Lahir Dari Luka

Camèlie
Chapter #24

Bab 24 - Wajah yang Salah

Hari ketiga pasca-sadar.

"Sesuai kesepakatan tim medis," ucap dokter bedah itu tegas, menyodorkan kertas rujukan. "Jadwal asesmen psikiatri Lana hari ini. Dokter Ratna sudah menunggu."

Maya menatap kertas itu seolah benda tersebut beracun.

"Apa harus sekarang?" tawar Maya. "Tangannya masih bengkak. Biarkan dia istirahat dulu."

"Menunda berarti mengambil risiko, Bu," potong dokter itu dingin. "Kita sudah sepakat insiden ini bukan kecelakaan impulsif. Ibu tidak ingin kita kembali ke ruang ICU, kan?"

Kalimat itu membungkam Maya.

"Baik," jawab Maya kaku. "Tapi saya ikut masuk. Saya harus pastikan dia tidak salah bicara."

Perjalanan menyusuri koridor rumah sakit terasa berat. Lana duduk melengkung di kursi roda. Tubuhnya yang terbalut baju rumah sakit kebesaran terlihat semakin ringkih. Tangan kirinya yang dibungkus gips tebal diletakkan di atas pangkuan, terasa seperti beban batu yang menarik bahunya turun. Sepanjang jalan, ia hanya menatap ujung sandal rumah sakitnya.

Di ruang praktik Dokter Ratna, Maya langsung mengambil posisi duduk merapat di sebelah kursi roda Lana. Punggungnya tegak, matanya waspada.

"Halo, Lana," sapa Dokter Ratna. Suaranya tenang. "Bagaimana rasanya hari ini?"

Lana tidak langsung menjawab. Matanya refleks melirik takut ke arah ibunya.

"Dia baik-baik saja, Dok," sambar Maya cepat. "Cuma agak lemas. Tapi mentalnya kuat. Saya yakin."

Dokter Ratna menatap Maya sekilas, lalu kembali menatap Lana. "Tidurnya nyenyak semalam?"

"Nyenyak," jawab Maya lagi. "Saya awasi dia terus. Tidak ada masalah."

Dokter Ratna meletakkan pulpennya.

"Bu Maya," panggil Dokter Ratna. Nada suaranya sopan, namun memegang otoritas penuh. "Saya paham kekhawatiran Ibu. Tapi sesi asesmen ini tidak akan berjalan kalau Ibu terus menjadi juru bicaranya."

Wajah Maya menegang. "Saya ibunya. Saya yang paling tahu—"

"Ibu tahu apa yang terlihat di luar," potong Dokter Ratna tenang. "Tapi yang merasakan kondisi di dalam adalah Lana. Tolong tunggu di luar, Bu. Biarkan Lana bernapas dan bicara sendiri."

Maya ternganga. Ia menatap Lana, menuntut pembelaan. Namun Lana hanya menunduk makin dalam. Bahu gadis itu sedikit gemetar, tapi mulutnya terkunci rapat. Ia tidak berani menatap ibunya, namun juga tidak meminta ibunya tinggal.

Dengan napas tertahan karena marah, Maya menyambar tasnya. Ia melangkah keluar ruangan dengan kasar. Kakinya yang sudah sembuh dan tidak lagi memakai tongkat mendadak terasa kaku. Pintu tertutup. Terdengar bunyi klik.

Keheningan mengambil alih ruangan. Dokter Ratna tidak langsung bertanya. Ia membiarkan Lana menyesuaikan diri. Di atas kursi rodanya, Lana masih menunduk. Tangan kanannya yang bebas infus mulai bergerak, jari-jarinya menggaruk permukaan gips putih di tangan kirinya secara repetitif.

"Lana, kita bicara pelan-pelan ya," mulai Dokter Ratna. "Porsi makanmu hari ini bisa habis?"

Lihat selengkapnya