Bau obat-obatan di kamar VVIP nomor 401 itu terasa jauh lebih ringan dibandingkan dengan aroma steril ruang ICU yang mencekik. Cahaya matahari pagi menerobos masuk dari balik tirai tipis, jatuh tepat di atas selimut putih yang menutupi tubuh Lana.
Kata dokter semalam, masa kritisnya sudah terlewati. Tubuhnya mulai menerima transfusi darah dengan baik dan organ dalamnya sudah stabil, sehingga ia akhirnya diizinkan pindah ke ruang rawat biasa. Namun, gadis itu belum juga membuka mata.
Di sisi ranjang, Maya berdiri bertumpu pada tongkat jalannya. Sejak Lana dipindahkan ke ruangan ini, Maya tidak bisa duduk tenang. Untuk yang kesekian kalinya, tangan Maya terulur merapikan tepian selimut Lana yang sebenarnya sudah rapi.
"Nyonya istirahat saja dulu di sofa, biar Surti yang jaga di sini," bisik Surti dari sudut ruangan.
Maya tidak menjawab. Matanya menatap tajam ke arah tabung dan selang infus Lana, memastikan cairannya tidak macet. Tiba-tiba, jari-jari di tangan kanan Lana bergerak pelan.
Kelopak mata Lana bergetar. Helaan napasnya terdengar sedikit berat sebelum akhirnya terbuka, menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong dan bingung.
"Bu..." suara Lana keluar seperti bisikan serak, nyaris tak terdengar. Sedetik kemudian, wajah pucatnya meringis menahan sakit yang luar biasa. "Sakit..."
Maya mematung sebentar. Tidak tahu harus melakukan apa. Lalu tangannya refleks menekan tombol nurse call berulang-ulang.
"Non Lana! Ya Tuhan, Non Lana udah sadar!" Surti berlari mendekat ke ranjang Lana.
Tak butuh waktu lama, Dokter jaga dan seorang perawat bergegas masuk. Dokter itu memeriksa pupil mata Lana dengan senter kecil, lalu mengecek detak jantungnya. Senyum lega mengembang di wajah pria itu.
"Kerja organ vitalnya sudah kembali stabil," ujar dokter sambil mematikan senter kecilnya, menatap Maya dengan senyum lega. "Lana mungkin akan mengeluhkan nyeri yang cukup kuat di pergelangan tangannya. Itu reaksi wajar karena kesadarannya mulai pulih penuh dan sarafnya kembali merespons pasca-trauma."
Dokter itu menoleh ke arah perawat di sebelahnya. "Suster baru saja menyesuaikan dosis analgesik melalui cairan IV-nya. Dalam beberapa menit, obatnya akan bekerja dan rasa sakitnya akan mereda. Sekarang fokus utamanya hanya istirahat."
Setelah memberikan instruksi tambahan, dokter dan perawat itu undur diri, menyisakan keheningan yang canggung namun emosional di dalam kamar itu.
Maya duduk perlahan di kursi samping ranjang. Ia meletakkan tongkatnya. Matanya tak lepas dari wajah putrinya.
Lana menoleh pelan, menatap lurus ke arah ibunya dengan mata yang berkaca-kaca. Pandangannya kemudian turun, menatap tangan kirinya yang kini terasa kaku, berat, dan terbelenggu oleh gips serta perban tebal.
"Tangan Lana... sakit," bisik Lana mengeluhkan rasa sakit di pergelangannya lagi.
"Kata dokter itu karena efek biusnya sudah habis. Nanti kita akan terapi untuk pemulihannya, ke luar negeri kalau perlu."
Maya berbicara cepat, menawarkan solusi masa depan. Ia pikir itu yang dibutuhkan Lana. Jaminan bahwa ia akan kembali sempurna.
Namun, reaksi Lana di luar dugaan.