Langit Jakarta sore itu abu-abu pekat. Angin kencang menggoyangkan dahan pohon di sepanjang jalan perumahan yang senyap.
Sebuah sedan sport berhenti di depan gerbang besi hitam setinggi tiga meter. Mesin dimatikan, namun pintu pengemudi tak kunjung terbuka. Di dalam, Julian mencengkeram setir dengan telapak tangannya yang basah. Ia menatap interkom di pilar pagar.
Julian menarik napas panjang, meraih paper bag kecil di kursi penumpang, lalu keluar. Ia menekan bel.
Hening.
Ia menekan lagi, kali ini lebih lama.
Pintu kecil di samping gerbang utama terbuka dengan bunyi klik. Julian menegakkan punggung, berharap melihat wajah Lana.
Yang muncul adalah wanita dengan gaun rumahan berwarna biru tua. Wajahnya kaku, rambutnya digelung presisi tanpa satu helai pun yang keluar dari tempatnya.
Mata wanita itu menyipit, memindai Julian dari ujung rambut, jam tangan di pergelangan, hingga mobil sedan mengilat di belakang punggungnya.
"Siapa kamu? Mau apa?" tanya wanita itu datar.
Julian menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering di bawah tatapan itu.
"Sore, Tante. Saya Julian... saya teman sekolah Lana."
Mata Maya tidak berkedip. Tatapannya memindai Julian, lalu beralih ke mobil mewah di belakangnya.
"Teman," ulang Maya pelan. Nada suaranya penuh selidik.
"Iya, Tante."
Maya melangkah maju satu langkah. Aura dinginnya menembus pagar.
"Anak laki-laki, datang sendirian ke rumah teman yang sedang kena skandal memalukan," Maya memiringkan kepalanya sedikit. "Niat sekali kamu untuk ukuran teman."
Julian tergagap. "Saya... saya cuma khawatir dengan keadaan Lana, Tante."
"Khawatir?" potong Maya cepat. Matanya menajam.
Julian terdiam, lidahnya kelu.
Maya menangkap keraguan itu. Instingnya langsung menyambar.
"Kenapa?" Suara Maya masih rendah tapi menekan. "Kamu bilang kamu teman. Tapi teman biasa tidak akan segugup ini."
Maya mendekatkan wajahnya ke wajah Julian yang hanya terhalang besi pagar.
"Atau jangan-jangan..." Maya memberi jeda yang menyiksa. "Kamu laki-laki yang ada di video itu?"
"Bukan, Tante! Sumpah bukan!" seru Julian panik.
"Jangan bohong!" bentak Maya. "Kalau bukan kamu, kenapa kamu datang ke sini pasang muka bersalah seperti itu? Kamu pelakunya, kan?"
"Bukan! Saya tidak akan datang ke sini kalau saya pelakunya!"
"Lalu karena apa?!"
"Karena saya… saya... pacar Lana, Tante!"
Jawaban Julian menggema di jalanan sepi itu.
Satu kata itu. Pacar.
Dunia di sekitar Maya seketika miring. Udara mendadak terasa tipis, seolah oksigen di sekitarnya disedot habis.
Dengungan ngilu menusuk telinga Maya. Suara angin sore yang menderu perlahan berubah menjadi suara riuh kampus belasan tahun lalu.
Mata Maya berkedip sekali, dan saat terbuka kembali, sosok pemuda di balik pagar besi itu bukan lagi Julian.
Bayangan itu tumpang tindih. Kemeja Julian berubah menjadi kemeja flanel kotak-kotak. Wajah bersalah Julian berubah menjadi wajah dingin yang menatapnya tanpa belas kasih.
Itu Bram.
Maya mencengkeram besi pagar yang dingin. Kakinya terasa goyah, tapi ia mematung, terjebak dalam ilusi waktu yang pecah.
"Saya minta maaf, Tante..." Suara Julian terdengar jauh, seperti bergema dari dalam terowongan. "Saya pacarnya, tapi saya pengecut."
Pengecut.