Julian berdiri di depan pagar besi tinggi rumah Lana dengan telapak tangan yang terasa dingin. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya. Di tangan kanannya, ia memegang sebuket bunga matahari kuning cerah. Di tangan kirinya, ada sekotak martabak manis yang aromanya menguar menembus kardus.
Bayangan pertemuan terakhirnya dengan Maya Amalia masih membuatnya merinding—saat wanita itu mengusirnya dengan tatapan yang seolah bisa membunuh orang. Tapi hari ini, ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak mundur.
Ting tong.
Pintu besar itu terbuka. Bukan asisten rumah tangga yang muncul, melainkan Maya sendiri.
Julian tersentak. Punggungnya refleks tegak lurus seperti sedang mengikuti upacara bendera.
"S-selamat sore, Tante," sapa Julian, suaranya sedikit bergetar karena gugup.
Maya menatap Julian dari ujung kaki sampai ujung rambut. Tidak ada lagi tatapan mematikan seperti dulu, meski aura ketegasannya tidak sepenuhnya hilang. Wajah Maya tampak lebih natural tanpa riasan tebal, dan perlahan, sebuah senyum tipis—yang terlihat sedikit kaku namun tulus—muncul di bibirnya.
"Sore, Julian. Masuklah."
Di ruang tamu, suasana terasa sangat canggung. Lana duduk di sofa, mengenakan pakaian rumah berwarna kuning pucat. Matanya langsung berbinar melihat kehadiran Julian, namun ia tetap diam di tempat, melirik ibunya dengan hati-hati.
"Ini... ini buat Lana, Tante," Julian menyodorkan bunga matahari itu dengan kaku.
Maya menerima bunga itu sebentar sebelum menyerahkannya pada Lana. Tatapan Maya tertuju pada kelopak kuning cerah tersebut.
"Kuning," gumam Maya pelan. Ia menoleh, menatap Julian dengan sorot menyelidik. "Kamu tahu dia suka warna kuning?"
"Tahu, Tante. Lana pernah bilang... warna kuning itu hangat," jawab Julian jujur.
Maya terdiam sejenak. Ada cubitan kecil di dadanya saat menyadari fakta itu: remaja laki-laki di depannya ini ternyata lebih dulu tahu warna favorit anaknya dibandingkan dirinya sendiri. Julian benar-benar memperhatikan Lana.
"Dan ini... untuk Tante," Julian kembali menyodorkan kotak martabak dengan tangan yang sedikit gemetar.
Maya menaikkan sebelah alisnya. Ia menatap kotak berminyak itu dengan dahi berkerut. Sebagai penganut gaya hidup sehat dengan kalori ketat, martabak manis bersimbah mentega adalah musuh utama dalam kamus hidupnya.
"Martabak?" tanya Maya heran.
Julian menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. Wajahnya mulai memerah.
"Anu... maaf, Tante. Saya nggak tahu kesukaan Tante. Tadi saya cari di internet... katanya kalau pertama kali datang ke rumah mertua, bawanya harus martabak. Eh! Maksud saya... ke rumah orang tua teman!"
Hening.
Lana spontan menutup mulut dengan tangannya, menahan tawa yang nyaris meledak melihat wajah Julian yang sudah semerah kepiting rebus. Maya tertegun selama beberapa detik, sebelum akhirnya sebuah tawa kecil lolos dari bibirnya—suara yang sangat asing, namun membuat ruangan itu mendadak terasa lega.
"Mertua?" goda Maya pelan, membuat Julian rasanya ingin menghilang saja ditelan karpet mahal di bawah kakinya. "Ya sudah. Karena sudah dibawa, mari kita makan."
Pemandangan selanjutnya di meja makan terasa tidak nyata bagi Lana. Ibunya, sang ratu disiplin, duduk menghadapi sepotong martabak keju cokelat. Alih-alih memakannya langsung dengan tangan, Maya memotong martabak lumer itu menggunakan pisau dan garpu secara elegan, seolah sedang memakan steak di restoran mewah.
"Enak, Tante?" tanya Julian hati-hati, takut salah membeli rasa.