Suara ketukan pelan sepatu hak rendah Maya sudah lama menghilang dari ruang makan. Lana masih duduk tak bergerak di kursinya, matanya terpaku pada meja marmer yang dingin.
Ia sengaja memberi jeda. Menghitung dalam hati. Sepuluh menit.
Bukan tanpa alasan ia mematung seperti itu. Di rumah ini, rutinitas sepele seperti bangkit dari kursi memiliki aturannya sendiri. Berdiri terlalu cepat setelah suapan terakhir dianggap tidak elegan. Terburu-buru meninggalkan ruang makan bisa diartikan Maya sebagai bentuk pembangkangan terselubung.
Jadi, Lana memilih diam. Ia harus menahan napas dan menunggu. Baginya, mereka mungkin berbagi atap yang sama, tapi jarak keduanya lebih mirip antara prajurit di medan ranjau dan komandan yang siap meledakkannya atas satu kesalahan langkah.
Waktu sepuluh menit biasanya cukup aman. Niat Lana malam ini hanya satu: meluncur cepat tanpa suara ke kamarnya di lantai atas dan mengakhiri hari yang melelahkan ini.
Setelah hitungan kesepuluh menit selesai, Lana bangkit berdiri. Langkahnya diatur seringan mungkin.
Namun, rencananya gagal.
Saat melewati ruang keluarga, Lana menyadari Maya belum naik ke lantai atas. Ibunya duduk tegak di sofa, matanya fokus menatap layar TV besar di dinding yang sedang menyiarkan berita malam.
"Duduk sebentar, Lana." Perintah Maya, tanpa menoleh. Suaranya tidak keras, tapi cukup untuk mengikat langkah Lana seketika.
Lana menelan ludah. Ia mendekat dengan hati-hati dan memilih duduk di sofa lain yang terpisah, menjaga jarak aman dari Ibunya. Posturnya langsung ditegakkan, kedua tangannya bertaut rapi, terkunci rapat di atas pangkuannya.
"Liat itu," Maya memecah kesunyian tanpa mengalihkan pandangan dari TV.
Layar menampilkan headline berita yang berkedip merah: PERAIH MEDALI EMAS OLIMPIADE FISIKA NASIONAL TERJARING RAZIA BALAP LIAR. Ada cuplikan amatir di jalanan protokol yang remang, memperlihatkan deretan motor sport mahal. Di tengah kerumunan, terlihat seorang cewek berseragam sekolah elit yang menunduk saat dibawa petugas. Wajahnya diburamkan, tapi Lana mengenali postur itu. Siswa berprestasi di SMA unggulan saingan sekolah Lana.
Maya meraih gelas air putih di meja sampingnya, menyesapnya sedikit, lalu meletakkannya kembali tanpa suara.
"Kamu lihat bagaimana mereka menulis judulnya, Lana?" suara Maya tenang, nyaris seperti bisikan. "Mereka sengaja membawa-bawa medali emasnya di sana. Bukan untuk memuji apa yang pernah dia capai, tapi supaya orang-orang punya alasan untuk merasa puas saat melihatnya jatuh. Sekarang, orang asing pun akan merasa berhak untuk meludahinya."
Layar berganti ke rekaman paparazzi yang mengejar seorang wanita paruh baya di depan kantor polisi. Wanita itu mencoba menutupi wajahnya dengan tas, terlihat hancur dan dipermalukan.
"Ironis," gumam Maya.
"Iya, Bu. Sayang banget prestasinya ternoda," jawab Lana, otomatis mengikuti pola pikir yang sudah diprogramkan padanya.