Lahir Dari Luka

Camèlie
Chapter #28

Bab 28 - Nyanyian dari Panggung Kecil

Malam itu, setelah keluar dari kamar Lana, Maya tidak kembali mengetuk pintu itu.

Ia masuk ke kamarnya sendiri dan menutup pintu rapat.

Rumah telah tenggelam dalam sunyi. Hanya detak jam dinding dari lorong yang terdengar memecah keheningan.

Maya berhenti di depan lemari pakaiannya.

Tangannya membuka pintu lemari, mengambil setelan kerja yang sudah disetrika rapi sejak beberapa hari lalu, lalu membentangkannya di atas tempat tidur.

Ia merapikan kerahnya.

Mengusap lipatan lengan dengan telapak tangan.

Memeriksa setiap jahitan.

Tak ada yang salah.

Ia tetap melipatnya.

Membukanya lagi.

Melipatnya kembali.

Berulang.

Di meja kerja, tas yang akan dibawanya esok hari telah tertata sempurna. Map berisi dokumen acara CSR perusahaan, kartu identitas, dompet, pulpen—semuanya berada di tempatnya.

Maya memindahkan dompet itu beberapa sentimeter.

Diam.

Lalu mengembalikannya.

Tangannya berpindah ke pulpen.

Sedikit dimiringkan.

Dirapikan lagi.

Begitu terus.

Namun setiap kali tangannya berhenti bergerak, suara Lana kembali memenuhi kepalanya.

"Aku potong nadi ini... karena aku mau buang darah dia."

Jemarinya membeku di atas tas.

Napasnya tertahan.

Beberapa saat kemudian, ia kembali melipat pakaian di atas tempat tidur. Kali ini gerakannya lebih kaku. Lipatan demi lipatan ditekan begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

Subuh datang tanpa terasa.

Maya tidak tidur semalaman.

Pagi harinya, Maya tetap tampil seperti biasa.

Rambutnya disanggul rapi.

Blazer krem melekat pas di tubuhnya.

Sepatu hak tingginya mengilap.

Di depan cermin meja rias, ia mengoleskan lipstik dengan tangan yang nyaris tak terlihat gemetar.

Ia menarik sudut bibirnya perlahan.

Senyum profesional itu kembali terpasang.

Topeng yang telah menemaninya selama bertahun-tahun.

Tak seorang pun akan menduga bahwa semalaman matanya tak pernah terpejam.

Hari itu merupakan peresmian panti asuhan yang dibangun melalui program CSR perusahaan tempat Maya bekerja.

Halaman panti telah dipenuhi tamu undangan.

Balon warna-warni menghiasi panggung kecil di depan gedung.

Di sudut halaman, anak-anak berlarian sambil tertawa, saling mengejar dengan wajah yang berseri.

Maya memperhatikan mereka sekilas sebelum duduk di kursi barisan depan.

Acara dimulai.

Ketua pengurus panti naik ke atas mimbar.

"Anak-anak yang ada di sini adalah anak-anak yang tumbuh tanpa pelukan orang tua," ucapnya pelan. "Sebagian tidak pernah mengenal ayahnya. Sebagian lagi kehilangan ibunya sejak kecil. Ada yang datang ke sini sambil percaya bahwa tidak ada lagi yang menginginkan mereka."

Maya menunduk.

Lihat selengkapnya