Taman belakang rumah mereka biasanya hanya menjadi pajangan. Hamparan rumput Jepang yang dipangkas terlalu rapi, tanaman perdu yang dipotong simetris, dan gemericik air mancur yang suaranya terdengar terlalu teratur. Semuanya kaku, persis seperti pemiliknya.
Sesuai arahan Dokter Ratna, hari ini adalah jadwal recovery bonding mereka di rumah. Aturannya cuma satu: dilarang membahas apa pun yang berat. Dan yang paling sulit bagi keduanya: dilarang ada kata "maaf".
Maya duduk di kursi rotan. Punggungnya masih sedikit kaku, kedua tangannya saling bertaut canggung di atas pangkuan. Di seberangnya, Lana duduk diam di bangku kayu. Suasana di antara mereka sangat sunyi.
Diam-diam, Maya memperhatikan Lana lekat-lekat. Tanpa sadar, jari-jari tangan kanan Lana mulai mencubit-cubit pelan kulit lengan kirinya yang bebas dari gips. Cubit. Tekan. Putar. Itu adalah gerakan refleks Lana setiap kali ia merasa cemas. Sore ini, meski hatinya terasa pedih melihat kecemasan putrinya, Maya menahan lidahnya kuat-kuat. Ia memaksa dirinya untuk tidak menegur.
"Tanamannya... subur ya, Bu," gumam Lana tiba-tiba memecah keheningan. Suaranya sangat pelan.
Maya tersentak kecil, lalu mengangguk kaku. "Iya. Tukang kebun baru saja memberi pupuk minggu lalu."
Hening lagi. Lana masih memuntir kulit lengannya. Maya memutar otak, mencari topik ringan yang tidak melanggar aturan sesi ini.
"Lana," panggil Maya pelan.
Lana langsung menghentikan gerakan tangannya dan mendongak.
"Ibu baru sadar... Ibu tidak tahu jawabannya," lanjut Maya hati-hati. "Sebenarnya, Lana suka warna apa?"
"Kuning," jawab Lana tanpa ragu. "Kuning matahari. Warna yang hangat. Kalau lihat warna itu, rasanya orang nggak perlu merasa sedih."
Maya terdiam. Ia mencatat fakta baru itu di kepalanya. Kuning. Bukan biru.
"Terus..." Maya mencoba menggali lebih dalam, suaranya diusahakan senatural mungkin. "Kalau lagi tidak belajar, sebenarnya Lana paling suka ngapain? Maksud Ibu, kegiatan santai yang benar-benar bikin kamu merasa senang."
Lana terdiam cukup lama, menimbang-nimbang jawaban di kepalanya.