Gadis itu seperti bintang jatuh, mungkin tidak berlebihan menyebutnya begitu. Kedatangannya menggemparkan. Para penghuni sekolah heboh. Lagi pula, ia tak ubahnya boneka porselen hidup dengan rambut cokelat panjang, tubuh mungil semampai, dan kepribadian yang ramah dan riang. Pesonanya tak terbantahkan, seakan siapa pun akan menyukainya sejak pandangan pertama.
Namun, Ayla tak mengerti kenapa bintang jatuh itu mengorbit lingkar pertemanannya. Seperti istirahat siang itu, ia memilih duduk di meja yang sama dengan mereka.
"Permisi, boleh duduk di sini?"
Ia bertanya sopan sambil membawa nampan berisi sepiring batagor dan jus mangga. Bibirnya melengkung mungil di antara kedua pipinya yang agak berisi. Ayla mulai bergerak tak nyaman, bukan karena kedatangan gadis itu, melainkan karena hampir semua mata di kantin melihat ke meja mereka.
"Boleh banget," jawab Galen usai keterkesimaannya. Ia memberi isyarat pada Ayla dan Rhea untuk bergeser. Lagi pula, siapa yang akan menolak tatapan sepasang mata bundar yang polos seperti bayi itu?
"Eh, punten, namanya tea siapa ya?"
Saka bertanya antusias, padahal semua penghuni sekolah termasuk dirinya sepertinya tahu nama gadis itu.
"Nawang Isvari, tapi panggilnya Iva atau Isvari aja."
Ayla menoleh, berusaha mengalihkan diri dari tatapan orang-orang. Dari samping, garis wajah gadis itu seperti ukiran, apalagi kulitnya nyaris tak bercela. Sejenak ia bertanya-tanya, apa gadis itu sungguhan manusia dan bukan boneka yang dihidupkan? Ia meringis sendiri dengan pertanyaan anehnya. Ia pun hanya maklum tiga teman laki-lakinya jadi lebih heboh sejak kedatangan gadis itu.
"Iva, katanya kamu blasteran surga, ya?"
Isvari tertawa merdu. "Gaklah, ayahku asal Bali kalau ibuku Chindo."
"Dengar-dengar kamu juga pintar nari tradisional, ya?"
"Katanya kamu sering ditawarin jadi aktris?"
"Iva, kalau boleh tahu tipenya kayak gimana?"
"Dia datang ke sini buat makan, bukan mau jawab wawancara dadakan unfaedah kalian," sela Rhea santai lalu menyeruput kuah baksonya.
Galen, Saka, dan Azran kompak terdiam lalu meringis bersamaan.
"Eh, gak apa-apa kok. Aku malah senang bisa ngobrol sama kalian."
Galen sumringah lagi. "Tuh, Re, dia bilang gak apa-apa."
Saat mau membuka mulut lagi, gadget di saku celananya mendadak bersuara keras mengalunkan lagu dangdut koplo. Sepertinya semua orang di meja mereka selain Galen yang melotot dan telinganya memerah kompak tertawa atau menutup mulut geli. Bahkan orang-orang di sekitar mereka juga ikut menoleh. Dengan panik, ia mematikan suara dari gadgetnya.
"Kerjaan lo berdua, ya?" tuding Galen pada Saka dan Azran yang sedang tertawa puas.
Ia rasanya ingin meremas wajah kedua temannya. Bisa-bisanya citra kerennya luntur jadi jamet di depan murid baru yang cantik. Namun, gerakannya urung karena gadgetnya berdering lagi. Panggilan dari Hazel.
"Dengan siswa tertampan di sekolah. Iya, Zel ada apa?"
"Wynorrific ... itu sesuatu yang kelihatan indah dan menyeramkan di saat bersamaan. Jadi, kalau sesuatu kelihatan indah sekaligus menyakitkan itu namanya apa, Gal?"
Ekspresi pemuda itu berubah. Ayla yang masih menyisakan senyum karena insiden tadi ikut terdiam.
"Di mana sekarang?" tanya Galen sambil mencari kunci motor di sakunya.
"Don't look for me. I'm just watching some happy families. See you next week."
Panggilan dimatikan. Galen membuang napas panjang lalu menggaruk rambutnya frustrasi. Pikirannya kacau, ia bahkan lupa si murid baru masih bersama mereka.
"Hazel kenapa?" tanya Azran setelah Galen menegak minumannya dengan gusar.
"Gak tahu."
"Mungkin sebaiknya kita jenguk dia," usul Ayla khawatir.
"Ya, itu sih kalau kita mau diusir pas datang ke sana."
"Kalau begitu, ayo ke sana!" seru Saka bersemangat. "Kalau diusir, kita tinggal ubah haluan ke rumah Mr. Galendra."
"Lo sendiri aja ke sana. Gue mah ogah digegepuk maung karena nekat datang ke sarangnya."
"Oke, ada yang mau ikut?" tanya Saka menatap teman-temannya di meja.
Ayla dan Azran kompak mengangkat tangan, Rhea menyusul setelah menghabiskan minumannya.
"Mmm ... aku boleh ikut gak?" tanya Isvari ragu.
"As your wish, Princess," jawab Saka sambil bergaya seperti petugas kerajaan.
Galen terdiam lalu menatap satu per satu orang di meja mereka. "Memang ya, gue punya teman pada gak beres semua," gerutunya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
___
"Siapa yang suruh kalian datang ke sini?"
Itu sambutan yang diucapkan Zoe Hazelynn saat beberapa orang datang ke halaman rumahnya yang luas. Gadis berwajah aristokrat itu tak sekali pun menunjukkan keramahan, begitu pun dengan rumah bak kastil yang menjulang tinggi nan dingin di belakangnya.
Galen yang takut predikat teman setengah bawahannya dicabut gadis itu segera maju dan menjelaskan maksud kedatangan mereka. "Jadi ... gini, kita ke sini dalam rangka mewujudkan sila ke tiga Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Bahwasannya tidak akan ada persatuan tanpa adanya silaturahmi yang ... yang apa ya?"
Saka menepuk dahinya, Azran segera membisiki Galen lanjutan kalimat yang sudah mereka susun sedemikian rupa.
Hazel memutar bola mata jemu. Dengan tangan terlipat di dada, tatapannya kian sinis memindai tiga orang gadis yang tidak dikenalnya. Ia tidak suka dengan orang asing yang seenaknya masuk ke ranah pribadinya.
Namun, tatapannya berubah saat bertubrukan dengan sepasang mata jernih yang misterius itu. Maniknya yang kelam seperti permukaan sumur yang memantulkan bintang. Meskipun riaknya tampak jernih dan tenang, tidak ada yang tahu seberapa dalam, pekat, atau berbahayanya sumur itu.
Hazel mengerjap. Jelas ia masih ingat apa yang dilakukan gadis itu beberapa hari yang lalu.
"Intinya ... silaturahmi mesti dilaksanakan untuk menjaga kesatuan NKRI dan-"
"Ke tempat biasa."
Setelah mengucapkan itu, Hazel masuk ke dalam mobil Galen. Gadis itu duduk di jok depan penumpang dan ketiga teman laki-lakinya segera mengekor masuk, begitu pun dengan tiga orang lainnya.