Pagi ini, Lana menatap bayangannya di cermin yang sudah kembali terpasang di kamarnya. Di cermin itu hanya ada wajah aslinya, pucat namun terlihat jauh lebih tenang.
Lana menunduk, menatap pergelangan tangan kirinya yang kini sudah terbebas dari balutan gips. Kulitnya terasa sedikit kaku setelah sebulan dikurung, dan ada plester rapi yang menutupi sisa luka goresannya. Namun, luka itu tidak lagi terasa seperti aib yang harus disembunyikan. Luka itu kini menjadi pengingat; sebuah tanda dari perang besar yang berhasil ia menangkan melawan hancurnya dirinya sendiri.
Lana menarik napas panjang, lalu merapikan kerah seragam abu-abu putihnya. Setelah hampir sebulan menghilang dari sekolah, kembali ke tempat itu rasanya seperti mengenakan identitas baru.
Di depan gerbang sekolah, sebuah mobil sport mengkilap terparkir mencolok. Julian bersandar santai di kap mobil itu, memegang dua kotak susu stroberi dingin di tangannya.
"Siap?" tanya Julian singkat, menyodorkan satu kotak susu ke arah Lana.
Lana menerima susu itu dengan tangan kirinya, mencoba membiasakan pergerakannya lagi. Ia mengangguk pelan. "Siap. Tapi... jujur, aku deg-degan."
"Aku ada di belakang kamu. Jalan aja," bisik Julian mantap. "Kalau ada yang berani macam-macam... nanti aku kasih ini."
Julian mengangkat kepalan tangan kanannya, berpura-pura meninju udara dengan gaya sok jagoan yang langsung membuat Lana tertawa kecil. Kecemasan di dadanya sedikit menguap.
Lana melangkah masuk. Koridor SMA yang biasanya terasa seperti lorong eksekusi dan tempat penghakiman, kini terasa berbeda. Beberapa orang memang menoleh ke arahnya, tapi tidak ada lagi bisik-bisik sinis atau tatapan merendahkan. Kebenaran telah terungkap dengan sendirinya selama ia absen. Video itu sudah terbukti sebagai deepfake—sebuah rekayasa digital yang dibuat dengan sangat rapi untuk menjatuhkannya.
Saat Lana masuk ke kelasnya, suasana yang awalnya riuh mendadak hening.
Lana berjalan tenang menuju mejanya. Matanya tak sengaja melirik ke arah sudut kelas. Kursi Dewi Fortuna kosong.
Berita tentang Dewi bukan hanya soal anak itu dikeluarkan secara tidak hormat, tapi juga alasan di baliknya yang terkuak.
Lana menatap kursi kosong itu dengan perasaan campur aduk. Anehnya, tidak ada rasa benci atau dendam yang menyala. Ia hanya merasa iba. Lana sadar, kompetisi dan tuntutan yang tidak sehat ternyata telah memakan korban lain selain dirinya.
"Lana."
Lana menoleh. Raka berdiri dari kursinya. Ketua kelas itu berjalan mendekat dengan wajah canggung, diikuti oleh beberapa teman sekelas yang lain.
"Lan..." Raka berdeham, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Gue... gue mewakili anak-anak mau minta maaf. Kami bodoh banget karena percaya gitu aja sama video itu tanpa cek kebenarannya dulu. Kami nggak tahu kalau itu rekayasa. Pokoknya... maaf ya, kalau omongan dan sikap kami kemarin bikin lo hancur."
"Iya, Lan. Maafin kita ya," sahut seorang siswi lain dengan nada menyesal.
Lana terpaku sejenak. Ia melihat wajah-wajah yang dulu menghakiminya kini menatapnya dengan rasa bersalah. Lana menarik senyum tipis—senyum yang benar-benar tulus.
"Nggak apa-apa," jawab Lana tenang. "Semuanya sudah lewat. Makasih ya, sudah mau minta maaf."
Keheningan yang canggung itu seketika cair. Raka dan teman-temannya mengangguk lega sebelum kembali ke tempat masing-masing.
Lana duduk di bangkunya. Ia mengeluarkan buku catatan dari dalam tas dan menatap lurus ke arah papan tulis putih di depan kelas.