Jam dinding berdetak. Pukul dua pagi.
Saat Julian sedang mengerahkan pasukan untuk membersihkan namanya, Lana justru merasa dirinya tidak akan pernah bisa bersih. Ia duduk bersila di lantai, dalam kegelapan yang hanya dibantu cahaya lampu dari balik jendela. Di tangan kanannya, ada foto polaroid usang itu.
Lana menatap wajah Bram. Lalu ia menatap pantulan wajahnya sendiri di cermin meja rias.
"Pantesan..." bisiknya serak.
Lana ingat. Dulu ia sering bertanya tentang ayahnya, dan jawaban Maya selalu sama.
Dia pergi meninggalkan kita bahkan sebelum kamu lahir. Jadi jangan bertanya apapun tentang dia.
”Selama ini aku salah mengira maksud Ibu. Aku kira kamu meninggalkan kami karena kematian. Ternyata aku salah tafsir.” Lana berbicara pada polaroid usang itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
Lana menghela napas panjang. Lalu menatap mata Bram di foto itu.
"Ibu benar. Kita sama..." gumam Lana. "Kamu perusak masa depan Ibu. Dan aku..."
Lana tertawa pelan, tawa yang kosong tanpa jiwa. "Aku juga perusak masa depan Ibu."Kalau dulu aku ngga ada di perut Ibu, pasti Ibu nggak akan mengalami masa sulit itu. Hidup Ibu pasti bahagia.”
Dengan gemetar Lana meletakkan polaroid itu ke lantai. Ia lalu menarik laci meja belajarnya, merogoh bagian paling dasar, dan mengeluarkan sebuah map plastik. Dari sana, ia menarik selembar kertas foto.
Itu adalah foto dirinya dan ibunya, Maya, yang sedang tersenyum lebar dan saling merangkul hangat.
Lana mengusap wajah Maya di foto itu. Air matanya menetes. Ini hanya foto editan. Wajah Maya ia potong dari berita online dan ia gabungkan dengan fotonya sendiri lewat aplikasi editing. Hanya di dalam kepalsuan selembar kertas ini, Lana bisa merasakan rangkulan ibunya.
Senyum palsu Maya di foto itu mengiris hati Lana, menarik paksa sebuah ingatan di mana Maya benar-benar tersenyum hangat. Bukan editan, tapi bukan untuk Lana.
Ingatan itu mendobrak masuk.
Hari pembagian rapot kelas 1 SD. Aula sekolah riuh rendah. Lana kecil duduk tegak di kursi lipat besi. Matanya tak berkedip menatap ke atas panggung saat nama Adelia Putri dipanggil sebagai juara satu. Ibu Adelia berlari naik, memeluk anaknya erat, mengangkatnya, lalu mencium pipinya dengan bangga di depan semua orang.
Lana kecil merekam pelukan itu. Rasanya pasti hangat, batinnya.
Lana hanya mendapat peringkat sepuluh besar dengan nilai rata-rata delapan puluh lima, tapi kata ibu guru itu adalah hasil yang bagus. Ia berlari bangga menembus kerumunan, mencari sosok ibunya. Maya berdiri tegak di dekat pintu, mengenakan kacamata hitam, menciptakan jarak absolut dengan ibu-ibu lain.
"Ibu! Ibu!" panggil Lana mengacungkan rapotnya. "Bu Guru bilang aku pintar."
Maya menatap buku itu sekilas, lalu membuang muka. "Sudah? Ayo pulang."
Lana terdiam. Tepat di depan mereka, Adelia dan ibunya melintas membawa piala plastik emas yang besar. Saat itulah, sesuatu yang belum pernah Lana lihat di rumah terjadi. Maya tersenyum manis. Ia melangkah maju, membungkuk, dan mengusap kepala Adelia.
"Wah, hebat sekali kamu, Nak. Pintar sekali. Ibumu pasti bangga. Pertahankan ya, Sayang," suara Maya mengalun selembut sutra.
Sayang. Kata itu meluncur begitu mudah untuk anak orang lain. Lana mematung. Dadanya sesak. Tangan mungilnya mencengkeram rok sutra Maya, menariknya putus asa mencari perhatian yang sama.
"Ibu..." panggil Lana mendongak.
Saat Maya menoleh ke bawah dan mata mereka bertemu, senyum bidadari itu lenyap seketika. Tubuh Maya menegang kaku, pupilnya mengecil seolah baru melihat hantu. Tangan yang tadi hangat mengusap kepala Adelia, kini dingin dan kaku.
"Jangan tarik-tarik rok Ibu." desis Maya tajam, suaranya bergetar. "Ayo pulang."