Lahir Dari Luka

Camèlie
Chapter #9

Bab 9 - Penjara Tanpa Jeruji

Kehidupan Lana adalah sebuah algoritma. Bangun, bersiap, berprestasi.

Pada hari pertama skorsing, sistem itu masih berjalan otomatis. Lana tidak sadar bahwa hidupnya sudah berubah total.

Pukul lima pagi, matanya terbuka. Ia bangun, mandi, dan memakai seragam sekolah, siap untuk turun sarapan. Ia duduk di meja rias, menyisir rambut, lalu membuka buku catatan kecil untuk mengulang pelajaran, persis seperti ratusan pagi sebelumnya.

Tok. Tok.

Lana menutup bukunya, bersiap berdiri. "Masuk."

Pintu terbuka. Bik Surti masuk membawa nampan berisi roti dan susu. Langkah Lana terhenti. Keningnya berkerut.

"Loh, Bik? Kok diantar ke sini? Lana mau turun."

Bik Surti menunduk, menghindari tatapan Lana. "Maaf, Non. Ibu pesan... Non Lana jangan keluar kamar dulu. Makanannya harus diantar."

Bik Surti menatapnya dengan pandangan campuran antara bingung dan iba.

"Non Lana..." panggil Bik Surti pelan. "Kok sudah rapi? Kan... Ibu bilang Non Lana nggak sekolah hari ini."

Kalimat itu menghantam Lana lebih keras daripada bentakan ibunya kemarin.

Nggak sekolah.

"Sarapannya dimakan ya, Non. Terus istirahat lagi aja. Tidur lagi," lanjut Bik Surti, meletakkan nampan di meja kecil dekat jendela, lalu buru-buru keluar seolah tak tega melihat pemandangan di depannya.

Pintu tertutup kembali.

Lana menatap pintu kayu itu dengan napas tertahan.

Istirahat? Tidur lagi?

Instruksi itu terdengar asing. Konsep istirahat di pagi hari adalah anomali.

Baru saat itu Lana menyadari ada yang benar-benar berubah di kamarnya. Ponselnya tidak ada di meja. Tasnya terbuka, tapi laptopnya lenyap. Lampu indikator Wi-Fi mati. Tidak ada bunyi notifikasi. Tidak ada getaran. Tidak ada dunia luar yang bisa ia sentuh.

Ia disuruh berhenti. Disuruh tidur. Disuruh tidak ke mana-mana.

Ia merasa seperti konten yang tidak diinginkan di layar ponsel, dirinya baru saja di-scroll, digeser cepat dan disingkirkan begitu saja dari dunia yang selama ini ia jalani.

Lana berjalan ke jendela dan mengintip keluar. Matahari pagi bersinar cerah. Di halaman, Pak Ujang sedang mencuci mobil dengan santai. Jalanan di depan rumah tampak hidup. Tampak orang-orang berangkat kerja, anak-anak berseragam melintas.

Dunia tetap berjalan. Hanya dirinya yang terhenti.

Kepanikan muncul pelan-pelan, merayap dingin di tengkuknya. Aku harus ngapain sekarang?

Jika ia diam, ia akan gila. Lana mencoba bertahan dengan satu-satunya hal yang ia kenal: menjadi siswi teladan.

Ia melirik jam dinding. Pukul 07.30.

"Fisika," gumamnya.

Ia mengambil buku paket Fisika, membuka bab terakhir yang dipelajari di sekolah dan mulai mengerjakan soal. Ia tidak membiarkan pikirannya kosong.

Pukul 09.00. Ia menutup buku Fisika, menggantinya dengan Biologi. Ia menyalin skema pembelahan sel.

Ia terus mengikuti roster pelajaran sekolah, jam demi jam, meski tidak ada guru, tidak ada kelas, dan tidak ada bel. Ia membuka buku sesuai jadwal, seolah sekolah masih membutuhkannya. Semua itu dilakukan di kamar yang sunyi, tanpa tujuan, tanpa penilaian.

Siang harinya, pintu kembali diketuk.

Lihat selengkapnya