Kalimat Dokter Ratna berputar di kepala Maya seperti sirine rusak. Identitas genetik. Penolakan ekstrem pada fisik bawaannya.
Di bawah lampu neon rumah sakit yang menyilaukan, Maya menatap wajah Lana. Pucat, kusam, dan berminyak. Di mata Maya, identitas genetik itu terlihat begitu nyata, seolah sedang mengejeknya.
Genetiknya memang salah. Genetik dari laki-laki bajingan yang menghancurkan hidupnya.
Logika sinting menyambar benak Maya, mematikan rasa empatinya. Jika identitas genetik itu yang menghancurkan mental Lana, maka Maya harus menghapusnya. Maya harus menutupi wajah itu. Sekarang juga.
Dengan langkah cepat, Maya menuju wastafel, membasahi waslap dengan air panas, lalu berdiri menjulang menelan tubuh kecil Lana.
Tanpa aba-aba, Maya menempelkan waslap panas itu ke wajah Lana.
"Akh!" Lana terkejut.
Maya menekan kuat rahang anaknya, menggosok dahi, pipi, dan dagu dengan kasar. "Kucel. Berminyak. Pantas saja kamu stres. Ibu harus bersihkan ini."
"Bu... perih..." Lana meringis, matanya berair.
Maya tidak peduli. Di benaknya, ia sedang menggosok genetik Bram yang menempel seperti daki tebal di wajah putrinya.
Setelah satu menit penyiksaan, Maya menarik waslapnya. Wajah Lana kini merah padam dan lecet di beberapa bagian. Namun, kening Maya justru berkerut dalam. Di balik kemerahan itu, struktur wajah Bram tidak bisa hilang. Kulit itu tidak bisa dikelupas.
Maya melempar waslap basah itu ke lantai. Plak.
Dengan gerakan obsesif dan panik, ia menumpahkan isi tas kosmetiknya ke atas kasur. Ia membuka botol foundation tebal, mencocolnya, dan langsung menempelkannya ke pipi Lana yang lecet.
"Akhhh! Perih, Bu! Panas!" Lana menjerit tertahan, mencoba menutupi wajahnya. Cairan kimia itu menyentuh kulit yang baru saja diamplas paksa.
"Jangan cengeng!" bentak Maya, menepis tangan Lana. "Justru karena perih itu harus ditutup biar nggak kelihatan! Sini!"
Maya bekerja dengan kecepatan gila. Ia menekan spons bedak dengan kuat, memaksa concealer dan foundation menutupi warna kemerahan luka dan kemiripan genetik yang ia benci. Terakhir, ia memulas lipstik merah bata dengan kasar. Tepukan spons itu mengirimkan denyut nyeri ke kepala Lana.
Lana berhenti melawan. Tubuhnya lemas. Ia menahan napas, merasa persis seperti jenazah yang didandani sebelum dimasukkan ke peti mati. Ia sadar, ibunya takkan berhenti.
"Nah," Maya menghela napas lega, seolah beban berat baru saja diangkat. Ia menyodorkan cermin kecil. "Begini kan enak dilihat. Semuanya sudah tertutup. Kamu jadi nggak kelihatan sakit."