Malam itu terasa lebih pekat dari biasanya. Sejak sore, perasaan Lana gelisah tidak karuan. Ada dorongan kuat untuk mencari tahu, tapi semua aksesnya diputus. HP, laptop, semuanya disita.
Pintu kamarnya diketuk pelan. Bik Surti masuk membawa nampan berisi makan malam dan obat-obatan.
"Dimakan dulu, Non Lana. Setelah itu minum obat, lalu istirahat ya, Non." bujuk Bik Surti seraya meletakkan nampan di atas nakas.
Lana menatap makanan itu tanpa selera, lalu beralih menatap Bik Surti.
"Bik..." panggil Lana pelan. "Menurut Bibik, Lana ini mirip siapa?"
Bik Surti tampak terkejut. Tangannya yang sedang merapikan selimut seketika berhenti. Ia memalingkan wajah, pura-pura sibuk menata gelas. "Ya... mirip Ibu toh, Non. Kan Non Lana anaknya Ibu." Suaranya terdengar gugup.
"Masa sih? Atau ada nggak sih Bik, orang lain yang pernah datang ke sini yang bibi tau, yang wajahnya mirip Lana?"
Bik Surti menggeleng cepat. "Ibu mah jarang banget bawa tamu ke rumah, Non. Malah nyaris nggak pernah. Yang rajin ke rumah ini ya paling cuma tukang paket, Non." Bik Surti tertawa sumbang, berusaha mencairkan suasana yang tiba-tiba kaku.
Lana menghela napas panjang. "Bik..." Lana menatap Bik Surti dengan tatapan memelas. "Boleh nggak Lana pinjam HP Bibi malam ini aja? Kepala Lana pusing banget, tapi nggak bisa tidur dari tadi. Biasanya Lana gampang tidur kalau dengerin musik, tapi HP Lana kan disita Ibu."
Bik Surti menatap wajah pucat itu dengan bimbang. Tak tega, ia akhirnya merogoh saku daster dan menyelipkan ponselnya diam-diam ke bawah bantal Lana. "Jangan sampai ketahuan Ibu ya, Non. Bisa diamuk habis-habisan saya."
"Makasih banyak, Bik."
Sepeninggal Bik Surti, Lana tidak memutar musik. Di bawah selimut tebal, dengan cahaya layar yang diredupkan maksimal, jarinya bergerak cepat mengetikkan nama ibunya di mesin pencari. Maya Amalia.
Lana menscroll halaman demi halaman, mencari apapun yang mungkin punya kaitan dengan wajahnya. Tapi nihil. Semua artikel yang muncul hanya berisi profil profesional ibunya: berita bisnis, ekspansi perusahaan, dan wawancara seputar karier.
Lana tidak menyerah. Ia membuka Instagram Ia mencari akun Maya Amalia, mengetuk daftar following, dan mulai membedahnya satu per satu.
Lana berharap menemukan wajah familier, nama belakang yang sama, atau siapa pun yang terlihat seperti kerabat Ibunya. Namun, jejak digital ibunya terlalu steril. Isinya murni portal berita bisnis, kolega, dan brand pakaian kerja. Tidak ada akun keluarga. Tidak ada sahabat. Bersih total, sama seperti di Google.
Lana mendesah pelan, melempar ponsel itu ke samping bantal.
Kalau di internet nggak ada, mungkin petunjuknya ada di rumah ini.
Pikirannya langsung tertuju pada satu ruangan. Lana menyibak selimut, mengendap-endap keluar kamar, dan berjalan menuruni lorong dengan bertelanjang kaki. Dari kejauhan, pintu ruang kerja ibunya tampak sedikit terbuka. Dari celah pintu, terlihat ibunya masih duduk kaku mengetik di antara dokumen dan map-map tebal.
Pasti ada setidaknya satu clue yang nyelip di dokumen-dokumen itu, batinnya. Ia memutuskan untuk kembali ke kamar dan menunggu. Besok adalah waktunya.
Pagi hari menjelang. Rumah sunyi senyap. Deru mesin mobil sedan hitam milik Maya baru saja menghilang dari balik gerbang.
Lana langsung beraksi. Ia mencabut sebuah jepit rambut hitam dari laci meja belajarnya, lalu mengelupas ujung karet pelindungnya. Ia mengandalkan ingatan dari adegan-adegan film untuk membuka pintu ruang kerja ibunya yang pasti terkunci.
Lana berdiri di depan pintu ruang kerja ibunya. Jantungnya berdebar tipis. Ia meluruskan jepit rambut itu, menyisakan sedikit kaitan di ujungnya, lalu memasukkannya ke lubang kunci. Ia mengaduk-aduk asal, memutarnya mencari celah, menggerakkannya naik turun.
Lima menit berlalu.
"Aduh, kok susah banget sih," umpatnya berbisik. Ujung jarinya mulai memerah dan kebas. Di film-film, hal seperti ini cuma butuh dua detik. Rasa frustrasi mulai merayap naik. Ia hendak menarik jepit itu keluar dengan kasar saat tiba-tiba...