"Luka sayat nadi! Kesadaran menurun! Masuk resusitasi sekarang!"
Brankar itu didorong cepat, roda-rodanya berdecit keras beradu dengan lantai rumah sakit. Maya berjalan setengah berlari di sampingnya, mengabaikan denyut perih yang aneh di telapak kakinya tiap kali menapak lantai. Tangannya terus menggantung di udara, seolah ingin terus memegang Lana.
"Maaf, Ibu tunggu di sini," seorang perawat pria menahan bahu Maya. Tegas, tapi sopan.
Maya berhenti. Ia tidak memberontak, hanya berdiri mematung menatap pintu ditutup rapat.
Lana hilang di baliknya.
Keadaan sekitar tiba-tiba terasa begitu sepi di telinga Maya, kontras dengan cahaya lampu neon rumah sakit yang terang benderang.
Kaki Maya akhirnya kehilangan tenaga. Punggungnya merosot menyusuri dinding dingin itu hingga ia terduduk di lantai.
Ia menatap kedua telapak tangannya sendiri. Merah. Darah Lana mulai mengering dan menghitam di sela-sela kukunya.
"Ya Allah, Nyonya!" Bik Surti yang baru menyusul tiba-tiba memekik tertahan. Tangannya menunjuk ke arah kaki Maya dengan gemetar. "Kaki Nyonya..."
Maya menunduk pelan. Ia baru sadar ia tidak memakai alas kaki.
Di telapak kakinya yang telanjang, beberapa serpihan kaca dari piala yang dihancurkan Lana menancap. Salah satu pecahan yang agak besar bersarang di tumitnya, meninggalkan jejak darah di lantai yang tadi ia lewati.
"Itu pasti sakit banget, Nya," Bik Surti mulai panik melihat darah yang keluar dari kaki majikannya. "Nyonya harus diobati dulu."
Maya menggeleng pelan. Ia tidak mau beranjak dari depan pintu ini.
Mengabaikan penolakan itu, Bik Surti langsung berdiri dan melambai ke arah meja jaga. "Suster! Tolong!"
Dua perawat datang berlari. Mereka terkesiap melihat kondisi kaki Maya, lalu dengan hati-hati membantu mengangkat tubuh wanita itu ke atas kursi roda. Tubuh Maya lemas, membiarkan dirinya didorong menuju bilik tindakan minor untuk dijahit.
Setengah jam kemudian, perawat selesai membalut tumit Maya dengan perban tebal. Bajunya yang bersimbah darah sudah diganti perawat dengan baju pasien rumah sakit. Tangannya sudah dicuci bersih. Tidak ada lagi jejak darah Lana, tapi bau amis dan besi itu seolah masih menempel di tubuhnya.
Tak lama kemudian, seorang dokter jaga IGD menghampirinya dengan membawa papan rekam medis.
"Keluarga dari pasien atas nama Lana?" tanya dokter itu memastikan.
Maya langsung mencondongkan tubuhnya ke depan. "Ya. Saya ibunya. Bagaimana anak saya, Dok?"
"Kondisi kritis anak Ibu sudah berhasil kami stabilkan sementara di ruang resusitasi," lapor dokter itu cepat dan lugas. "Kesadarannya tadi sempat menurun drastis karena syok akibat kehilangan terlalu banyak darah, jadi saat ini kami sudah langsung memberikan transfusi darah darurat."
Dokter itu menjeda sejenak, menatap Maya dengan serius. "Tapi karena ada arteri dan tendon yang putus akibat sayatan, pendarahan utamanya harus ditutup dari dalam. Pasien harus segera naik ke meja operasi sekarang juga bersama kantong darahnya. Tim bedah sudah bersiap. Ibu akan kami arahkan ke ruang tunggu bedah sentral di lantai atas."
Maya kini duduk di kursi roda di ruang tunggu VIP depan koridor ruang operasi. Di sampingnya, Bik Surti duduk di lantai, bersandar pada roda kursi.
Suara jam dinding terdengar konstan. Setiap detik yang berlalu terasa menyiksa. Sesekali ada orang lewat, tapi pandangan Maya hanya terkunci pada pintu ganda ruang operasi di ujung lorong.
Ceklek.