Bel pulang sekolah berbunyi. Bagi Lana, ini bukan tanda kebebasan, melainkan aba-aba pergantian babak.
Lana membereskan bukunya dengan gerakan lambat. Pikirannya masih tertinggal di tempat sampah pojok kelas, pada kotak bekal yang kosong. Rasa bersalah menempel di kulitnya. Lambungnya kembali melilit, protes atas kekosongan yang dipaksakan.
"Lan? Melamun terus."
Lana mendongak. Julian sudah berdiri di samping mejanya. Seragamnya dikeluarkan. Dasi sekolahnya longgar, lengan kemejanya digulung asal sampai siku.
"Hei," sapa Lana lelah.
"Muka jangan ditekuk gitu dong. Nanti cantiknya luntur," goda Julian sambil menarik kursi di depan Lana, duduk menghadapnya.
"Apaan sih, Jul." Lana mencoba tersenyum, meski bibirnya terasa kaku.
"Nih, buat kamu." Julian menyodorkan sebatang cokelat.
Lana menerimanya, lalu keningnya berkerut. Bungkus cokelat itu tidak mulus. Di permukaannya tertempel dua lembar sticky notes kuning cerah penuh coretan tinta pulpen hitam. Gambar itu abstrak, tarikan garisnya berantakan.
"Ini apaan?" tanya Lana bingung.
"Itu mahakarya aku pas jam terakhir tadi," Julian nyengir lebar. "Daripada tidur dengerin Pak Bambang dongeng Sejarah, mending aku menggambar masa depan kita. Nih, yang bulat ini aku, yang segitiga di sebelahnya itu kamu."
Lana menatap gambar segitiga itu. Saat Lana sibuk mencatat setiap kata guru sampai tangannya kram agar tidak ada materi yang terlewat, Julian justru sibuk menggambar karena bosan.
"Jelek banget gambarnya," komentar Lana jujur, tapi tangannya tetap menggenggam cokelat itu erat.
"Seni itu emang nggak bisa dimengerti semua orang, Lan," canda Julian. "Dimakan ya, biar mood kamu naik."
"Makasih," jawab Lana pelan.
"Eh, hari ini aku nggak bawa mobil," kata Julian. "Supirku lagi jemput Mama arisan. Pulang bareng aku yuk? Kita jalan kaki sampai depan komplek?"
Lana terdiam. Jantungnya berdegup kencang.
Di mata satu sekolah, Julian adalah trofi berjalan yang melengkapi citra sempurna Lana. Dia tampan, atletis, dan berasal dari keluarga yang setara dengan Lana. Tapi mereka salah. Bagi Lana, Julian bukan sekadar pajangan. Di dunianya yang hitam-putih, Julian adalah satu-satunya percikan warna yang berani ia miliki. Mencintai Julian adalah satu-satunya bentuk pemberontakan yang Lana lakukan di belakang punggung Ibunya.
Julian sering menyebut hubungan mereka backstreet sambil cengar-cengir. Bagi Julian, sembunyi-sembunyi dari orang tua itu hal yang seru, bumbu romantis ala film remaja. Dia pikir, risiko terburuk kalau ketahuan paling hanya disita ponsel atau dipotong uang jajan.
Dia tidak tahu kalau di rumah Lana, aturannya berbeda. Bagi Lana, ini adalah rahasia paling berbahaya yang ia jaga mati-matian.
Lana hendak menolak. Risikonya terlalu besar. Namun, ponsel di saku roknya bergetar. Ia mengecek layar. Pesan dari Pak Ujang.
Non, ban bocor kena paku. Bapak lagi ganti ban dulu. Telat 15 menit ya, Non.
Lana menatap layar itu lama. Lima belas menit.
Biasanya, keterlambatan begini bikin Lana gelisah. Tapi hari ini, rasanya justru melegakan. Semesta memberinya celah waktu.
"Supirku telat," kata Lana, menatap Julian. "Bannya bocor."
Mata Julian langsung berbinar. "Wah, pas banget dong. Yuk? Nunggu di perempatan depan aja biar Pak Ujang gampang nyarinya."
Lana mengangguk pelan. "Oke. Tapi cuma sampai perempatan."