Lahir Dari Luka

Camèlie
Chapter #18

Bab 18 - Mahkota Berduri

Pukul 10.00 WIB.

Pagi itu, dua suasana yang bertolak belakang bergulir di tempat yang berbeda.

Di ruang ICU Rumah Sakit, suasana terasa sunyi dan dingin. Hanya suara ritmis dari monitor EKG yang memecah keheningan.

Bip... bip... bip...

Di atas ranjang, Lana terbaring pucat dengan mata terpejam rapat. Ia sengaja ditidurkan di bawah pengaruh obat penenang berdosis tinggi. Operasi bedah dini hari tadi memang berhasil menyambung kembali arteri dan tendon di pergelangan tangannya. Namun, tubuhnya telanjur mengalami syok parah akibat kehabisan terlalu banyak darah. Dokter terpaksa menidurkannya agar jantung dan organ dalamnya bisa beristirahat total. Langkah ini juga diambil untuk mencegah Lana terbangun lalu meronta panik, yang bisa berisiko merobek kembali jahitan di nadinya. Dikelilingi tiang infus, selang oksigen, dan tetesan kantong transfusi darah, tubuh rapuh itu kini dipaksa beristirahat.

Sementara itu, di aula megah Universitas Negeri, hening mencekam menyelimuti. Suhu AC sentral di aula ini benar-benar dingin, atau mungkin Dewi saja yang sedang gugup. Ratusan peserta Olimpiade duduk berjarak, terhalang sekat komputer masing-masing. Ruangan sebesar ini sangat senyap. Yang terdengar hanya suara klik mouse yang bersahutan dari sana-sini, gesekan cepat pensil di atas kertas buram, dan deheman pelan orang-orang yang mulai stres.

Beberapa pengawas berjalan mondar-mandir di sela barisan meja. Langkah sepatu mereka nyaris tanpa suara, tapi tatapan mereka tajam mengawasi setiap gerak-gerik peserta. Membuat siapa pun ragu untuk sekadar menoleh dari layar.

Dewi fokus ke monitornya. Angka timer di sudut kanan atas terus menghitung mundur. Waktunya makin sempit.

Soal-soal di layar ini sekilas terlihat sederhana. Pertanyaannya pendek. Tapi begitu Dewi mencoba mengerjakannya, ia sadar ini jebakan. Tidak ada satu pun soal yang bisa dijawab cuma dengan modal hafal rumus. Di satu nomor saja, ia harus membedah konsep dasarnya dulu, menggabungkan dua materi yang berbeda, baru bisa masuk ke perhitungan. Dan sialnya, angka hasil akhirnya sama sekali tidak genap.

Dewi menggigit bibir bawahnya, mencoba tidak panik. Tangannya bergerak cepat mencoret-coret kertas buram. Ia menarik napas pelan, memaksa otaknya tetap jalan.

Klik. Ia berhasil menekan satu opsi jawaban.

Dewi sudah mengorbankan banyak hal untuk hari ini. Bimbingan intensif tiap sore di sekolah, membahas ratusan soal sampai kepalanya pusing, dan belajar mati-matian sampai ia paham materinya di luar kepala. Walaupun level soal ini jauh lebih susah dari latihan biasanya, Dewi sadar usahanya tidak sia-sia. Ia tahu cara mengerjakannya.

Ia melepas mouse sejenak untuk melemaskan jari-jarinya yang kaku. Sambil meregangkan tangan, ia mencuri pandang ke sekitar. Di meja-meja lain, para peserta sangat serius mengerjakan soal, beberapa ada yang menunduk lesu memijat pelipis, atau sekadar menatap layar dengan wajah lelah. Ujian ini jelas menguras mental.

Tapi bagi Dewi, yang terpenting saat ini adalah: Lana tidak ada di ruangan ini.

Biasanya, duduk di ruangan ujian yang sama dengan Lana sudah cukup bikin Dewi merasa kecil dan kehilangan fokus. Tapi tanpa kehadiran Lana, Dewi merasa jauh lebih tenang dan percaya diri.

Dewi kembali menggenggam mouse-nya. Ia sadar, ia harus menang. Ia harus mendapatkan tiket masa depannya.

Pukul 13.30 WIB.

"Dan Juara Satu Olimpiade Sains Nasional tingkat Provinsi tahun ini..."

Aula mendadak senyap. Dewi menunduk, tangannya meremas rok abu-abunya kuat-kuat. Ia merapal doa tanpa henti. Berharap semua usaha kerasnya tidak sia-sia.

Lihat selengkapnya