Lakon-Lakon Persona

Zya Zura
Chapter #3

01:「Permulaan Lakon」

Pakai personamu dan jangan biarkan mereka tahu seluruh dirimu yang sebenarnya. Seseorang pernah mengatakan itu padanya. Katanya, manusia perlu memakai persona agar bisa diterima oleh sesama. Sebab, tidak semua bagian dari diri bisa ditunjukkan, ada sebagian hal yang lebih baik disembunyikan.

Bibir mungilnya mengembuskan napas panjang. Ia ingin tahu, apakah itu berarti harus seperti bulan dan sisi gelapnya? Sepasang mata jernihnya mengerjap. Bayangannya yang tersorot pagi kelabu terasa sangat asing dan buram, seperti sesuatu yang bukan miliknya.

Secara ilmiah, bayangan tercipta karena cahaya terhalang oleh sesuatu. Saat cahaya tidak dapat menembus suatu objek, maka permukaan di sisi lain objek yang terkena cahaya akan membentuk bayangan. Namun, ia penasaran apakah malam sebenarnya menyisakan kegelapannya pada bayangan? Apa siang juga menyisakan terangnya pada bulan dan bintang-bintang? Lalu apa artinya dengan mendung?

Angin khas kawasan pegunungan yang segar menusuk meniup tubuhnya yang berseragam sekolah. Telapak tangannya yang dibungkus sarung tangan bergerak merapikan rambut panjangnya. Jemarinya lalu beralih memegang papan nama di seragamnya.

Ayla Amarys. Ia menyentuh tiap huruf nama itu yang jadi identitasnya sekarang. Ibu angkatnya bilang, dunia tidak perlu tahu identitas aslinya. Di tanah Parahiyangan yang konon pernah jadi lautan api ini, ia hanya perlu menjadi dan menjalani hidup normal seperti impiannya sejak dulu.

Normal. Apakah ia sungguh bisa? Ia bahkan terlalu gugup memasuki bangunan menjulang di depan. Tidak ada kanvas biru cakrawala berpoles gumpalan awan yang dibayangkannya akan hadir di hari pertama, hanya ada mendung yang dingin dan pepohonan tinggi yang menyambutnya bisu.

Itu memang masih sangat pagi, tetapi entah kenapa suasananya terlalu senyap. Belum ada orang yang terlihat, meski sudah ada satu dua kendaraan yang terparkir. Kesannya jadi seperti di film horor—yang membuatnya langsung berpikir, jangan-jangan kehidupan sekolahnya akan menyeramkan.

"Kau akan jadi patung atau seorang siswa?"

Ayla meringis. Pertanyaan sarkas itu datang dari sampingnya, datar dan dingin seperti pisau bedah. Ia menoleh. Kakaknya—entah sejak kapan berdiri di sana—balas menoleh tak acuh sambil memasukkan kunci mobil ke saku celananya.

Ringisan Ayla melebar karena kakaknya malah memakai masker, padahal pakaiannya sudah serba hitam. Kalau dilihat dari kejauhan, mereka mungkin akan terlihat seperti penculik dan anak sekolah yang diculiknya, meskipun ia yakin wajah kakaknya jauh dari kesan penculik. Namun, pemuda itu mana peduli. Ia acuh berjalan mendahuluinya yang langsung mengekor.

"Pastikan kau tidak membuat masalah apa pun. Jangan mencolok dan jadilah murid yang biasa saja. Tetap waspada dan jangan terlalu dekat dengan siapa pun. Yang terpenting jangan melanggar batasmu, mengerti?"

Rayn menghentikan langkah. Manik obsidiannya yang tajam menyorot penuh penekanan, memastikan adiknya memahami betul apa yang menjadi kesepakatan mereka. Ayla berhenti bergerak lalu mengangguk patuh, meski tiga detik kemudian ekspresi di wajahnya berubah total.

"Kak, aku tidak usah pakai ini ya?" bujuknya sambil membuka sarung tangan khusus yang dipakainya. Ia pun merapatkan bibir sambil mengedipkan mata berulang kali. "Ini akan membuatku terlihat aneh."

"Apa kesepakatannya?"

Ekspresi imutnya luntur. Ia menggembungkan pipi lalu memakai sarung tangannya lagi. "Pakai ini demi kebaikanku dan-"

PRAK!

Mereka kompak menoleh ke arah sumber suara. Tak jauh dari tempat mereka berdiri, sebuah benda tergeletak. Ayla yang penasaran menghampiri benda itu dan berjongkok melihatnya, sementara Rayn mendongak ke arah tempat kemungkinan benda itu berasal.

"Ini wayang kulit, 'kan?"

"Jangan disentuh."

Ayla menjauhkan tangan enggan. "Aku hanya penasaran dengan bercak-bercak merah di wayang ini. Itu ... seperti darah."

Rayn mendekat lalu mengamati wayang kulit yang tergeletak itu lebih detail. Wajah wayang itu buruk rupa dan mungkin termasuk lakon raksasi. Namun, ganjilnya ada bercak merah dan sayatan-sayatan di tubuhnya. Pemuda bermata elang itu kembali mendongak lalu menoleh ke sekeliling. Ia mencari hal yang mungkin mencurigakan, tetapi ia tak menemukan apa pun atau siapa pun. Semuanya tampak normal dan itu justru membuatnya tidak tenang.

"Kita pulang saja, firasatku buruk tentang rencana ini."

Ayla menganga tak percaya. "Aku akan melaporkanmu pada Ana. Akan kubilang kalau Kakak plin-plan."

"Coba saja, aku punya banyak argumen masuk akal untuk meyakinkannya agar kau kembali sekolah di rumah."

Garis wajahnya langsung menurun dan mata jernihnya ikut mendung seperti langit di atas mereka. Satu, dua, tiga, empat, lima; tidak berubah dan kelihatan makin keruh. Rayn mengalihkan pandangannya lalu menghela napas.

"Sudah, aku hanya bercanda."

"Sungguh?"

Sepasang matanya langsung berbinar lagi. Ia bangun lalu merentangkan tangan. Rayn refleks mundur dan menatapnya tajam.

"Aku juga bercanda," cengir Ayla sambil mengedipkan sebelah matanya sebelum berlari pergi.

Rayn membuang napas pendek lalu menyusul Ayla yang berlari dengan riang. "Dasar. Dia lupa apa sedang memakai seragam apa."


___


Seperti perpaduan daun min dan bunga lili lembah. Ayla yang sudah melambatkan langkahnya karena mengamati sekitar menoleh. Aroma samar itu cukup unik.

Sekitar tiga meter dari tempatnya, tampak seorang gadis berkacamata berjalan berlawanan arah dengannya. Pandangannya lurus ke depan dengan dagu sedikit terangkat. Gerakannya saat melangkah tampak mengesankan—sangat luwes dan tenang, meski tetap menunjukkan kepercayaan diri. Mungkin tak berlebihan menyebutnya seperti aristokrat, apalagi garis wajahnya seakan mempertegas hal itu. Namun, ada hal lain yang terasa lebih pekat saat gadis itu melewatinya.

Sejam setelahnya, Ayla tak menyangka bertemu lagi dengan gadis itu di kelas barunya. Namanya Zoe Hazelynn Kiel. Seperti caranya berdiri dan berjalan tadi, ia duduk di salah satu bangku terdepan dengan punggung tegak dan bahu yang terus tertarik ke belakang.

Ayla tidak bisa menahan diri untuk mengamatinya lebih detail. Para guru yang masuk kelas mengandalkannya, siswa lain juga tampak menyeganinya. Meskipun begitu, gadis itu justru kelihatan terasing dari sekitar.

Seperti dejavu, mungkin karena ia mengingatkannya pada seseorang. Ayla berencana mendekatinya saat istirahat tiba, mungkin mengajaknya bicara tentang topik yang akan disukainya. Ia tampaknya bukan orang yang suka basa-basi.

Saat waktu istirahat akhirnya tiba, gadis itu ternyata berjalan lebih cepat dari perkiraannya. Lalu Ayla malah tertahan oleh beberapa teman kelasnya yang mengajaknya ke kantin bersama. Kesempatan pertamanya hilang. Ia tersenyum canggung pada teman-teman yang mengajaknya dan berusaha menolak sehalus mungkin.

Sebenarnya ia gugup dan masih butuh waktu beradaptasi, meski di sisi lain sangat antusias. Baginya yang sejak kecil terisolasi dari dunia luar, segala hal di sekolah tampak sangat menarik. Beruntung kekhawatirannya dikucilkan orang-orang tidak jadi kenyataan. Para guru dan teman-teman barunya menerimanya dengan baik. Mereka pun tampaknya bisa memaklumi kondisinya yang harus menghindari kontak fisik karena mengidap alodinia.

"Hai, mau keliling lihat-lihat sekolah?" tawar seseorang dengan aksen yang agak Melayu.

Ayla berbalik, tampak seorang pemuda jangkung yang tersenyum ramah. Ia ingat nama pemuda dengan garis wajah lembut yang duduk di bangku belakangnya itu Azran Zaman. Namun sebelum Ayla menjawab, seorang gadis berambut pendek tiba-tiba menimbrung.

"Ayla aja nih?"

"Eh, iya, kamu juga murid baru. Maaf, aku lupa, siapa namanya?"

"Rhea Sheridan," jawab Ayla mewakili gadis itu sambil tersenyum ringan ke arahnya.

Lihat selengkapnya