Lahir Dari Luka

Camèlie
Chapter #22

Bab 22 - Filosofi Kaca Pecah

Dewi masuk ke gerbang sekolah dengan langkah mantap dan bahu yang tegak. Namun, saat Dewi melanjutkan langkahnya menyusuri koridor, telinganya menangkap potongan percakapan dari gerombolan siswa di depan loker. Hal itu membuat jantungnya berpacu kencang.

"Sumpah, kasihan banget Lana..."

"Iya sampai masuk ICU."

"Gila ya, katanya video itu palsu, yang nyebar bener-bener sakit jiwa."

Berita tentang Lana mendominasi setiap sudut sekolah. Kemenangan Dewi yang seharusnya menjadi topik utama tenggelam begitu saja.

"Wi, selamat ya buat kemenangan kamu," ucap Nadia sambil menepuk bahu Dewi.

Dewi tersentak kaget. "Eh iya, makasih Nad," jawabnya sambil tersenyum kaku.

"Sayang banget momen lo barengan sama musibahnya Lana." Tambah Nadia dengan wajah prihatin. "Tapi lo keren bisa juara satu."

"Iya, Nad. Aku juga kaget dengar kabar Lana. Aku duluan ya, mau ke toilet." Balas Dewi lalu buru-buru berlalu.

Air dingin membasuh wajah Dewi. Ia mencengkeram pinggiran wastafel toilet perempuan, menatap pantulan dirinya di cermin. Napasnya memburu. Matanya sedikit merah karena kurang tidur, tapi ia memaksakan sebuah senyum.

Tenang, Wi. Nggak ada yang tahu. Berita Lana memang lagi viral. Wajar semua orang bahas itu. Kamu gak akan ketahuan. Tenang...

Ia merapal mantra itu berulang-ulang sambil mengatur napas. Ia merapikan kerah seragamnya, lalu memutar kenop pintu.

Baru saja ia melangkah keluar, tubuhnya nyaris menabrak sesosok pria tinggi tegap berjas hitam. Pria itu baru saja menutup pintu Ruang Kepala Sekolah yang berada tepat di seberang toilet.

Dewi mendongak. Pak Agam.

Pria itu menatap Dewi sekilas, lalu berjalan pergi.

Jantung Dewi berdegup aneh. Siapa itu? Apa polisi? Apa penyelidikan tentang Lana sudah dilakukan? batin Dewi panik.

Nggak, itu pasti cuma tamu Pak Hadi. Kamu terlalu paranoid, Dewi segera menepis rasa paniknya.

Lapangan Utama SMA Pelita Bangsa. Pukul 07.30 WIB.

Matahari pagi bersinar terik menyinari lapangan rumput sintetis sekolah elit tersebut. Seluruh siswa berbaris rapi. Di pinggir lapangan, deretan kursi VIP di bawah tenda putih sudah diisi oleh komite sekolah dan perwakilan yayasan.

Pak Hadi berdiri di depan pelantang suara. Wajahnya terlihat lebih kaku dari biasanya, peluhnya sedikit menetes di pelipis.

"Selanjutnya, mari kita panggil siswi kebanggaan kita yang baru saja mengharumkan nama sekolah..." suara Pak Hadi menggema. "Dewi Fortuna dari kelas 12 IPA 1!"

Tepuk tangan terdengar. Dewi maju dengan punggung tegak. Pak Hadi menyerahkan piala emas itu dengan senyum yang dipaksakan.

"Karena Dewi penerima beasiswa, pihak donatur sekolah ingin memberikan apresiasi," lanjut Pak Hadi, suaranya terdengar ragu sejenak. "Saya meminta salah satu donatur terbesar kita untuk memberikan sepatah dua kata. Mari kita sambut, Ibu Maya Amalia."

Maya Amalia? Itu kan Ibunya Lana? Telapak tangan Dewi mendadak sedingin es.

Dari arah tenda VIP, Maya berjalan perlahan. Ia bertumpu pada sebuah tongkat penyangga hitam. Kaki kirinya dibalut perban tebal. Setiap ketukan tongkatnya di lantai panggung beresonansi dengan detak jantung Dewi yang makin tak karuan.

Kenapa ibu Lana ada di sini?

Maya mengambil alih mikrofon. Wajahnya luar biasa tenang.

"Selamat pagi," sapa Maya. Ia menoleh perlahan ke arah Dewi. "Selamat, Dewi Fortuna. Sebuah prestasi gemilang."

Tenggorokan Dewi tercekat. "Te-terima kasih, Bu."

Maya kembali menatap ratusan siswa di lapangan.

"Dewi Fortuna," ucap Maya, mengeja nama itu dengan lambat. "Nama yang indah. Fortuna. Dewi Keberuntungan."

"Keberuntungan dan prestasi. Dua hal yang indah, persis seperti kaca yang bening," ucap Maya datar.

Lihat selengkapnya