Lahir Dari Luka

Camèlie
Chapter #21

Bab 21 - Fatamorgana Kemenangan

Sore itu, untuk pertama kalinya dalam hidup Dewi, ia merasa memegang kendali atas takdirnya.

Ia berdiri di depan etalase kaca sebuah toko elektronik, menatap pantulan dirinya dan adiknya, Dani. Mata bocah laki-laki itu berbinar tak berkedip melihat sebuah laptop keluaran terbaru yang memutar video animasi dengan grafis sangat tajam.

"Kak, yang ini RAM-nya besar. Kalau buat ngerjain tugas pasti nggak bakal lemot," tunjuk Dani antusias, meski tangannya sama sekali tak berani menyentuh kaca etalase.

Dewi tersenyum, menepuk pelan bahu adiknya. "Kamu suka yang itu? Diingat ya tipenya. Nanti, kalau uang hadiah olimpiade Kakak udah ditransfer, kita langsung balik ke sini."

Dani menoleh cepat, matanya membesar. "Beneran, Kak?"

Dewi mengangguk mantap. Perasaan superior itu mengalir deras di pembuluhnya.

Keluar dari toko elektronik, mereka menyusul ibunya yang sedang duduk menunggu di sebuah warung bakso di dekat pasar. Ini adalah kemewahan yang teramat langka.

"Bu, pesen tiga dimakan sini. Sama satu dibungkus ya, kuahnya dipisah," kata ibu Dewi pada penjual bakso.

Pesanan mereka datang tak lama kemudian. Uap panas yang mengepul membawa aroma kaldu sapi yang gurih. Dani segera menuangkan sambal dan kecap, mengaduknya dengan tidak sabar. Di seberangnya, sang ibu meniup perlahan kuah bakso itu sebelum menyeruputnya dengan mata terpejam, menikmati setiap tetes rasa daging yang jarang sekali menyapa lidah mereka. Suara denting sendok dan mangkuk, serta sruputan lahap Dani dan ibunya memenuhi meja itu. Mereka terlihat begitu bahagia, begitu sederhana.

Namun, di tengah kehangatan itu, Dewi mendadak kehilangan selera. Di bawah meja, Dewi mengintip layar ponselnya. Matanya membelalak. Napasnya tertahan di tenggorokan.

Tagar #JusticeForLana nangkring di urutan nomor satu Trending Topic.

Dewi membuka tagar itu dengan ibu jari yang gemetar. Ratusan ribu cuitan membahas soal video itu. Akun-akun besar mulai membedah kejanggalan demi kejanggalan dengan detail.

Jantung Dewi berdegup brutal.

Apa polisi udah mulai melacak? Nggak, nggak mungkin! Aku udah hapus semua jejaknya. Pasti aman. Ya kan? Aman kan, Dewi?!

Keringat dingin membasahi tengkuknya. Ia merasa kesulitan meraup oksigen. Tangan Dewi gemetar hebat saat ia mencoba meletakkan ponselnya dan meraih gelas es teh manis di depannya.

Namun, saking paniknya, jemarinya yang tak terkendali justru menyenggol pinggiran gelas itu dengan keras.

Prang!

Gelas itu terguling tumpah. Air es teh membanjiri meja, menetes deras ke lantai, dan memercik ujung baju Dewi.

"Astaghfirullah, Dewi!" Ibunya buru-buru menarik tisu dan mengelap meja. Dani ikut terlonjak kaget dengan mulut masih penuh berisi mie.

"Kamu kenapa, Nduk? Kok tiba-tiba pucat begitu? Baksonya juga belum disentuh," tegur ibunya khawatir. Saat tangannya tak sengaja menyentuh lengan Dewi, ibunya kembali memekik tertahan. "Ya ampun, tanganmu dingin banget. Gemetar lagi. Kamu sakit?"

Dewi buru-buru menarik tangannya ke bawah meja, menyembunyikan getarannya.

"G-gakpapa, Bu," jawab Dewi terbata, memaksakan seulas senyum kaku yang gagal menutupi kepanikan di matanya. "Cuma... cuma kecapekan aja, Bu. Tiba-tiba pusing."

Lihat selengkapnya