Lana berdiri di depan wastafel kamar mandi bawah. Lampu di pinggiran cermin menyala otomatis, cahayanya yang putih tajam tidak mengizinkan adanya bayangan atau pori-pori yang tersumbat.
Lana menekan dispenser sabun antiseptik. Aromanya citrus dingin yang menusuk, tipe bau yang langsung membunuh wangi dunia luar atau sisa debu jalanan. Ia mulai menggosok tangannya. Sepuluh detik. Dua puluh detik. Tiga puluh detik.
Ingatannya mendadak memutar ulang adegan sore tadi. Julian yang berjongkok di tepi trotoar, menunjuk setangkai bunga liar kecil berwarna kuning yang terjepit di antara beton.
"Dia nggak perlu jadi bunga pajangan yang mahal buat dibilang cantik," bisik suara Julian di kepalanya. "Dia keren karena dia kuat. Bodo amat sama tempatnya."
Lana membilas tangannya sampai kulitnya terasa kencang dan sedikit perih. Di dunia Maya, bunga liar itu hama. Sesuatu yang tumbuh liar dan tidak simetris berarti sesuatu yang gagal dikontrol. Lana mengeringkan tangannya dengan handuk microfiber putih yang kaku.
Ia menarik napas, mengatur postur.
Satu—bahu tegak.
Dua—wajah tanpa ekspresi.
Tiga—langkah tanpa suara.
Lana masuk ke ruang makan. Di ujung meja marmer yang luas dan dingin, Maya sudah menunggu. Ibunya tidak bersandar, duduk tegak seolah tulang belakangnya terbuat dari baja. Matanya fokus ke TV di dinding.
"Malam, Bu," sapa Lana.
Maya tidak menoleh. "Duduk."
Lana menarik kursi, memastikan kakinya tidak bergesekan dengan lantai. Di depannya ada Salmon en Papillote. Penuh nutrisi, tapi rasanya datar, persis seperti hidup Lana. Suasana hanya diisi suara denting cutlery perak.
Ting. Ting.
"Liat itu," Maya memecah kesunyian tanpa mengalihkan pandangan dari TV.
Layar menampilkan headline berita yang berkedip merah: PERAIH MEDALI EMAS OLIMPIADE FISIKA NASIONAL TERJARING RAZIA BALAP LIAR. Ada cuplikan amatir di jalanan protokol yang remang, memperlihatkan deretan motor sport mahal. Di tengah kerumunan, terlihat seorang cewek berseragam sekolah elit yang menunduk saat dibawa petugas. Wajahnya diburamkan, tapi Lana mengenali postur itu. Siswa berprestasi di SMA unggulan saingan sekolah Lana.