Nomor 49. Lana menatap layar monitor. Soal ini asing, tapi Lana ingat pernah melihat model soal ini di modul bimbingan belajarnya.
Tadi, percobaan pertama, jawabannya opsi B. Minus lima. Logis. Rumusnya masuk. Tapi kenapa sekarang rasanya salah? Keraguan mulai menggerogoti kepala Lana. Rasanya soal ini terlalu sulit untuk diselesaikan dengan sekali coba.
Dia menghitung ulang dengan tangan gemetar. Coretannya makin berantakan di kertas buram.
Tunggu.
Hasilnya lima. Positif lima.
Darah Lana berdesir. Mana tanda minusnya? Dia cek ulang. Positif lima lagi. Dia cek sekali lagi dengan panik, kembali ke perhitungan awal. Minus lima.
Minus lima. Lima. Minus lima.
Otaknya mendadak macet, terombang-ambing di antara dua angka itu.
"Pastikan semua jawaban sudah tersimpan, periksa indikator warna di tiap soal." Suara pengawas memecah keheningan.
Lana melirik timer disudut layar yang menunjukkan sisa waktu ujian satu menit lagi. Di menit terakhir itu, suasana kelas langsung berubah kacau. Bunyi mouse yang diklik dengan cepat, suara bisik-bisik panik, bunyi kaki yang mengetuk-ngetuk lantai. Ritme itu menular. Lana ikut terseret.
Jantung Lana tersentak hebat. Dia harus memilih. Logika pertamanya biasanya benar. Minus lima. Harus minus lima.
Dengan napas memburu, Lana mengarahkan kursornya ke opsi B. Klik.
Namun, sisa keraguan di kepalanya merambat turun ke bahu, ke lengan, hingga ke ujung jarinya. Secara refleks, telunjuknya bergerak menekan kotak kecil di sudut bawah layar. Tandai Ragu-Ragu.
Lana mematung.
Ia menatap panel navigasi di sebelah kanan layarnya. Di sana, dari lima puluh kotak nomor soal, empat puluh sembilan di antaranya berwarna hijau pekat. Sempurna. Kecuali nomor 49. Kotak itu menyala kuning terang.
Di mata Lana, warna kuning yang menginterupsi lautan hijau itu terlihat sangat kotor. Tidak presisi. Cacat.
Jantung Lana mencelos. Tangannya yang kaku buru-buru mengarahkan kursor untuk menghapus centang kuning tersebut agar semuanya seragam.
Terlambat.
Layar monitor berkedip, memuat ulang dengan logo berputar di tengahnya, lalu memunculkan kotak dialog abu-abu yang mengunci seluruh akses: WAKTU HABIS. JAWABAN TERSIMPAN.
Sistem telah menyimpan jawabannya dengan status ragu-ragu. Status itu kini terekam di server sekolah. Sebuah noda digital yang tidak bisa dihapus.
Selesai sudah.
Lana keluar dari ruang ujian dengan langkah mengambang. Di koridor, suara riuh teman-temannya yang membahas soal terdengar seperti suara ramai di pasar.
"Gila, banyak banget soal jebakan tadi!" seru salah satu siswa laki-laki sambil tertawa lepas.
"Bodo amat, lah! Ngapain dipikirin?" sahut temannya sambil menoyor bahu si pengeluh dengan santai. "Ingat prinsip kita, Bro. DKL. Datang, Kerjakan, Lupakan!"
Tawa mereka pecah, menggema memenuhi koridor.
Lana berhenti sejenak, menatap punggung mereka dengan tatapan aneh sekaligus iri.
Lupakan? Semudah itu?