terlihat seperti baru bangun dari tidur cantiknya di kasur empuk, langsung siap menaklukkan dunia tanpa keringat.

Mereka masuk ke kelas XII IPA 1.

"Pagi, Lana," sapa Dewi pelan saat duduk di bangkunya.

Lihat selengkapnya