Sore mulai merambat ketika mobil Maya berhenti di halaman rumah.
Ia mematikan mesin, tetapi tidak segera turun.
Tangannya masih menggenggam setir.
Beberapa kali ia menarik napas panjang, seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk memasuki rumah yang selama ini terasa begitu dikenalnya, tetapi kini terasa asing.
Akhirnya ia membuka pintu mobil.
Rumah itu sunyi.
Hanya desir angin yang masuk melalui jendela ruang tengah.
Maya melepas sepatunya perlahan.
"Surti?"
Perempuan paruh baya itu keluar dari dapur.
"Iya, Bu."
"Lana bagaimana?"
Surti ragu sejenak sebelum menjawab.
"Dari tadi di kamar, Bu."
Maya mengangguk pelan.
Ia menaiki anak tangga satu demi satu.
Semakin dekat ke kamar Lana, langkahnya justru semakin lambat.
Pintu kamar Lana terbuka sedikit.
Maya berhenti di depannya.
Ia tidak langsung masuk.
Dari celah pintu, ia melihat Lana duduk, bersandar pada sisi tempat tidur. Di sampingnya ada segelas air putih dan obat yang belum diminum.
Lana meraih gelas itu dengan tangan kirinya.
Baru seteguk.
Beberapa tetes air jatuh membasahi nakas.
Lana langsung meletakkan gelasnya.
Ia mengambil tisu.
Satu lembar.
Dilapnya perlahan.
Belum puas.
Ia mengambil lembar berikutnya.
Mengusap lagi sampai nakad kembali benar-benar kering.
Tangannya berhenti.
Matanya menatap titik bekas air itu beberapa detik, memastikan tak ada sisa yang tertinggal.
Barulah ia kembali meraih gelasnya.
Napas Maya tertahan.
Hanya karena beberapa tetes air.
Merapikan.
Mengulang.
Memastikan semuanya sempurna.
Kebiasaan itu hidup pada Lana.
Bukan sebagai kelebihan.
Melainkan seperti beban yang tak pernah ia minta.
Maya menundukkan kepala.
Jari-jarinya perlahan mengepal di sisi tubuh.
Saat itulah Lana mendongak.
Tatapan mereka bertemu.
Tidak ada keterkejutan di wajah Lana.
Ia hanya diam memandang Maya beberapa saat.
Lalu meletakkan tisu itu kembali di meja.
"Kalau mau masuk..." suara Lana pelan, nyaris datar.
"...masuk saja, Bu."
Maya tetap berdiri di ambang pintu.
Untuk pertama kalinya, ambang selebar beberapa sentimeter itu terasa lebih sulit dilewati daripada seluruh perjalanan pulang yang baru saja ia tempuh.
Maya tetap berdiri di ambang pintu.
Untuk pertama kalinya, ambang selebar beberapa sentimeter itu terasa lebih sulit dilewati daripada seluruh perjalanan pulang yang baru saja ia tempuh.