Lampu koridor sudah mati, menyisakan sekolah dalam kegelapan pekat. Hanya percakapan samar dua penjaga sekolah di pos depan yang memecah keheningan. Namun, di lantai dua, seberkas cahaya biru pucat merembes dari celah pintu laboratorium komputer yang tertutup rapat.
Dewi Fortuna masih di sana. Ia telah berbohong pada penjaga sekolah, beralasan harus melakukan pembaruan antivirus agar komputer sekolah aman besok pagi. Faktanya, hanya satu komputer di pojok ruangan yang menyala.
Di layar monitor, kursor Dewi berkedip-kedip, menanti perintah. Sebelum memulai, Dewi memikirkan skenario apa yang paling pas untuk menjatuhkan Lana Anindya.
Rokok? Terlalu biasa. Narkoba? Terlalu berisiko, bisa-bisa polisi turun tangan. Ia butuh sesuatu yang menyerang moral.
"Skandal..." gumam Dewi dengan senyum pahit.
Di sekolah elit yang memuja citra santun dan berintegritas ini, jejak digital yang tidak senonoh adalah hukuman mati sosial. Sedikit skandal kecil akan membuat pihak sekolah panik. Siswa berskandal tidak mungkin dilibatkan dalam OSN. Pasti sekolah langsung mencoret nama Lana demi menyelamatkan wajah institusi.
Jari Dewi bergerak sibuk di atas keyboard. Posisi Dewi sebagai asisten lab membuatnya punya akses jalur belakang untuk masuk ke file dokumentasi sekolah.
Layar menampilkan ribuan folder. Dewi mencari video profil sekolah. Ia butuh wajah Lana yang jelas, bergerak, dan hidup.
Di layar, wajah Lana muncul. Gadis itu tersenyum lembut, berbicara tentang tata krama dan kebanggaan sekolah. Senyum itu begitu tulus.
Ada rasa mual yang tiba-tiba mendesak di perut Dewi. Ia tahu apa yang akan ia lakukan adalah hal kejam. Mengambil wajah sepolos itu dan menempelkannya pada sesuatu yang kotor.
Dewi mengunduh video itu, lalu menyimpannya jauh di dalam folder tersembunyi yang tidak akan ditemukan orang lain. Ia menamainya: PROYEK KACA PECAH.
Di jendela lain, Dewi sudah menyiapkan bahan bakunya. Sebuah video pendek berdurasi dua belas detik dari internet.
Video itu buram karena direkam malam hari di dalam mobil yang gelap. Namun, justru kualitas buruk itu yang Dewi butuhkan. Cahaya remang lampu jalan menyapu wajah seorang wanita dan laki-laki di kursi pengemudi. Mereka memakai kemeja yang tampak seperti seragam sekolah. Wajah prianya tertutup bayangan, tapi wajah wanitanya terlihat cukup jelas untuk dimanipulasi.
Proses penyuntingan dimulai.
Jari-jari Dewi bekerja cepat. Anehnya, ada pertarungan hebat dalam dirinya. Hatinya berteriak, Apa aku benar-benar sejahat ini?, namun tangannya terus bergerak lincah.
Setiap kali ia menempelkan wajah Lana ke video itu, rasa bersalah menusuk dadanya. Ia melihat senyum Lana di layar yang ia rusak sedikit demi sedikit.
Dewi sempat berhenti. Kursornya melayang di atas tombol Cancel. Ia bisa berhenti sekarang. Menghapus semuanya dan pulang sebagai orang baik.
Tapi kemudian bayangan wajah ibunya yang kelelahan melintas. Bayangan Dani. Bayangan Bapak.
"Ini bukan soal jahat atau baik," bisik Dewi pada dirinya sendiri, mencoba membenarkan tindakannya. "Ini pertukaran nasib."
Dewi menelan ludah, menekan rasa ibanya dalam-dalam, lalu melanjutkan pekerjaannya. Ia membuat tempelan wajah Lana menjadi agak kabur dan berbintik, menyatu sempurna dengan video asli yang kualitasnya rendah.
Tiga jam berlalu. Suara kipas komputer menderu kencang.
Proses Selesai.