Lahir Dari Luka

Camèlie
Chapter #8

Bab 8 - Vonis di Meja Mahoni

Pintu ganda dari kayu mahoni itu menjulang tinggi.

Lana berdiri di depannya. Tangannya dingin dan basah. Di balik pintu itu, masa depannya sedang dipertaruhkan. Dan yang lebih menakutkan, ibunya ada di sana.

Tok. Tok.

"Masuk."

Lana memutar gagang pintu.

Begitu ia melangkah masuk, udara terasa berat. Ruangan Kepala Sekolah itu hening, hanya terdengar dengung halus pendingin ruangan.

Di balik meja kerjanya yang luas, Pak Hadi tampak gelisah. Ia berkali-kali membetulkan letak kacamata dan menyeka keringat di pelipis, seolah dialah yang bersalah di sini.

Namun, perhatian Lana langsung tersedot pada sosok yang duduk di kursi tamu.

Maya.

Ibunya duduk dengan postur tegak yang sempurna. Ia mengenakan setelan blazer cream tanpa satu lipatan pun. Tas tangannya diletakkan rapi di pangkuan sebagai benteng. Wajahnya tenang, datar, dan tidak terbaca.

Maya tidak menoleh saat pintu terbuka. Ia bahkan tidak melirik Lana sedikit pun. Matanya lurus menatap dinding kosong, seolah Lana hanyalah debu yang tidak layak dilirik.

"Duduk, Lana," perintah Pak Hadi canggung.

Lana berjalan kaku, lalu duduk di kursi kosong di samping ibunya. Jarak mereka dekat, tapi aura dingin yang menguar dari tubuh Maya membuat Lana merasa terpisah jurang yang dalam.

Pak Hadi menggeser sebuah tablet di atas meja ke hadapan mereka. Video itu ada di sana. Beku dalam mode pause. Wajah yang mirip Lana terpampang jelas.

"Bu Maya," Pak Hadi memulai dengan hati-hati, jarinya mengetuk meja dengan gugup. "Pihak sekolah sangat terpukul. Video ini menyebar cepat. Kami punya aturan tegas soal asusila, Bu. Lana adalah kandidat utama OSN, dan skandal ini... ini mencoreng nama baik yayasan."

Lana panik. Ia langsung mencondongkan tubuhnya, suaranya bergetar. "Pak, itu bukan—" Ia menoleh, mencari setitik perlindungan dari ibunya. "Bu..."

Perlahan, leher Maya berputar, menoleh ke arah Lana.

Detik itu, Lana merasa jantungnya berhenti berdetak. Mata ibunya berbeda. Mata itu tiba-tiba berkabut, gelap, dan penuh teror.

Di retina Maya, ia tidak melihat Lana. Ia melihat bayangan masa lalu yang tumpang tindih dengan sempurna di wajah Lana. Napas Maya mendadak tertahan. Sudut bibirnya bergetar tipis, tangannya mencengkeram tas di pangkuannya kuat-kuat seperti menahan kengerian yang memuncak.

"Ehem."

Suara deheman canggung Pak Hadi memecah keheningan yang mencekam itu.

Sentakan kecil terjadi di bahu Maya. Ia tersentak kembali ke dunia nyata. Dalam hitungan detik, bayangan mengerikan di wajah Lana itu terhapus. Maya menarik napas pelan, dan wajahnya kembali datar, dingin, dan pragmatis. Seolah riak ketakutan barusan tidak pernah ada.

Maya membuang muka dari Lana, menatap lurus ke arah Pak Hadi.

Lihat selengkapnya