Dua hari kemudian, Lana akhirnya diperbolehkan pulang. Saat ia melangkahkan kaki melewati pintu depan, indra penciumannya langsung disambut oleh aroma rumahnya yang sangat familiar. Ada sedikit perasaan lega yang mampir di hatinya karena setidaknya ia tidak lagi harus mencium bau obat-obatan, antiseptik, atau karbol rumah sakit yang menyengat. Ia menarik napas panjang. Untuk sesaat, dadanya terasa sedikit lebih ringan. Lalu perasaan itu menghilang bahkan sebelum ia sempat melangkah.
Begitu Lana berjalan lebih jauh ke dalam rumah bersama ibunya, ia mulai menyadari ada sesuatu yang sangat aneh. Rumah ini terlihat sangat rapi dan sempurna, persis seperti standar tinggi yang selalu dijaga oleh Maya. Semua perabotan tertata tanpa debu sedikit pun. Tidak ada barang yang berantakan. Ibunya memastikan semuanya terlihat tanpa cela, seolah menutupi fakta bahwa pernah ada tragedi besar di keluarga ini.
Tetapi di balik kesempurnaan susunan perabotan itu, ada satu hal penting yang sengaja dihilangkan. Tidak ada kaca sama sekali.
Lana menoleh ke arah dinding lorong tempat biasanya ada cermin besar yang sering ia gunakan untuk merapikan seragam. Cermin itu sudah tidak ada, digantikan oleh lukisan pemandangan yang mahal. Ia berjalan melewati ruang tengah; meja dengan permukaan kaca pantul sudah diganti dengan meja kayu solid. Semua benda yang bisa memantulkan bayangan dirinya telah disingkirkan dari seluruh penjuru rumah. Ibunya benar-benar menghilangkan semua jejak cermin, tetapi dengan cara yang sangat mulus sehingga rumah itu tetap terlihat seperti rumah mewah yang elegan. Namun bagi Lana, hilangnya semua cermin itu membuat suasana rumah terasa sangat berbeda dan tidak ia kenali sama sekali. Ia merasa seolah dilarang keras untuk melihat wujudnya sendiri. Sesuatu yang sangat penting dari dirinya telah disingkirkan begitu saja.
Langkah pelan Lana akhirnya membawanya ke lantai atas, menuju kamarnya. Saat ia membuka pintu, ia kembali disambut oleh perubahan yang drastis. Lemari kaca tempat ia dulu menyimpan deretan piala dan medali, lemari yang kacanya hancur berantakan karena ia pecahkan malam itu, kini sudah lenyap sepenuhnya. Sebagai gantinya, di sudut kamar itu kini berdiri sebuah lemari kayu artistik yang sangat bagus. Lemari itu diisi dengan pajangan-pajangan mahal dan beberapa boneka yang tertata sangat rapi.
Selain perubahan perabotan, wangi di dalam kamarnya juga sangat mengganggu. Kamar itu disemprot dengan pengharum ruangan yang aromanya terlalu kuat dan berat. Wanginya begitu menyengat sampai-sampai membuat kepala Lana terasa pusing.
Lana berjalan masuk dan duduk di tepi kasur. Sekali lagi, matanya menyapu sekeliling kamar. Sama seperti di lantai bawah, tidak ada satu pun kaca di kamarnya. Cermin di meja riasnya hilang. Cermin di kamar mandinya juga sudah dicopot bersih.
Di detik itu, Lana sadar bahwa kepulangannya ini bukanlah sebuah kebebasan. Ia merasa seperti pasien yang hanya dipindahkan ke ruangan lain.Maya sama sekali tidak memperbolehkannya keluar dari kamar.
Maya menugaskan Surti untuk mengurus dan mengawasi Lana setiap saat. Ia ditugaskan memastikan perban di tangan Lana diganti tepat waktu tanpa terlambat sedikit pun. Jadwal minum obat, waktu tidur, dan waktu bangun semuanya diatur dengan sangat ketat dan dicatat.
Surti juga yang bertugas membawakan makanan. Meski Lana tahu bahwa makanan di rumahnya selalu diatur ketat soal kalori dan gizi sejak dulu, makanan yang disajikan kali ini benar-benar terasa sangat hambar. Rasanya sama persis seperti makanan rumah sakit, tidak ada rasa gurih atau bumbu yang bisa dinikmati. Setiap kali Lana menyuapkan makanan bergizi itu ke mulutnya, ia merasa seperti sedang mengunyah kertas kosong. Namun ia menelannya saja, tanpa menikmati, tanpa mengeluh, tanpa berhenti.
Maya mengecek Lana sesekali. Ia hanya berdiri di ambang pintu, melipat kedua tangannya di depan dada. Dan menanyakan hal yang sama kepada Surti.