Suara jarum jam dinding terdengar seperti palu yang menghantam paku.
Tak. Tak. Tak.
Nomor 49. Lana menatap angka itu. Soal ini asing, tapi Lana ingat pernah melihat model soal ini di buku kumpulan soal advance dari bimbingan belajarnya.
Dia tahu rumusnya. Dia tahu.
Tadi, percobaan pertama, jawabannya opsi B. Minus lima. Logis. Rumusnya masuk. Tapi kenapa sekarang rasanya salah? Keraguan mulai menggerogoti kepala Lana. Rasanya soal ini terlalu sulit untuk diselesaikan dengan sekali coba.
Dia menghitung ulang dengan tangan gemetar. Coretannya makin berantakan di kertas buram.
Tunggu.
Hasilnya lima. Positif lima.
Darah Lana berdesir. Mana tanda minusnya? Dia cek ulang. Positif lima lagi. Dia cek sekali lagi dengan panik, kembali ke jawaban awal. Minus lima.
Minus lima. Lima. Minus lima.
Otaknya mendadak macet, terombang-ambing di antara dua angka itu.
"Lima menit lagi! Jangan lupa periksa lagi identitas peserta." Suara pengawas memecah keheningan.
Suasana kelas langsung berubah kacau. Bunyi kertas dibalik dengan kasar, suara bisik-bisik panik, bunyi kaki yang mengetuk-ngetuk lantai. Ritme itu menular. Lana ikut terseret.
Jantung Lana tersentak hebat. Dia harus memilih. Logika pertamanya biasanya benar. Minus lima. Harus minus lima.
Dengan napas memburu, Lana mengarahkan pensil 2B-nya ke bulatan huruf B.
Tapi keraguan di kepalanya merambat turun ke bahu, ke lengan, hingga ke ujung-ujung jarinya. Tangannya tidak stabil. Saat mata pensil itu menyentuh kertas, jemarinya tersentak kecil karena gugup.
Sret.
Lana mematung.
Dia menatap LJK-nya. Di sana, lingkaran opsi B sudah hitam pekat. Tapi karena sentakan keraguan tadi, lingkaran itu tidak sempurna. Ada noda grafit yang mencuat keluar garis batas lingkaran, kira-kira setengah milimeter. Hanya setitik debu hitam yang melenceng di atas kertas putih.
Tapi bagi Lana, noda kecil akibat keraguan itu terlihat sangat kotor. Tidak presisi. Cacat.
Lana melirik penghapusnya. Pikiran Lana langsung melompat ke akhir yang paling buruk. Selalu begitu.
Kalau dia menghapus noda itu sekarang, pasti akan ada bekas noda abu-abu. Kertas LJK itu tipis. Kalau digosok terlalu keras bisa sobek atau menipis, dan scanner komputer akan membaca itu sebagai error.
"Waktu habis! Letakkan alat tulis!"
Jantung Lana tersentak. Tangannya kaku. Ia belum sempat menyentuh penghapus. Jawaban B tetap di sana. Hitam, melenceng, dan mungkin... salah. Seolah menjadi saksi bisu ketidaksempurnaannya.
Selesai sudah.
Lana keluar dari ruang ujian dengan langkah mengambang. Di koridor, suara riuh teman-temannya yang membahas soal terdengar seperti suara ramai di pasar.
"Gila, banyak banget soal jebakan tadi!" seru salah satu siswa laki-laki sambil tertawa lepas.
"Bodo amat, lah! Ngapain dipikirin?" sahut temannya sambil menoyor bahu si pengeluh dengan santai. "Ingat prinsip kita, Bro. DKA. Datang, Kerjakan, Amnesia!"
Tawa mereka pecah, menggema memenuhi koridor.