Lahir Dari Luka

Camèlie
Chapter #7

Bab 7 - Notifikasi Kiamat

Lana melangkah masuk ke lobi sekolah dengan langkah tergesa. Di tangannya, map plastik bening berisi formulir OSN ia dekap erat tepat di tengah dada. Sudut map itu menekan kulit lengannya, memberikan rasa sakit kecil yang menjaganya tetap sadar.

Lana memasuki koridor utama.

Biasanya ada sapaan, ada tawa. Tapi pagi ini, koridor terasa memiliki frekuensi yang berbeda.

Beberapa siswa yang bergerombol di dekat mading mendadak diam saat Lana lewat. Mata mereka mengikuti gerakan Lana dari ujung kaki sampai ujung kepala. Ada bisik-bisik yang tertahan, tatapan mereka tajam dan penuh tuduhan.

Lana merasakan lehernya menegang. Jantungnya berdegup kencang.

Kenapa mereka melihatku seperti itu?

Lana refleks menyentuh rambutnya. Apa kunciranku miring?

Tangannya turun meraba kerah seragam. Apa kancingku terlepas satu? Apa ada noda di rok belakangku?

Lana merasa seperti ada yang cacat pada dirinya yang tidak ia sadari. Ia menunduk sekilas, mengecek ujung seragam dan kaos kakinya. Bersih. Putih. Rapi. Tidak ada yang salah. Tapi tatapan mereka membuatnya merasa telanjang dan kotor.

Ting.

Satu notifikasi ponsel berbunyi nyaring, memecah kecemasannya.

Ting-ting.

Disusul bunyi lain dari saku siswa di sebelah kiri. Lalu kanan. Bunyi itu bersahutan seperti peringatan bahaya.

Lana tidak berani menoleh. Ia mempercepat langkah, memeluk map itu semakin erat sebagai tameng, berusaha menjaga pandangannya tetap lurus ke depan meski rasanya ingin lari.

Ia mendorong pintu kelas XII IPA 1.

Raka sedang duduk di atas meja guru, kakinya berayun santai. Saat melihat Lana, ayunan kakinya berhenti.

"Nah, ini dia bintangnya," ucap Raka. Suaranya tidak keras, tapi cukup untuk membuat satu kelas menoleh serentak.

Lana berjalan menuju kursinya tanpa membalas, berusaha menyembunyikan tangannya yang mulai gemetar. Ia meletakkan map di atas meja.

Ia duduk. Semua orang menatap Lana, kecuali Dewi. Gadis itu menatap kosong ke buku paket yang terbuka. Seolah sedang membaca, padahal buku itu masih menunjukkan halaman yang sama seperti saat pertama kali Dewi membukanya. Kuku ibu jarinya terus-menerus mengelupasi kulit kering di pinggir kuku telunjuknya sampai merah.

"Cek grup angkatan, Lan," suara seseorang dari belakang. Datar. Tanpa empati.

Lana merogoh saku, mengeluarkan ponsel. Tangannya licin oleh keringat dingin. Ia membuka layar.

Video itu berputar otomatis.

Lana berhenti bernapas.

Visual itu terlalu tajam. Wajahnya. Rambutnya yang selalu ia ikat rapi, kini berantakan di layar itu. Sosok perempuan di video itu sedang mencium seorang laki-laki di dalam mobil dengan cara yang liar. Tidak ada keanggunan. Tidak ada keteraturan.

Itu kekacauan. Dan wajah Lana ada di tengah kekacauan itu.

Lihat selengkapnya