Pukul enam pagi, suasana dapur rumah Maya tidak seperti biasanya.
Surti yang baru saja masuk untuk memulai rutinitas paginya seketika menghentikan langkah. Ia terkejut melihat majikannya sudah berdiri di depan meja konter dapur. Maya masih mengenakan pakaian rumahnya yang santai, namun wajahnya tampak tegang menatap deretan toples selai.
"Biar saya yang siapkan sarapan untuk Non Lana, Nyonya," ucap Surti sopan, bersiap mengambil alih.
Maya sedikit tersentak, lalu menggeleng pelan. "Tidak apa-apa, Surti. Saya saja."
Surti mundur selangkah, namun tetap berdiri di dekat sana dengan canggung. Ia memperhatikan Maya yang mengambil dua lembar roti tawar dan memasukkannya ke dalam alat pemanggang.
Sambil menunggu roti itu matang, tatapan Maya beralih ke deretan toples di depannya. Ada selai kacang, stroberi, cokelat, dan keju. Tangan Maya ragu-ragu mengambang di udara. Ia terdiam cukup lama, menyadari satu fakta sederhana yang memukul gengsinya: ia tidak tahu selai apa yang disukai putrinya sendiri.
Maya akhirnya menoleh ke arah asisten rumah tangganya itu. "Surti..."
"I-iya, Nyonya?"
"Biasanya... Lana sukanya selai apa?"
Surti mengerjapkan mata, sedikit bingung dengan pertanyaan mendadak itu. "Eh... biasanya Non Lana sukanya selai stroberi, Nyonya."
Maya mengangguk kaku. "Baiklah. Selai stroberi."
Ting. Roti panggang melompat dari pemanggang.
Maya mengambil roti itu dan meletakkannya di atas piring. Pinggiran roti itu tampak menghitam, gosong karena pengaturan pemanggangnya mungkin terlalu lama. Maya menatap roti itu sejenak, lalu mengangkat piringnya dan menunjukkannya kepada Surti.
"Kematangannya sudah pas seperti ini, Surti?" tanya Maya dengan wajah serius.
Surti meneguk ludah. Matanya membulat melihat roti yang pinggirannya sudah hitam legam itu. Namun, ia terlalu takut untuk mengatakan yang sebenarnya kepada majikannya.
"Su... sudah, Nyonya," jawab Surti terbata-bata, tersenyum kaku.
Maya mengangguk puas. Ia mengoleskan selai stroberi ke atas roti yang gosong itu, meletakkannya di atas nampan, dan bergegas berjalan keluar dari dapur menuju tangga.
Namun baru beberapa detik berlalu, langkah kaki Maya terdengar kembali memasuki dapur. Surti yang baru saja mau mengelap meja langsung memutar tubuhnya.
"Ada apa, Nyonya?" tanya Surti.