Belum genap sepuluh menit Maya kembali setelah pertemuannya dengan Agam, suara derap langkah yang tergesa-gesa memecah keheningan lorong rumah sakit. Maya menoleh pelan, menumpukan sebagian besar berat badannya pada tongkat hitam di tangan kanannya.
Dari ujung koridor, seorang pemuda berlari menghampirinya. Napasnya memburu, wajahnya merah padam, dan keringat menetes deras dari pelipisnya. Meski mengenakan kemeja kasual dan celana jeans rapi, penampilannya saat ini terlihat kacau oleh kepanikan.
Itu Julian. Langkah pemuda itu melambat saat melihat sosok Maya, seolah ragu dan takut, sebelum akhirnya berhenti di depan kaca pembatas ICU dengan napas tersengal.
"Tante..." Julian terengah-engah, menyeka keringat di dahinya. "Maaf saya baru datang. Sejujurnya... saya takut setengah mati berhadapan dengan Tante setelah semua kekacauan ini. Tapi..."
Julian menelan ludah yang terasa pahit. "Saya jauh lebih takut kehilangan Lana. Saya harus lihat dia, Tan. Tolong."
Maya menatap penampilan Julian dengan tatapan menilai, melipat tangannya di dada. Posturnya tegak dan mengintimidasi.
"Saya sudah peringatkan kamu, Julian," suara Maya rendah, namun menggema dingin di lorong sepi itu. "Saya suruh kamu menjauh."
"Saya tahu, Tan. Beritanya... katanya Lana..." Suara Julian tercekat di tenggorokan. "Saya cuma mau pastikan dia masih hidup."
"Dia masih bernapas. Tanpa bantuan kamu," potong Maya tajam. "Sekarang pulang. Kehadiran kamu di sini tidak dibutuhkan."
"Tante, tunggu! Dengerin saya dulu!"
Maya menatap tangan Julian yang setengah terangkat dengan jijik. "Pulang, Julian, atau saya panggil satpam!"
Bahu Julian merosot. Pemuda itu akhirnya mengalah. Ia melangkah pelan mendekati kaca pembatas ICU. Dari luar kaca, ia menatap tubuh Lana yang terbaring diam dikelilingi bunyi ritmis mesin EKG. Julian menempelkan sebelah tangannya di permukaan kaca yang dingin.
"Maaf, Lan. Aku telat," gumam Julian pelan, suaranya bergetar menahan tangis. "Semua orang doain kesembuhan kamu. Bahkan nggak ada yang peduli sama hasil Olimpiade kemarin. Coba aja kejadian ini nggak nimpa kamu, aku yakin kamu yang bakal menang dan dirayain besok."
Gerakan Maya yang hendak beranjak seketika terhenti.
"Dirayakan?" tanya Maya, memutar tubuhnya perlahan.
"Iya, Tan," lanjut Julian parau, penuh rasa frustrasi. "Besok kan upacara bendera. Pasti hadiahnya diserahin di depan semua murid dan guru, sebagai bentuk apresiasi sekolah buat yang menang. Harusnya Lana yang berdiri di lapangan itu... bukan Dewi."
"Dewi?" Maya menatap Julian lurus-lurus. Tatapannya mendadak gelap.
Julian menunduk, menatap lantai rumah sakit yang dingin. "Iya Dewi, Tan. Dewi Fortuna."
Mendengar itu ekspresi Maya berubah.
Sudut bibirnya terangkat sedikit, nyaris tak terlihat.
"Diumumkan di depan semua orang saat upacara bendera?" gumam Maya pelan, matanya berkilat tajam. "Bagus. Sangat bagus."