Kelam telah meleburkan segala. Wajahnya berserakan; bahasanya berhamburan. Apakah ia masih punya nama? Sesak tak punya jawaban pada apa-apa yang gagal ia selamatkan. Ia pun jatuh dan terus meluruh dalam ruang mahaluas di sana.
Luluh lantak. Ia telah padam dan terus tenggelam. Tiap partikel dari dirinya mumur berguguran seperti sehelai kertas yang dilebur lautan. Arsip-arsip ingatannya ikut memburai tak tentu arah.
Bayangan sepintas itu membuatnya sadar hal yang ia sesali dan andaikan. Seandainya ia bisa kembali dan memperbaiki serpihan memori yang telah menjadi histori itu; seandainya ia juga bisa membekukan sekeping saja momen euforia bersama keluarganya lalu menetap di sana untuk selamanya. Namun, sang kala enggan bertoleransi. Angan serta inginnya hanya terwujud di alam khayali. Sungguh asa yang utopis, sementara realita menikamnya bengis hingga berakhir tragis.
Lantas di mana kehidupan itu tersisa? Seakan semua cahaya telah terbunuh, tidak ada sezarah pun warna. Hanya legam. Hanya pekat yang rekat dan terus meremuknya. Apakah ini garis penghabisan atau hanya bagian dari kejamnya skenario hidup yang mereka katakan?
Ia tak sanggup lagi. Suaranya telah habis. Ia bahkan tak tahu lagi bagaimana caranya untuk menangis. Dan kematian terdengar seperti akhir yang begitu menawan.
"Ayla."
Samar. Sebuah suara meretak sunyi yang adikuasa benar. Itukah malaikat maut yang memanggilnya? Inikah waktunya ia dijemput lalu dibawa ke tempat orang-orang yang sudah tiada?
Namun, kenapa kegelapan di sekitarnya seakan enggan membiarkannya tiada? Ia terus dibelenggu dengan keberadaan dan kepedihan yang melumatnya habis-habisan tanpa dibiarkan binasa.
Semua itu membuatnya muak. Kenapa ia harus terus hidup jika itu terasa sama saja dengan mati? Kali ini ia berontak, berusaha melepaskan sisa dirinya dari rantai gelap yang kian menyatu dengan darahnya. Perih menjalar tak terkira, seperti dikuliti; seperti dibunuh berulang kali. Namun, itu tak sekalipun membuatnya berhenti.
Berhasil. Ia pun mulai mencengkeram lehernya sendiri. Sudah saatnya segalanya usai. Wujud kegelapan yang kian merupa wajah yang selalu dilihatnya saat bercermin itu tertawa, seakan meremehkan dan menantangnya.