Lahir Dari Luka

Camèlie
Chapter #5

Bab 5 - Potret Palsu

Jam dinding menunjukkan pukul 01.30 dini hari.

Lana mendesah pelan, memecah kesunyian kamar yang dingin. Tinta pulpen gel hitamnya mendadak macet saat ia sedang mengerjakan soal terakhir di buku latihan soalnya. Ia menggores-goreskannya ke sudut kertas buram, tapi tintanya tetap tidak mau keluar.

Dengan kening berkerut dan sedikit terganggu karena ritme belajarnya rusak, Lana menarik laci meja belajarnya.

Isi laci Lana adalah definisi ketenangan. Semuanya punya tempat. Klip kertas dikelompokkan berdasarkan warna di kotak akrilik sebelah kiri, sticky notes ditumpuk berdasarkan ukuran di tengah, dan deretan alat tulis berbaris lurus di sisi kanan. Pemandangan yang simetris dan selalu memuaskan batinnya.

Tangan Lana terulur hendak mengambil satu pulpen dari barisan itu. Namun, saat jarinya bergerak, ujung kukunya tidak sengaja menyenggol sebuah map plastik bening yang diletakkan di dasar laci. Map itu bergeser, membuat isinya menyembul keluar sedikit.

Gerakan tangan Lana terhenti.

Sebuah ujung kertas foto glossy mengintip dari sana.

Jantung Lana berdesir pelan. Seharusnya foto itu tetap tersembunyi di tumpukan paling bawah. Tapi insiden kecil ini memaksanya untuk melihat.

Perlahan, ditariknya lembar foto itu keluar. Di sana, tercetak gambar dirinya dan Ibunya, Maya.

Dalam foto itu, Maya mengenakan blazer formal berwarna krem. Tangannya merangkul bahu Lana. Keduanya tersenyum lebar ke arah kamera. Terlihat seperti potret ibu dan anak perempuan pada umumnya. Hangat. Dekat. Saling menyayangi.

Namun bagi Lana, foto ini adalah benda paling menyedihkan di kamarnya.

Ini bukan foto asli.

Lana memesannya dari sebuah akun jasa editing di Instagram tiga bulan lalu. "Kak, tolong editin foto ini. Gabungin wajah ibuku ini sama fotoku. Buat seolah-olah Ibu lagi ngerangkul aku," tulisnya kala itu.

Lana mendekatkan foto itu ke wajahnya.

"Orang bilang kita mirip, Bu," bisik Lana pada foto itu, jarinya mengusap wajah Maya yang diambil dari potongan berita online dua tahun lalu. "Tapi kenapa gaada satu pun figur wajah Ibu yang nurun ke aku?"

Di foto manipulasi ini, saat wajah mereka benar-benar bersanding dalam satu frame, terlihat jelas betapa berbedanya mereka.

Maya memiliki wajah yang lembut, mata yang sendu, dan dagu yang bulat feminin. Wajah yang memancarkan keanggunan. Sedangkan Lana? Wajahnya memiliki garis-garis tegas. Rahangnya kuat, hidungnya mancung tajam, dan sorot matanya intens. Wajah orang asing.

Lana menatap nanar foto itu lagi. Senyum palsu Ibunya di kertas itu mengingatkan Lana pada satu kejadian nyata. Momen di mana Maya benar-benar tersenyum hangatn, bukan hasil editan, bukan untuk kamera wartawan.

Ingatan itu mendobrak masuk, merusak ketenangan malam yang coba ia jaga.

10 Tahun Lalu

Hari itu adalah hari pembagian rapot kenaikan kelas 1 SD.

Aula sekolah riuh rendah. Udara terasa lengket. Suara tawa orang tua beradu dengan dengung feedback dari mikrofon.

Lana kecil duduk diam di kursi lipat besi. Kakinya yang pendek berayun-ayun pelan, namun seragamnya tetap rapi tanpa lipatan. Ia memeluk tas ranselnya erat-erat, menahan napas setiap kali suara dari podium terdengar. Lana berharap namanya dipanggil.

"Juara Pertama, dengan nilai rata-rata sembilan puluh delapan... Adelia Putri!"

Tepuk tangan membahana. Seorang anak perempuan bertubuh kecil berlari naik ke panggung. Di belakangnya, ibunya ikut naik, memeluk anaknya erat-erat, mengangkatnya sedikit, lalu menciumi pipi anak itu di depan semua orang.

Lihat selengkapnya