Papan pengumuman di koridor utama dikerumuni siswa seperti semut mengerubungi gula. Hari ini, hasil Try Out ditempel.
Dewi Fortuna berdiri di lapisan paling luar. Tubuhnya kecil, tenggelam di antara bahu-bahu siswa yang lebih tinggi. Ia harus berjinjit, mencoba mengintip kertas putih di balik kaca etalase itu. Ia tidak mencari namanya di deretan tengah atau bawah. Ia hanya perlu melihat sepuluh baris teratas.
"Minggir dong, gue mau liat!" seru seseorang sambil menyikut bahu Dewi.
Dewi terdorong, sepatu kanvas lusuhnya terinjak sneakers mahal. Ia meringis, menelan rasa sakit di jempol kakinya, dan kembali memfokuskan pandangan.
1. Lana Anindya — Rata-rata: 98,50
2. Dewi Fortuna — Rata-rata: 97,75
Dewi menghela napas panjang. Selisih 0,75.
Nilai rata-ratanya turun 0,5 poin dari bulan lalu. Bagi kebanyakan siswa, ini hal remeh. Tapi bagi pemegang beasiswa yayasan, turun adalah kata haram. Itu adalah ancaman surat peringatan.
Saat itulah, Lana muncul. Kerumunan otomatis membelah seolah memberi jalan bagi ratu. Gadis itu menatap namanya di urutan paling atas. Namun, tidak ada senyum kemenangan. Wajah Lana justru terlihat kecewa.
"Yah... Matematika cuma sembilan delapan," gumam Lana pelan, jarinya menyentuh kaca. "Salah satu nomor beneran kejadian."
Dada Dewi sesak. Kata "cuma" itu berdenging menyakitkan di telinganya.
"Selamat ya, Wi. Masih betah di peringkat dua," kata Lana ramah, menoleh pada Dewi. Senyumnya tulus, tapi terasa hampa bagi Dewi yang sedang cemas setengah mati.
"Iya. Tipis. Tapi untunglah," jawab Dewi datar. Matanya tak lepas dari papan pengumuman. "Jujur, kadang aku bingung harus kasihan sama siapa."
Lana mengerjap. "Hah? Kasihan sama siapa?"
Dewi akhirnya menoleh. Tatapannya tenang, tapi dingin dan berjarak.
"Sama aku yang harus mati-matian jaga nilai biar tetap bisa sekolah..." Dewi memberi jeda sejenak, menatap Lana dari ujung kaki ke kepala. "...atau sama kamu, yang dapet nilai sembilan delapan tapi masih merasa kurang."
Wajah Lana berubah merah padam. Ia terdiam sejenak, tampak tertampar. "Wi, aku... aku sama sekali nggak bermaksud..."
"Ingat bekal yang kamu buang ke tempat sampah itu? Cuma karena nggak nafsu makan, kamu lempar begitu saja tanpa rasa bersalah."
"Hidupmu bukan berat, Lan. Standarmu yang ketinggian, sampai lupa caranya bersyukur."
Suasana seketika membeku. Lana tampak pucat, seolah baru saja ditampar kenyataan pahit.
Puk!
Sebuah tepukan di bahu membuyarkan segalanya. Dewi tersentak, napasnya agak memburu, tapi pemandangan di depannya kembali normal. Lana masih berdiri di sana, menatapnya dengan wajah bingung, menunggu jawaban.
"Eh... kenapa, Wi? Kasihan sama siapa?" tanya Lana lagi, mengulang pertanyaan yang sama.
Dewi mengerjap, menelan ludah dengan susah payah. Ia memaksakan sebuah senyum tipis yang tampak lelah.
"Nggak apa-apa, Lan. Maaf ya aku malah bengong," jawab Dewi halus, kembali ke dirinya yang pendiam.
Lana hanya mengerutkan kening, tidak curiga sama sekali. "Oh, yaudah deh, aku duluan ya!"
Lana melenggang pergi dengan santai, meninggalkan Dewi yang hanya bisa menghela napas panjang, mengubur semua kata-kata tajam itu jauh-jauh di dalam hatinya.