Lahir Dari Luka

Camèlie
Chapter #13

Bab 13 - Kepedulian Yang Ganjil

Ceklek.

Suara kunci diputar. Lana menegang, tidak berani bergerak. Ia tetap memunggungi pintu, menarik selimut sampai menutupi telinga. Langkah kaki terdengar mendekat, ritmenya cepat dan menghentak. Aroma kaldu ayam, jahe, dan minyak wijen menguar, menutupi wangi pewangi ruangan di kamar itu.

"Bangun." Suara Maya terdengar datar, diakhiri embusan napas kasar.

Hening sejenak. Lana merapatkan kelopak matanya, enggan merespons. Kepalanya terlalu pusing untuk sekadar membalik badan.

"Lana, bangun. Jangan paksa saya untuk me—" Maya memutus kalimatnya sendiri.

Ada jeda yang ganjil. Lana bisa mendengar ibunya mengambil napas panjang, seolah sedang menahan sesuatu di dadanya. Saat Maya kembali bersuara, nadanya sedikit lebih rendah dan terdengar kaku. "...Maksud Ibu, jangan sampai kamu... semakin sakit."

Bingung dengan nada bicara ibunya yang tak wajar, Lana membalikkan badan dengan sisa tenaga, lalu duduk bersandar di kepala ranjang.

Maya sudah duduk di tepi kasur. Ia meletakkan nampan di nakas dengan gerakan yang terlalu bertenaga, membuat mangkuk keramik di atasnya bergetar. Dada wanita itu tampak naik-turun. Rahangnya mengeras kaku.

Tanpa aba-aba, punggung tangan Maya yang dingin mendarat di dahi Lana.

Sentuhan itu kaku, seperti dokter yang sedang memeriksa pasien.

"Panas sekali," gumam Maya. Ia menarik tangannya cepat, seolah kulit Lana menyengatnya.

"Makan," perintah Maya. Ia meraih mangkuk dan mengaduk bubur itu dengan kasar, membuat sendok beradu nyaring dengan pinggiran keramik. "Kamu pikir orang luar peduli sama kamu? Tidak ada. Kalau kamu sakit dan hancur seperti ini, cuma Ibu yang mau merawatmu. Jangan mau dibodohi apalagi dikasihani laki-laki pengecut yang cuma bisa lempar batu sembunyi tangan."

Lana mengernyit, menahan mual yang menyerang perutnya.

Orang luar? Laki-laki pengecut?Tenggorokannya terlalu sakit untuk merespons kalimat yang tiba-tiba itu.

"Lana nggak lapar, Bu." tolak Lana pelan.

"Harus makan." Maya menyendok bubur itu.

Kemudian, terjadilah pemandangan yang membuat Lana tertegun. Maya meniup bubur itu pelan-pelan. Huuf. Huuf.

Gerakan itu terasa ganjil. Ibunya yang dingin dan kaku kini sedang duduk di tepi ranjang, meniupkan bubur untuknya. Namun tidak ada kelembutan natural di sana. Maya melakukannya dengan rahang terkatup dan wajah tegang. Ia seperti bersusah payah merangkai adegan penuh perhatian, hanya untuk menegaskan bahwa ia bisa menggantikan siapa pun yang menyakiti Lana.

"Buka mulut," titah Maya. Suaranya diusahakan lembut, tetapi sisa emosi di nadanya tak bisa disembunyikan.

Lana menurut, membuka mulutnya ragu-ragu. Udara di kamar itu rasanya berat.

Maya mengulurkan sendok itu. Namun, tepat sebelum menyentuh bibir Lana, tangan ibunya tampak gemetar. Lana mendongak, mencari ketenangan di wajah ibunya. Untuk sedetik, mata mereka bertemu. Namun sedetik kemudian, ekspresi Maya memucat. Tubuhnya sedikit tersentak mundur, seolah melihat sesuatu yang menakutkan di wajah Lana. Wanita itu buru-buru menyendok suapan kedua, membuang wajahnya ke arah mangkuk.

Tiga detik. Selalu begitu. Ibunya tidak pernah sanggup menatap matanya lebih dari tiga detik.

Lihat selengkapnya