Malam itu, setelah mendengar laporan dari Surti, Maya mendengus pelan.
"Kamu berlebihan, Surti," bantahnya tegas, menolak percaya. "Lana hanya butuh waktu untuk menyesuaikan diri. Fisiknya masih lemas, wajar kalau dia belum banyak bicara atau beraktivitas. Saya akan pastikan sendiri."
Maya berjalan menaiki tangga. Namun, entah kenapa, setiap anak tangga yang ia pijak terasa sedikit lebih berat. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba menyusup ke dadanya, sebuah ketidaknyamanan yang tidak bisa ia jelaskan secara logika. Tapi Maya dengan cepat menepisnya.
Tiba di depan kamar Lana, Maya mengetuk pintu kayu itu.
"Lana?" panggilnya.
Tidak ada sahutan dari dalam. Maya mencoba memutar kenop pintu, bersiap mendobraknya jika terkunci. Namun, kenop itu berputar dengan mudah. Pintunya sama sekali tidak dikunci.
Maya mendorong pintu itu terbuka. Langkahnya seketika terhenti.
Pemandangan di depannya persis seperti yang dikatakan Surti. Di atas kasur, Lana duduk diam, matanya menatap lurus dengan tatapan kosong ke arah dinding tempat cermin besarnya dulu berada.
Melihat kondisi itu, rasa cemas di dada Maya dengan cepat tergeser oleh amarah. Fakta bahwa Lana tidak kunjung bersikap normal melukai egonya. Maya melangkah lebar mendekati kasur, lalu mencengkeram kedua bahu putrinya dan mengguncangnya dengan kasar.
"Lana! Kamu ini kenapa sih?!" suara Maya meninggi, memecah keheningan kamar.
Kepala Lana sedikit bergoyang mengikuti guncangan tangan ibunya, tapi tatapannya tetap kosong. Ia perlahan menoleh, menatap wajah ibunya tanpa emosi sama sekali.
"Apalagi yang kurang, Lana?!" tuntut Maya dengan napas memburu. "Apa yang kamu rasa kurang dari semua yang Ibu kasih ke kamu?! Ibu sudah berikan fasilitas terbaik! Ibu belikan obat yang paling bagus, makanan yang paling sesuai, suasana kamar ini juga sudah Ibu buat senyaman mungkin supaya kamu betah. Tapi kenapa kamu malah bertingkah seperti orang gila?! Seperti orang yang kehilangan akal!"
Lana diam, membiarkan ibunya terus meledak-ledak.
"Kamu tidak perlu berlarut-larut dalam masalah!" lanjut Maya dengan nada makin keras dan memerintah. "Semua sudah Ibu selesaikan! Ibu sudah bilang berkali-kali, Dewi sudah mendapatkan ganjarannya yang setimpal karena ulahnya padamu. Jadi jangan berlaga seolah-olah kamu itu masih menjadi korban di sini. Ibu sudah bereskan semuanya!"
Kamar itu hening sejenak. Hanya napas Maya yang terdengar kasar dan cepat. Alih-alih menangis, berteriak, atau melawan, Lana hanya menatap ibunya dengan wajah yang sedatar tembok. Suaranya saat membalas terdengar sangat pelan, sangat dingin.
"Iya, Ibu. Lana berterima kasih untuk itu."
Jawaban yang terlalu tenang dan hampa itu justru membuat Maya semakin tersinggung. Ia merasa sedang diremehkan oleh putrinya sendiri.
"Terus apalagi yang kamu keluhkan?!" sentak Maya lagi, tangannya mengencang di bahu Lana.
Lana menatap tepat ke dalam mata ibunya. Untuk pertama kalinya, ada sesuatu di balik tatapan kosong itu. Bukan amarah, melainkan rasa muak yang sangat pekat.
"Ibu..." gumam Lana pelan. "Ibu... Ibu... Ibu..."
Maya terdiam, keningnya berkerut tajam.
"Selalu tentang Ibu," ucap Lana datar, suaranya berat dan menohok. "Semua tentang Ibu, tidak pernah tentang Lana. Semua ini hanya atas kendali Ibu. Ibu tidak pernah mau melihat semuanya secara utuh. Ibu cuma melihat apa yang ingin Ibu lihat. Semua hanya Ibu, Ibu, dan Ibu."
Wajah Maya seketika memerah. "Lana, kamu jangan begitu ya! Kamu tidak sepantasnya berbicara seperti itu kepada Ibu! Kamu itu anak, tidak boleh berbicara kurang ajar dan tidak sopan!"
Namun, Lana tidak menunduk takut. Ia justru menarik sebuah senyum kecil. Senyum yang sangat tipis, hampa, dan menyedihkan.
"Ibu..." kata Lana pelan, seolah sedang mengeja kata tersebut di lidahnya. "Dari dulu aku selalu bertanya-tanya. Kenapa dari sekian banyak panggilan, aku harus memanggil orang yang melahirkanku dengan sebutan 'Ibu'?"
Maya tertegun, bingung melihat putrinya mendadak membicarakan hal yang tidak relevan. "Bicara apa kamu, Lana?"
"Ada panggilan Bunda, ada Mama," lanjut Lana, suaranya mengalun dingin di udara kamar. "Tapi kenapa harus Ibu? Panggilan 'Ibu' itu terasa sangat formal? Hanya sekadar bentuk penghormatan untuk orang yang usianya lebih tua. Seperti atasan dan bawahan. Tidak ada ikatan batin di dalamnya. Tidak ada rasa."
Lana menatap ibunya lekat-lekat, menelanjangi pertahanan Maya. "Sekarang aku tahu jawabannya. Karena kata itu memang paling pas. Sama seperti hubungan kita selama ini, Bu."
Napas Maya tertahan di tenggorokan. Ego dan harga dirinya seakan ditampar dengan keras oleh kenyataan pahit itu.
"Kamu jangan ngawur, Lana!" sentak Maya panik, mencoba menutupi rasa syoknya dengan kemarahan.
"Aku tidak ngawur, Bu," balas Lana dengan nada yang terlampau tenang, berkebalikan dengan kepanikan ibunya. "Ibu yang tidak pernah tahu apa-apa. Ibu terlalu sibuk mengatur segalanya sampai Ibu bahkan tidak tahu, kalau semua ini... sama sekali bukan karena Dewi."
Tubuh Maya menegang kaku. Jantungnya berdetak tidak beraturan. Ia menatap Lana dengan kebingungan dan ketakutan yang mulai merayap naik ke kepalanya.
"Apa maksud kamu?" tanya Maya dengan suara yang mendadak tertahan.
Lana membuka laci di meja belajarnya dan mengambil sesuatu.