Obat penenang itu mulai bekerja. Denyut di kepala Maya melambat, kelopak matanya terasa semakin berat. Ia mencoba memejamkan mata, berharap gelap akan membawanya tidur tanpa mimpi.
Namun, di keheningan kamar mewahnya, pikiran Maya justru menolak istirahat. Dinding-dinding kamarnya seolah meleleh, menyeretnya mundur paksa ke masa lalu yang selama ini ia coba lupakan.
Tiba-tiba, ia tidak lagi berbaring di kasur empuk. Ia merasa sedang duduk di kantin kampus yang riuh siang hari. Mataharinya terik, tapi semangatnya menyala.
Maya melihat dirinya yang masih muda, tertawa lepas. Di sebelahnya duduk Bram. Laki-laki itu menatapnya penuh ambisi.
"Kita akan sukses bareng, May," ucap Bram mantap.
Maya muda mengangguk. Ia percaya penuh. Ia pikir Bram adalah partner setara untuk menaklukkan masa depan. Saat itu, Maya tidak tahu bahwa setara hanya berlaku selama tubuhnya tidak menjadi masalah.
Namun, keyakinan itu lenyap dalam sekejap.
Pemandangan berganti cepat menjadi sore yang mendung di taman belakang kampus. Tidak ada lagi tawa. Tangan Maya gemetar hebat saat menyodorkan alat tes kehamilan itu. Hening terasa begitu panjang dan menyiksa.
Bram tidak memeluknya, tetapi laki-laki itu meraih kedua tangan Maya yang dingin. Genggamannya erat. Saat Maya menatap wajahnya, ia melihat sepasang mata yang memelas, menyiratkan permohonan yang putus asa.
"Maya, tolong..." suara Bram bergetar pelan. "Kamu mahasiswa terbaik. Masa depan kita masih panjang," ucap Bram lembut, tapi menuntut. "Anak ini cuma akan menghancurkan mimpimu, mimpi kita. Gugurkan, ya?"
Dunia Maya seakan berhenti berputar. Ia menarik tangannya kasar dan mundur selangkah. "Nggak! Aku nggak mau, Bram! Aku takut!" tolaknya sambil terisak.
Mendengar penolakan itu, raut iba Bram seketika mengeras. Tatapannya berubah dingin dan menyudutkan.
“Gugurkan! Kenapa kamu egois sekali, May?" desis Bram tajam. "Aku mikirin masa depan kita, tapi kamu cuma mikirin ketakutanmu sendiri! Beasiswaku ke Belanda baru turun. Kalau kamu mau menghancurkan hidupmu demi menahan kesalahan ini, silakan. Tapi jangan seret aku."
Kata egois dan kesalahan itu jatuh sepenuhnya ke tubuh Maya, seolah hanya rahimnya yang harus bertanggung jawab.
Tanpa menoleh lagi, Bram berbalik badan. Ia berjalan pergi begitu saja, menyelamatkan dirinya sendiri, meninggalkan Maya mematung dalam tangisnya, hancur dengan perasaan bahwa semua ini adalah salahnya.
Rasa ditinggalkan itu segera berganti dengan penghakiman.
Maya kini berada di ruang administrasi kampus yang berbau kertas tua. Ia duduk menunduk, mengenakan jaket kedodoran untuk menutupi perutnya. Tangannya yang dingin menulis di atas selembar kertas: Permohonan Cuti Akademik.